Umat Kristiani Palestina Kecam Keputusan Trump

Umat Kristiani Palestina mengecam keputusan Trump (Foto: Aljazeera)

Yerusalem, MINA – Pemimpin umat Kristiani Palestina telah menolak dan mengecam keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan menyebutnya sebagai keputusan yang “berbahaya” dan “menghina”.

Pengumuman 6 Desember Trump telah memicu protes di seluruh dunia Muslim dan mendapat kecaman internasional.

Langkah AS menyinggung “orang Kristen dan Muslim di seluruh dunia yang menganggap Yerusalem sebagai inkubator warisan spiritual dan nasional mereka yang paling suci”, Atallah Hanna, uskup agung gereja Ortodoks Yunani Yerusalem, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (24/12).

“Kami, orang-orang Palestina, Kristen dan Muslim menolak pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” tambahnya.

Komentarnya muncul saat orang-orang Kristen Palestina pada hari Ahad (25/12) ikut serta dalam perayaan yang berlangsung pada malam Natal.

Hode Abdel-Hamid dari Al Jazeera yang dikutip MINA melaporkan dari Bethlehem, banyak umat Islam juga menghadiri acara tahunan tersebut dalam sebuah pertunjukan solidaritas melawan keputusan Trump.

Maher Canavati, anggota dewan lokal Bethlehem, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa perayaan tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan “pesan damai, cinta dan pengertian”.

“Kami menginginkan perdamaian dengan tetangga kami, (tapi) kami harus bisa berbagi Yerusalem dan memiliki akses mudah ke Yerusalem sebagai orang Palestina (juga),” katanya.

Betlehem, yang biasanya dipenuhi turis pada saat ini, hampir kosong pengunjung dalam beberapa hari terakhir karena adanya konfrontasi antara pasukan Israel dan pemrotes Palestina setelah keputusan AS tersebut.

“Sayangnya, setelah pernyataan Donald Trump, banyak orang yang tidak yakin tentang keamanan di daerah ini. Banyak dari mereka yang berada di negara tersebut tidak sampai di Bethlehem, mereka tinggal di Yerusalem dan di bagian utara negara tersebut,” kata Canavati.

Sementara itu di Jalur Gaza yang terkepung, orang-orang Kristen Palestina mengadakan sebuah usaha untuk mengungkapkan dukungan mereka terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.

Malcolm Webb dari Al Jazeera melaporkan dari Gaza, kemarahan atas keputusan Trump ditunjukkan oleh orang-orang Kristen dan mayoritas Muslim yang tinggal di wilayah yang terkepung tersebut.

“Setiap orang yang kita ajak bicara di sini sangat menentang tindakan AS dan mereka mengatakan bahwa hal itu hanya menambah frustrasi kehidupan di sini,” katanya.

Blokade Israel di Jalur Gaza, dalam bentuknya saat ini, telah berlangsung lebih dari 10 tahun. Isolasi Gaza telah menghancurkan ekonominya, memiskinkan sebagian besar dua juta orang di Jalur Gaza, dan membiarkannya tanpa pasokan listrik, air dan kesehatan yang memadai.

Sejak 2007, Israel telah meluncurkan tiga perang ke Jalur Gaza. Sekitar 1.000 orang Kristen tinggal di Jalur Gaza, kurang dari setengah jumlah 10 tahun yang lalu.

Menurut sosiolog Samir Quta, banyak keluarga Kristen telah meninggalkan Gaza dalam beberapa tahun terakhir demi mencari keamanan dan kebutuhan finansial.

“Keluarga Kristen di Gaza biasanya memiliki tingkat sosio-ekonomi yang tinggi, dan semakin banyak orang memiliki pilihan dan uang, semakin mereka mencari kehidupan yang lebih baik,” katanya kepada Al Jazeera.

“Ini tidak tersedia di Gaza, bahkan dengan uang di Gaza, Anda tidak bisa memiliki kehidupan yang baik.” kata Rosette Saygh, seorang Kristen yang masih tinggal di Gaza. Ia menambahkan bahwa wilayah tersebut telah menjadi seperti “penjara” bagi mereka yang tertinggal.

“Hidup sangat sulit di Gaza, kita hidup dalam pengepungan dan kita tidak bisa bergerak ke mana-mana … Kita telah menyaksikan banyak perang, selama pengeboman kita harus tidur di gereja untuk keselamatan,” katanya. (T/B05/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)