Wahyudi KS : Kaum Muslimin Harus Bersatu di bawah Satu Pemimpin

wahyudi ks
wahyudi ks
(dok. MINA)

Bandung, 27 Jumadil Awwal 1437/6 Maret 2016 (MINA) – Amir Tarbiyah Jamaah Muslimin (Hizbullah), Wahyudi KS mengatakan, kaum Muslimin harus bersatu di bawah satu kepemimpinan untuk mewujudkan persatuan umat yang dahulu pernah ditapaki oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya.

“Khilafah muncul sebagai pemersatu umat. Para penegak khilafah adalah orang-orang pilihan Allah Ta’ala. Kita bisa lihat dari apa yang terjadi di zaman Rasulullah dan para shahabatnya,” kata Wahyudi KS saat acara Menjemput Hidayah bertema “Mengenal Lebih Dekat Al-Jamaah” yang digelar di SMA Alfa Centauri Bandung, Ahad.

Pada kesempatan itu, ia memaparkan bahwa sejak dahulu, orang-orang yang Allah Ta’ala pilih untuk menegakkan Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah terus berupaya menjaga agar peradaban umat ini tidak bergeser dari jalur yang semestinya.

“Ketika Umar bin Abdul Aziz memimpin umat ini selama kurang lebih 2,5 tahun, beliau berusaha mengembalikkan sistim khilafah yang lebih mengedepankan manhaj kenabian dan khulafaur rasyidin,” ujarnya.

“Umar bin Abdul Aziz memiliki model kepemimpinan mirip seperti Umar bin Al-Khattab, dan keilmuannya lebih mendekati HasanAl-Bashri,” imbuhnya.

Menurutnya, pergeseran sistem kepemimpinan sudah terjadi sejak lama.

“Kita bisa lihat di zaman Ali bin Abu Thalib yang berganti kepada Muawiyah, ini adalah pergeseran sistim kepemimpinan yang diiringi dengan pergeseran pemahaman dari khilafah ke kerajaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, penyimpangan pemahaman dari khilafah kepada kerajaan semakin jauh ketika buku-buku politik Yunani kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari oleh kaum Muslimin.

“Penyimpangan pemahaman tentang khilafah semakin jauh ketika Hunain bin Ishaq, seorang ilmuwan Nashrani yang difasilitasi oleh dinasti Abbasiyah menerjemahkan buku Politica yang kemudian diterjemahkan menjadi “As-Siyasah”,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Wahyudi, umat Islam harus kembali kepada metode kepemimpinan yang dahulu ditapaki oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya adalah hidayah, dan menyelisihi mereka adalah sebuah kesesatan,” pungkasnya. (L/P011/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)