Uni Eropa Perkuat Kerja sama dengan Turki Soal Migrasi

Ankara, MINA – Uni Eropa (UE) bermaksud untuk memperkuat kerja sama dengan Turki dalam masalah migrasi dan keamanan perbatasan, kata kepala Delegasi UE untuk Turki, Nikolaus Meyer-Landrut.

Berbicara pada konferensi pers di provinsi Van Turki timur, Meyer-Landrut mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir UE memberikan dukungan senilai lebih dari €350 juta untuk penanganan migran, dan menambahkan blok tersebut siap untuk mempertahankan kerja sama dan dukungan dalam masalah ini.

Dia mengatakan, Uni Eropa mengikuti perkembangan di Afghanistan, terutama imigrasi dan keamanan, setelah Taliban membentuk pemerintahan sementara pekan lalu. Hurriyet Daily News melaporkan, Selasa (14/9).

Dewan Eropa akan melipatgandakan bantuan kemanusiaan untuk publik Afghanistan, seperti dibahas pada konferensi PBB di Jenewa pada Senin (13/9). Bantuan terutama untuk kebutuhan kemanusiaan yang meningkat di Afghanistan.

Meyer-Landrut mengatakan, Uni Eropa bergabung dengan Turki dalam tujuannya mendukung negara-negara tetangga Afghanistan menyediakan suaka bagi para pengungsi Afghanistan dan memastikan keselamatan mereka.

Uni Eropa bermaksud untuk mencegah imigrasi ilegal, di samping ingin memperkuat kapasitas manajemen imigrasi, mencegah perdagangan manusia, serta mencegah penyelundupan obat-obatan dan senjata.

Kekhawatiran meningkat atas kemungkinan lonjakan migran dari Afghanistan setelah penarikan pasukan Amerika Serikat dari negara itu.

Turki saat ini telah menampung hampir 5 juta pengungsi, lebih banyak dari negara mana pun di dunia.

Setelah perang saudara Suriah pecah pada tahun 2011, Turki mengadopsi “kebijakan pintu terbuka” bagi orang-orang yang melarikan diri dari konflik, memberi mereka status “perlindungan sementara”.

Warga Afghanistan diyakini sebagai komunitas pengungsi terbesar kedua di Turki setelah warga Suriah.

Pihak berwenang mengatakan, ada 182.000 migran Afghanistan yang terdaftar di negara itu dan hingga sekitar 120.000 yang tidak terdaftar.

Banyak migran yang tiba di Istanbuk melalui Iran untuk mencari pekerjaan atau melanjutkan perjalanan ke Eropa. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)