Kathmandu, MINA – Korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor yang melanda kawasan perbatasan Nepal-China mencapai 1.442 orang. Sebanyak 5.698 orang lainnya masih dinyatakan hilang dalam bencana yang dipicu runtuhnya gletser di kawasan Himalaya tersebut.
Otoritas Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen Nasional Nepal (NDRRMA) melaporkan, sebanyak 1.399 jenazah telah ditemukan di wilayah Nepal, sementara 5.179 orang masih belum ditemukan. Sebanyak 13.742 orang berhasil dievakuasi atau diselamatkan dari kawasan terdampak. Ariananews melaporkan, Rabu (16/9).
Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung dengan melibatkan 21.022 personel keamanan. Dari jumlah warga yang masih hilang di Nepal, 587 di antaranya merupakan wisatawan asing.
Otoritas setempat menyatakan angka orang hilang masih dapat berubah karena proses verifikasi terus dilakukan dan kemungkinan terdapat korban yang telah ditemukan tetapi belum teridentifikasi.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Di wilayah China, khususnya Daerah Otonomi Xizang atau Tibet, jumlah korban meninggal tercatat 43 orang. Sebanyak 519 orang masih dinyatakan hilang, termasuk 261 warga negara asing. Dengan demikian, jumlah korban meninggal di kedua negara mencapai 1.442 orang.
Bencana tersebut bermula pada 26 Agustus 2026 ketika bagian dari gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, yang berada pada ketinggian sekitar 5.200 meter, mengalami keruntuhan. Material es dan batu kemudian berubah menjadi aliran debris dalam jumlah besar yang menerjang lembah-lembah di kawasan perbatasan Nepal-China.
Di Nepal, banjir dan longsor berdampak pada sejumlah wilayah, antara lain distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading dan Kavre, serta kawasan Lembah Kathmandu. Di sisi China, bencana turut merusak kawasan perbatasan Gyirong di Xizang.
Besarnya material lumpur dan bebatuan yang terbawa arus menyebabkan sejumlah jalan, jembatan dan bangunan rusak atau tertimbun. Kondisi medan yang sulit juga menjadi tantangan bagi tim penyelamat untuk menjangkau sejumlah lokasi yang terisolasi.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Banjir dan longsor tersebut menjadi salah satu bencana alam paling mematikan di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir. Proses pencarian korban masih terus dilakukan, sementara pemerintah Nepal dan China berupaya menangani dampak kemanusiaan serta memulihkan akses ke wilayah-wilayah yang terdampak. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic