Uni Eropa Ingin Perkuat Kemitraan Pertahanan dengan Indonesia

Jakarta, MINA – Uni Eropa ingin memperkuat kemitraan di bidang pertahanan dan keamanan dengan tiga negara Asia, yaitu Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia.

Upaya Uni Eropa ini sebagai bentuk kerjasama untuk menghadapi ancaman global dan menjaga stabilitas dunia dalam mewujudkan perdamaian.

Hal tersebut mengemuka saat diskusi publik terkait percepatan kerja sama antara Indonesia dengan Uni Eropa dalam bidang keamanan dan pertahanan yang digelar Centre for Strategic and International studies (CSIS) di Jakarta, Jumat (30/11).

Indonesia menjadi satu-satunya dari negara ASEAN yang dilirik Uni Eropa dalam upaya peningkatan sektor keamanan dan pertahanan. Sementara dua negara lainnya yang dibidik adalah Korea Selatan dan Jepang yang merupakan negara di wilayah Asia Timur.

“Alasan kami memilih ketiga negara di Asia, salah satunya Indonesia, adalah karena kemakmuran kami sangat bergantung kepada Asia, sehingga kemakmuran dan keamanan di Asia memiliki hubungan langsung dengan kemakmuran dan keamanan kami. ASEAN merupakan mitra dagang ketiga kami (Setelah Amerika Serikat dan Tiongkok),” kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Guerend disela acara diskusi publik.

Vincent menyebutkan, Indonesia memiliki kesamaan dengan Uni Eropa dalam hal pertahanan dan keamanan, karena tantangan dan ancaman keamanan yang sama dengan jarak dan perbatasan yang hanya menyediakan ilusi perlindungan.

Selain itu, Indonesia dan ASEAN memiliki peranan penting dalam perdagangan internasional dengan kedaulatam maritimnya.

“Tidaklah mengherankan bahwa Uni Eropa ingin mempromosikan tata pemerintahan dan aturan yang baik dalam laut, kebebasan navigasi, dan penghormatan terhadap hukum dan mekanisme internasional untuk menyelesaikan perselisihan apa pun,” ujarnya.

Uni Eropa juga akan membantu Indonesia untuk memerangi ancaman terorisme dan radikalisme, ancaman keamanan siber dan hibrida, risiko senjata kimia dan biologi, serta potensi penyalahgunaan teknologi nuklir. Ia menambahkan bahwa Indonesia merupakan mitra yang kuat karena konsistensinya dalam menjaga perdamaian dunia.

Menanggapi hal tersebut, Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (SESKOAL), Laksamana Muda Amarulla Oktavian, mengatakan Indonesia dan Uni Eropa memiliki kesempatan untuk memperluas kerja sama keamanan maritim serta menambahkan inisiatif baru dengan dukungan Framework Agreement tentang kemitraan dan kerja sama yang komprehensif antara kedua pihak.

Peneliti CSIS Indonesia, Shafiah Muhibat, mengatakan, tantangan yang dihadapi oleh dunia saat ini bukan dari kekerasan fisik melalui militarisme, melainkan aspek-aspek lainnya.

Salah satunya menurut dia yakni meningkatnya tensi ketegangan nuklir yang menyebabkan ketidakpastian global.

Indonesia dan Uni Eropa telah memiliki beberapa kerja sama di berbagai bidang. Kerja sama di bidang politik keamanan dilakukan dalam bentuk aktivitas-aktivitas tertentu dan dialog yang bertujuan untuk melawan terorisme dan deradikalisasi, keamanan maritim, pencegahan obat-obatan terlarang, melawan kejahatan transnasional dan lintas batas, anti korupsi, bina damai, dan manajemen bencana.

Dalam bidang kemanusiaan, Indonesia dan Uni Eropa telah menyelenggarakan dialog resmi yang pertama kali diselenggarakan di tahun 2009. Dialog keenam yang diselenggarakan pada Juni 2016 mendiskusikan isu-isu keadilan, sentencing policy, migrasi, ekstrimisme, hak-hak disabilitas, hak-hak minoritas, dan hak asasi manusia dalam berbisnis.(L/R01/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)