Umar bin Khattab, Ketegasan dan Keutamaannya

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Betapa banyak tokoh kaum Muslimin dahulu kala yang  bisa menginspirasi perjuangan kaum Muslimin hari ini demi tegaknya nilai-nilai Islam di muka  bumi ini. Salah satu tokoh yang nama dan karya-karya monumentalnya memberi banyak pelajaran kepada kaum Muslimin hari ini adalah Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ’anhu. Dialah salah satu khalifah Islam di antara empat khalifah yang sudah dijamin surga meskipun ia masih tinggal di muka bumi.

Dalam tulisan singkat ini, akan dibahas bagaimana ketegasan seorang Umar bin Khattab dan beberapa keutamaannya. Kala itu, Khalifah Umar berkhutbah di hadapan manusia untuk pertama kalinya sejak mendapat amanah sebagai khalifah seraya mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa manusia takut terhadap ketegasanku dan takut terhadap kekerasanku.”

Mereka mengatakan, “Umar bersikap keras kepada kita ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih berada di tengah-tengah kita. Kemudian dia bersikap keras kepada kita ketika Abu Bakar menjadi pemimpin kita; lalu bagaimana halnya jika dia menjadi pemimpin?”

“Siapa yang mengatakan demikian, maka ia berkata benar. Sesungguhnya aku bersama Rasulullah – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai hamba dan pelayannya, dan beliau adalah orang yang sifatnya tidak melampaui dari kelunakan dan kasih sayang. Allah telah memberinya nama demikian, dan memberikan kepadanya dua nama dari nama-nama-Nya: Ra’uf  Rahim (yang belas kasih dan penyayang). Sedangkan aku adalah pedang yang terhunus, hingga beliau menyarungkan aku atau membiarkanku. Aku terus seperti itu hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat dalam keadaan beliau ridha kepadaku, alhamdulillah.

Dan aku sangat berbahagia dengan hal itu. Kemudian Abu Bakar memimpin urusan kaum Muslimin, dan dia adalah orang yang tidak kalian pungkiri kemurahan dan kelembutannya. Aku sebagai pembantunya dan pembelanya, aku campurkan kekerasanku pada kelembutannya. Aku adalah pedang yang terhunus hingga dia menyarungkanku atau membiarkanku, dan aku terus seperti itu. Aku tetap demikian bersamanya hingga dia wafat dalam keadaan ridha kepadaku, dan aku sangat bahagia dengan hal itu.

Kemudian aku memimpin urusan kalian, wahai manusia, dan ketahuilah bahwa kekerasan ini semakin bertambah berlipat-lipat, tetapi itu hanyalah berlaku atas kezaliman dan melampui batas terhadap kaum Muslimin.

Adapun ahli keselamatan, agama dan keutamaan (yakni, kaum yang taat beragama), maka aku lebih lunak kepada mereka daripada sebagian mereka atas sebagian yang lain. Aku tidak membiarkan seseorang menzhalimi selainnya atau melampui batas terhadapnya, hingga aku meletakkan pipinya di atas tanah dan aku meletakkan telapak kakiku di atas pipinya yang lain hingga ia tunduk kepada kebenaran.

Kalian mempunyai hak terhadapku, wahai manusia, beberapa perkara yang akan aku sebutkan kepada kalian, maka ambillah hal itu dariku: Kalian punya hak terhadapku agar aku tidak menyembunyikan sedikit pun dari pajak kalian, yaitu harta rampasan (tanpa melalui peperangan, fai’) kecuali karena wajah-Nya. Tetapi aku berhak, jika harta itu aku peroleh, untuk tidak dikeluarkan kecuali dengan haknya. Kalian punya hak terhadapku agar aku tidak mencampakkan kalian dalam kebinasaan. Jika kalian ingin bepergian, maka aku adalah bapak keluarga yang ditinggalkan hingga kalian kembali kepada mereka. Aku cukupkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.” [Umar ibn Al-Khaththab Al-Watsiqah Al-Khalidah li ad-Din Al-Khalid, Abdul Karim Al-Khathib].

Lalu bagaimana dengan para pemimpin kaum Muslimin  hari ini? Adakah pemimpin yang setegas Umar bin Khattab hari ini?

Keistimewaan dan Keutamaannya

Pertama, Umar adalah Penduduk Surga yang Berjalan di Muka Bumi

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ia bersabda, “Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga.  Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (surga), maka aku pun bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’

Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.” Umar radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata, “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah.”

Allahuakbar! Umar belum lagi pergi meninggalkan dunia dan ia masih hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya, tapi istana untuknya telah disiapkan di surga.

Kedua, Mulianya Islam dengan Perantara Umar

Dalam sebuah hadisnya Rasulullah Shallallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengabarkan betapa luasnya pengaruh Islam di masa Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Beliau bersabda, “Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’ala mengampuninya-.

Setelah itu datanglah Umar bin al-Khattab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk onta-onta mereka.”

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Kami menjadi kuat setelah Umar memeluk Islam.”

Ketiga, Kesaksian Ali bin Abi Thalib Tentang Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, “Umar radhiallahu ‘anhu ditidurkan di atas kasurnya (menjelang wafatnya), dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya mendoakan sebelum dipindahkan –ketika itu aku hadir di tengah orang-orang tersebut-. Aku terkejut tatkala seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib.

Kemudian Ali berkata (memuji dan mendoakan Umar seperti orang-orang lainnya), “Engkau tidak pernah meninggalkan seseorang yang dapat menyamai dirimu dan apa yang telah engkau lakukan. Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, aku sangat yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar).

Aku sering mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.”

Keempat, Umar adalah Seorang yang Mendapat Ilham

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapakannya, maka Umarlah orangnya.”

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi. Jika salah seorang dari umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya.”

Kelima, Umar  adalah Orang yang Berwibawa

Dari Aisyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.” (HR. Tirmidzi dalam al-Manaqib, hadits no. 3791)

Siapa yang tidak mengenal Khalifah Umar bin Khattab? Di jamannyalah Islam dakwah Islam mulai dilakukan secara terang-terangan. Dialah salah seorang Khalifah Islam yang senantiasa mendapat petunjuk dan  bimbingan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga kita selalu bisa memetik hikmah dari kisah Umar bin Khattab. Wallahua’lam. (R02/P4)

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)