UNRWA: LEBIH DARI 60% RAKYAT PALESTINA MENJADI PENGUNGSI

Pengungsi Palestina (Foto: UNRWA)
Pengungsi Palestina (Foto: UNRWA)

Amman, 27 Muharram 1436 H/20 November 2014 M (MINA) – Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Urusan Pengungsi (UNRWA) Pierre Krähenbühl mengatakan, lebih dari 60% rakyat Palestina kini mengungsi atau telah menjadi pengungsi untuk kedua kalinya.

Ia menyatakan, pengungsi Palestina menyebar di Suriah, Lebanon, Yordania dan beberapa negara lain di wilayah yang berdekatan dengan Gaza. UNWRA melaporkan dan dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Kamis (20/11).

Konflik berkepanjangan telah memaksa rakyat Palestina untuk mengungsi dan mengambil rute yang berbahaya di zona konflik di Mediterania dalam usaha mereka untuk mencapai Eropa.

Kamp pengungsi Yarmouk yang berada di wilayah Suriah hingga kini masih dalam kondisi yang memprihatinkan dengan 16.000 hingga 18.000 warga sipil Palestina hidup dalam kelaparan, kedinginan dan ketakutan.

“Sejak musim panas ini, kondisi pengungsi Palestina mengalami penurunan nyata dalam di kamp pengungsi Yarmouk,” kata Krähenbühl kepada para delegasi pada pertemuan Komisi Penasehat Badan di Laut Mati.

Dia mendesak kepada seluruh pihak, khususnya pemerintah Suriah untuk memberikan bantuan dan perlindungan bagi pengungsi Palestina di Yarmouk.

“Bantuan dan perlindungan yang lebih besar dibutuhkan oleh orang-orang di Yarmouk, sesuatu yang harus terus dilakukan pihak berwenang Suriah,” katanya.

Selain itu, ia juga memberikan rincian kerusakan properti UNRWA di Suriah, “76 sekolah UNRWA atau lebih dari dua pertiga  telah tidak dapat digunakan,” katanya kepada para delegasi.

Sebagian besar rusak akibat konflik yang sekarang terjadi di daerah yang sangat berbahaya untuk dijangkau. 15 di antaranya saat ini digunakan sebagai tempat penampungan kolektif.

Saat ini, lebih dari 6.000 orang telah mengungsi di Damaskus Training Centre dan fasilitas UNRWA lainnya. Sekolah dihancurkan saat pertempuran adalah contoh dramatis dari pengabaian kehidupan sipil oleh pihak penyerang dalam konflik ini dan harus dihukum,” katanya.

Krähenbühl mengatakan, prioritas strategis akan dimulai dengan fokus pada perlindungan dan hak bagi semua pengungsi termasuk yang paling rentan.

“Pada akhirnya, mereka tidak akan pernah sepenuhnya mendapatkan kompensasi dan harapan untuk melihat hak-hak mereka dihormati,” katanya. (T/P011/R01)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0