Ulama Palestina: Meski Gaza Diblokade, Keberkahan Allah Tetap Terbuka (Oleh: Sakuri)

Oleh: Sakuri, Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek

 

Syeikh ‘Aathof Mahmud Hesyam Abu Bakar, ulama Palestina di Gaza, melanjutkan materi kajian ilmu kepada para relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tentang “Kemuliaan Masjid Al-Aqsa di Palestina”.

Bertempat di Wisma Indonesia yang bersebelahan dengan RSI pada bakda shalat asar hari Jumat, 7 Februari 2020, Syeikh ‘Aathof menjabarkan alasan mengapa Al-Aqsa adalah “ruh, akidah kita dan syariat agama kita, jadi bukan masalah tanah, bukan masalah tempat saja.”

Pada tulisan sebelumnya berjudul “Ulama Gaza kepada Relawan RSI: Kalian Terpilih”, telah disebutkan dua alasan umat Islam harus berjuang membela dan membebaskan Masjid Al-Aqsa, yaitu pertama Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama kaum muslimin sebelum Ka’bah di Makkah, kedua Masjid Al-Aqsa menjadi tujuan isra’ Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Selanjutnya Syeikh ‘Aathof menjelaskan alasan ketiga, yaitu Al-Quds adalah Al-Barokaat, yaitu bumi yang diberkahi-diberkahi, ditulis dengan kata jamak.

Keberkahan Bumi Al Quds disebutkan pada lima ayat di dalam Al-Quran, yang terjemahnya berbunyi:

1. “…..dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang diberkahi sekelilingnya …..“ (QS. Al-Isra [17]: 1).

2. “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (QS. Al-Anbiya [21]: 71)

3. “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Anbiya [21]: 81)

4. “Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.” (QS Saba [34]:18)

5. “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS Al Araf [7]:137)

Kemudian keberkahan juga berlaku di Gaza ini karena juga bagian dari Negeri Syam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kafalaha (mencukupkannya) bahwa Allah menjadi kifal (penanggung rezeki) dari penduduk Syam sekalipun hisyar (blokade) diterapkan di Gaza sedemikian rupa dari 2007 hingga saat ini atau 13 tahun lamanya ditutup pintu-pintu masuk darat, laut dan udara.

Selanjutnya Syeikh ‘Aathof mengisahkan, dahulu saat masih muda ia menggarap sawah ladang miliknya, tetapi sekarang propertinya itu di bawah penguasaan Zionis.

Dahulu masih bisa pulang balik dari Gaza ke sawah ladangnya itu. Kini tidak bisa lagi karena akses untuk kesana ditutup Zionis.

“Silakan semua pintu ditutup, darat, laut dan udara, akan tetapi tidak akan bisa menutup pintu keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kata Syeikh ‘Aathof penuh optimis.

Keyakinannya terhadap rahmat Allah seratus persen.

Nyatanya hal itu bisa ia buktikan. Ia mengungkapkan, dirinya tidak pernah tidak makan ketika akan tidur malam.

“Itu artinya rezeki itu Allah yang mengatur,” katanya.

Meski Gaza diblokade sedemikian rupa oleh musuh-musuh Allah, akan tetapi pintu dari Allah tetap terbuka.

Alasan keempat, Al-Quds disebut juga Ardlu Anbiya atau Bumi Para Nabi.

Nabi Yakub dan anak-anaknya hidupnya di Palestina sebagaimana juga Nabi Sulaiman, Nabi Isa, dan Nabi Ibrahim.

Bahkan Nabi Ibrahim kuburannya ada di kota Al Khalil yang penamaan kota itu berasal dari gelar Nabi Ibrahim, beliau bergelar Khalilul Rahman atau “kekasih Allah”.

Disebut sebagai Bumi Para Nabi karena Nabi Muhammad pernah sewaktu kecil diajak pamannya Abu Thalib untuk berdagang di Al-Quds.

Pernah suatu hari Abu Thalib masih mengurus urusannya sedang Muhammad kecil ditinggal bersama barang-barang dagangan milik pamannya itu.

Lalu ada pendeta yang mendatanginya dan saat melihat wajah Muhammad kecil lalu dia berkata, “sesungguhnya dia (Muhammad) adalah calon nabi.” Itu dikenali betul oleh mereka para pendeta.

Jadi Nabi Muhammad pernah dua kali ke Al-Quds yang pertama saat masih kecil ketika dibawa berdagang oleh pamannya, yang kedua adalah di saat isra‘. (A/RS5/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)