Jenewa, MINA – Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini kembali mendesak gencatan senjata segera di Jalur Gaza, memperingatkan bahwa setiap jam keterlambatan akan menambah jumlah korban jiwa.
“Setiap jam hari ini sangat berharga. Semakin lama kita menunggu, semakin banyak orang yang akan meninggal,” kata Lazzarini dalam wawancara dengan UN News di Jenewa, Swiss, Sabtu (30/8).
Ia menegaskan, warga Gaza kini menghadapi ancaman kematian berlapis, baik akibat bombardir Israel maupun kelaparan massal akibat minimnya bantuan. “Entah mereka meninggal akibat operasi militer di tengah bombardir, atau mereka meninggal karena tidak sempat mendapatkan bantuan dan perlahan-lahan mati akibat kelaparan,” ujarnya.
Lazzarini juga menyinggung tragedi di lokasi distribusi kontroversial Gaza Humanitarian Foundation, sebuah pusat bantuan non-PBB. Menurutnya, banyak warga tewas ketika dengan putus asa mencoba mencari makanan di sana. “Pasokan hanya diberikan kepada mereka yang mampu berjalan dan membawa bantuan sendiri,” katanya.
Baca Juga: UE Didesak Ambil Tindakan Riil terhadap Israel, Irlandia: Kecaman Saja Tidak Cukup
Data dari Kantor HAM PBB (OHCHR) mencatat, sejak 27 Mei hingga 17 Agustus, sebanyak 1.857 warga Palestina tewas saat berusaha mendapatkan makanan. Dari jumlah itu, 1.021 orang tewas di sekitar lokasi distribusi Gaza Humanitarian Foundation, sementara 836 lainnya terbunuh di jalur truk pasokan. “Sebagian besar kematian ini tampaknya dilakukan oleh militer Israel,” sebut laporan OHCHR.
Selain itu, Lazzarini mengulangi seruan Sekretaris Jenderal PBB untuk menghentikan segera eskalasi militer Israel di Kota Gaza, sekaligus menuntut pembebasan semua sandera yang ditahan sejak serangan 7 Oktober 2023 lalu.
Sejak dimulainya agresi Israel ke Gaza pada Oktober 2023, lebih dari 63.000 warga Palestina telah gugur dan sebagian besar infrastruktur wilayah itu hancur. Lembaga-lembaga kemanusiaan internasional menegaskan Gaza kini berada di ambang kelaparan massal, dengan jutaan warga sipil menggantungkan hidup pada bantuan yang terbatas. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: WHO: Kasus Kolera Global Meningkat, Afrika Alami Tingkat Kematian Tertinggi