Ulama Gaza kepada Relawan RSI: Kalian Terpilih

Ulama Gaza Syeikh 'Aathof Mahmud Hesyam Abu Bakar (kiri) menyampaikan tausiyah kepada para relawan asal Indonesia di Wisma Indonesia, dekat Rumah Sakit Indonesia, Jumat, 7 Februari 2020. (Foto: Edy Wahyudi/MER-C)

Oleh: Sakuri, Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek

 

Ulama Gaza Syeikh ‘Aathof Mahmud Hesyam Abu Bakar memberikan apresiasi kepada para relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Tahap 2 di Gaza, Palestina, sebagai orang yang terpilih dari sekian ratus juta umat Islam di Indonesia.

“Hormat dari saya dan hormat dari warga Gaza, Palestina, juga untuk kalian semua sebagaimana kalian semua tentunya juga mencintai dan menghormati bumi yang diberkahi ini, Palestina khususnya Gaza,” kata Syeikh ‘Aathof kepada para relawan.

“Dan kalian telah dipilih dari ratusan juta umat Islam di Indonesia. Kalian terpilih dapat hadir di tempat ini semata mata adalah karunia dari Allah subhanahu wa Ta’ala”, kata alumni Univeristas Islam Gaza dan Universitas Madinah Arab Saudi dengan predikat mumtaz itu.

Hal itu ia ungkapkan kepada para relawan pembangunan RSI saat memberikan materi kajian ilmu dengan tema “Kemuliaan Masjid Al-Aqsa di Palestina”, bakda shalat asar hari Jumat, 7 Februari 2020 lalu di Wisma Indonesia yang bersebelahan dengan RSI.

Menurutnya, merupakan penghormatan bagi dirinya, ayah yang memiliki sembilan anak laki-laki dan lima anak perempuan, karena dapat berkumpul bersama dengan saudara-saudara dari Indonesia yang telah dengan rela hati menempuh perjalanan yang begitu jauh dari Indonesia ke Palestina berada bersama di bumi yang diberkahi Allah tersebut.

Pada 22 Februari 2019, 28 relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia diberangkatkan oleh lembaga medis kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) ke Gaza, Palestina. Kini hampir setahun lamanya mereka meninggalkan keluarga, istri anak dan negaranya sebagai relawan guna menyempurnakan pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang sudah ada.

Syeikh ‘Aathof mengatakan, rumah sakit itu tentunya menjadi bukti amal jariyah umat Islam Indonesia dan bukti amal jariyah bangsa Indonesia untuk saudara-saudaranya di Palestina.

“Sesungguhnya dari hati kecil kami yang paling dalam dan ini bukan ‘mujamalah‘ (bukan membagus-baguskan) tapi saya dan rakyat Palestina sungguh banyak belajar dari rakyat Indonesia dari sisi ‘nidzhom‘ (keteraturan) dan ‘ihtirom‘ (kemuliaannya), ketertibannya dan saya lihat bukti nyatanya saat ibadah haji,” kata Syeikh yang juga imam Masjid Rubaa itu.

Masjid Rubaa terletak di dekat Rumah Sakit Indonesia.

“Setiap kali melihat rombongan dari Indonesia, baik laki-lakinya maupun perempuannya, mereka itu bergerak sangat rapi, tertib dan teratur terpimpin oleh pimpinan rombongannya. Mereka bergerak seperti satu tubuh dan kami menyebutnya sebaik-baik warga itu adalah warga Indonesia,” kata Syeikh yang megaku sudah empat kali melaksanakan ibadah haji.

Berkaitan kajian ilmu dengan tema “Kemuliaan Masjid Al-Aqsa di Palestina”, Syeikh ‘Aathof menyampaikan Masjid Al-Aqsa sejak dikuasai oleh Yahudi maka Al-Aqsa dalam bahaya.

Terjadi penggalian di bawahnya dan upaya peruntuhan Al-Aqsa pada waktu yang telah mereka rancang yang waktunya telah mereka tentukan.

Pernah terjadi juga pada tahun 1969, Masjid Al-Aqsa dibakar dan terbakar pula mimbar Salahudin Al Ayubi.

Saat itu terjadi pada masa Arab Saudi dipimpin oleh Raja Faisal dan Israel dipimpin oleh Golda Meir, seorang perempuan sebagai Perdana Menteri keempat Israel pada periode 17 Maret 1969 – 3 Juni 1974.

Saat kebakaran terjadi di Masjid Al-Aqsa mereka ketakutan sekali, malam itu sampai banyak pimpinan Israel tidak bisa tidur karena mereka menduga umat Islam akan mengamuk, akan datang umat Islam besar-besaran bersama-sama dari berbagai daerah, bahkan mungkin dari negara-negara tetangga marah akan menuntut atas pembakaran Masjid Al-Aqsa.

Namun ternyata tidak terjadi apa-apa, kecuali hanya kecaman-kecaman lisan mengutuk. Akhirnya pagi harinya penguasa Israel tertawa, ternyata umat Islam tidak melakukan apa-apa padahal tempat tersucinya yang berada di Palestina dibakar, menunjukan bahwa kondisi umat Islam benar-benar dalam keadaan lemah karena tidak memberikan respon.

“Al-Aqsa adalah ruh kita, akidah kita dan syariat agama kita, jadi bukan masalah tanah, bukan masalah tempat saja,” kata Syeikh ‘Aathof yang saat ini sebagai dosen untuk para pengajar / Training of Trainer (TOT) dan guru di Madrasah Aliyah.

Selanjutnya ia membeberkan alasannya. Pertama, Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama kaum muslimin sebelum Ka’bah di Makkah.

Tiga tahun Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya di Makkah shalatnya berkiblat ke Al-Aqsa, kemudian 16 sampai dengan 17 bulan di Madinah beliau masih berkiblat ke Al-Aqsa.

Jadi, bila ada pertanyaan berapa lama umat Islam berkiblat ke Al-Aqsa, maka jawabannya empat tahun dan empat bulan.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam merasakan kegelisahan berkiblat ke Al-Aqsa karena orang-orang Yahudi di Madinah satu dan lainnya berbicara mengejek, “Lihatlah Muhammad itu bersama pengikutnya, mereka tidak mau dengan agama Yahudi tapi berkiblat kepada kiblat atau tempat kita ke Al-Aqsa.”

Lalu Nabi Muhammad meminta kepada Allah agar kiblat dapat dirubah dan akhirnya Allah tetapkan kiblat berubah dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

Harapan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ini dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firman-Nya yang artinya, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 144).

Alasan kedua, Masjid Al-Aqsa menjadi tujuan isra’ Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ini diterangkan di dalam firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Isra’ ayat 1).

Peristiwa isra’ dan mi’raj adalah dua jenis perjalanan, yaitu ufuqiyah (perjalanan datar) dan amutiyah (perjalanan lurus ke atas).

Ufuqiyah yaitu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan amutiyah adalah perjalanan dari Masjidil Aqsa ke langit yang ketujuh, yaitu Sidratul Muntaha.

Pertanyaanya: kenapa tidak langsung dari Makkah ke langit yang ke tujuh?

Maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah Allah ingin mengikat antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa dalam satu ikatan.

Allah ingin memuliakan Masjidil Aqsa semulia Masjidil Haram. Allah ingin bila Masjidil Haram dicintai oleh Muslimin maka Allah juga ingin agar Masjidil Aqsa dicintai sebagaimana muslimin mencintai Masjidil Haram.

Kalau Masjidil Haram benar-benar berada di hati umat Islam, maka Allah juga ingin Masjidil Aqsa berada di hati umat Islam.

Tetapi ini belum menjadi realita karena banyak Muslimin bila ditanyakan tentang Al Aqsa saja tidak mengerti, di kota mana, di negeri mana tidak tahu, bahkan nama Al Aqsa ada yang baru mendengar. (A/SR5/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)