UNICEF: 70 Persen Lebih Remaja Jadi Korban Intimidasi Dunia Maya

New York, MINA – Dana Darurat Anak Internasional PBB (UNICEF) mengumumkan, dari satu juta remaja, 70 persen lebih di seluruh dunia mejadi korban intimidasi di dunia maya (Cyberbullying).

Data tersebut hasil dari survei yang dilakukan baru-baru ini. Dalam hal ini, UNICEF mendorong keras untuk menghentikan pelecehan dalam dunia maya, mengingat anak muda pengguna internet sebagian besar adalah korban penindasan internet.

“Diperlukan tindakan bersama untuk mengatasi dan mencegah bentuk kekerasan ini,” kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore pada kesempatan Hari Internet yang Lebih Aman, demikian dilansir dari Anadolu Agency, Rabu (6/2).

Menurut Fore, UNICEF melakukan jajak pendapat di kalangan anak muda usia 15-24 di lebih dari 160 negara. Ia menemukan bahwa tingginya penghasilan yang didapatkan membuat kaum muda menjadikan internet sebagai andalan.

“Setengah dari total populasi dunia tanpa batas usia menggunakan internet, sehingga membawa peningkatan risiko,” ujar Fore.

Sementara itu, Persatuan Telekomunikasi Internasional PBB (ITU) dalam sebuah pernyataan mengatakan, 94 persen anak muda usia 15-24 di negara-negara maju menggunakan internet.

Lebih lanjut Fore mengatakan, UNICEF melihat dari anak-anak dan remaja dari seluruh dunia yang mengatakan, “internet telah menjadi gurun kebaikan.”

“Pelecehan online memicu tren global yang dipimpin oleh siswa dengan #ENDviolence Youth Talks (Akhiri pembicaraan kekerasan perempuan),” katanya.

“Pada akhirnya, kebaikan muncul sebagai salah satu cara paling kuat untuk mencegah penindasan dan cyberbullying … Itulah sebabnya Hari Internet yang Lebih Aman ini, UNICEF mengundang semua orang, tua dan muda, untuk berbaik hati secara online, dan menyerukan tindakan yang lebih besar untuk jadikan Internet tempat yang lebih aman bagi semua orang,” ujar Fore.

Data yang dikeluarkan oleh UNESCO mengatakan, proporsi anak-anak dan remaja yang terkena dampak cyberbullying berkisar dari 5 hingga 21 persen, dengan anak perempuan yang berisiko lebih tinggi daripada anak laki-laki.

“Penindasan dunia maya dapat menyebabkan kerugian besar karena dapat dengan cepat menjangkau khalayak luas, dan dapat tetap diakses online tanpa batas, hampir mengikuti para korbannya online seumur hidup,” imbuhnya.

“Para korban penindasan dunia maya lebih cenderung menggunakan narkoba dan alkohol, bolos sekolah, menerima nilai buruk dan mengalami harga diri rendah dan masalah kesehatan. Dalam situasi ekstrem, itu bahkan menyebabkan bunuh diri,” tambahnya. (T/R10/R01)

 

Mi’raj News Agency (MINA)