Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Urgensi Hidup Berjamaah dalam Islam

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 14 Februari 2025 - 06:53 WIB

Jumat, 14 Februari 2025 - 06:53 WIB

38 Views

Ilustrasi

DI AKHIR zaman ini, umat Islam menghadapi berbagai ujian yang semakin berat. Perpecahan di antara kaum Muslimin kian merajalela, fitnah menyebar di segala lini kehidupan, dan kesewenang-wenangan menjadi pemandangan yang biasa. Banyak orang lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan ukhuwah Islamiyah, sehingga kelemahan umat semakin nyata.

Dalam situasi seperti ini, hidup berjamaah di bawah kepemimpinan seorang imam menjadi sebuah keharusan. Hanya dengan persatuan yang kokoh dan kepemimpinan yang jelas, umat Islam dapat menghadapi berbagai tantangan zaman, menjaga akidah, dan menegakkan syariat Allah di muka bumi.

Hidup berjamaah merupakan prinsip fundamental dalam Islam yang menegaskan pentingnya kebersamaan dan persatuan di antara kaum Muslimin. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (Qs. Ali ‘Imran: 103)

Baca Juga: Pengaruh Shaum Dalam Membangun Kepribadian

Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk tetap bersatu dalam satu jamaah yang berlandaskan pada syariat Allah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa “tali Allah” dalam ayat ini berarti Al-Qur’an dan ajaran Islam yang harus dipegang teguh oleh umat agar tidak terpecah belah.

Islam menekankan bahwa perpecahan adalah jalan menuju kehancuran, sebagaimana yang terjadi dalam sejarah umat terdahulu yang hancur karena tidak menjaga persatuan. Oleh karena itu, berjamaah menjadi suatu kewajiban yang tidak hanya mencerminkan keimanan tetapi juga sebagai bentuk perlindungan dari kelemahan dan kehancuran.

Rasululla Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan kewajiban hidup berjamaah dalam sabdanya,

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ الْجَمَاعَةَ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةَ عَذَابٌ

“Hendaklah kalian bersama jamaah, karena sesungguhnya jamaah itu adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.” (HR. Ahmad)

Baca Juga: Kaum Muslimin Saatnya Berperan Bukan Baperan

Hadis ini menunjukkan bahwa hidup dalam jamaah mendatangkan rahmat Allah, sedangkan hidup dalam perpecahan justru mengundang kebinasaan dan azab.

Dalam kehidupan nyata, dapat dilihat bahwa umat Islam yang bersatu dalam satu jamaah yang kokoh memiliki kekuatan besar dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dari segi sosial, ekonomi, maupun politik. Sebaliknya, umat yang tercerai-berai akan lebih mudah dikuasai oleh musuh-musuhnya, sebagaimana yang sering terjadi dalam sejarah peradaban Islam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menegaskan dalam Al-Qur’an,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (Qs. Ash-Shaff: 4)

Baca Juga: Pesan Tabligh Akbar 1446H, Sambut Ramadhan dengan Kesucian Hati

Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan urgensi kebersamaan dan kerapian dalam berjamaah, baik dalam aspek ibadah maupun dalam kehidupan sosial.

Keberadaan umat Islam yang berjamaah dan terorganisir dalam suatu sistem yang rapi menjadikan mereka lebih kuat dalam menghadapi berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar. Dengan berjamaah, kekuatan individu diakumulasikan menjadi satu kekuatan besar yang mampu mengubah dunia.

Sejatinya, persatuan dalam Islam adalah kunci kekuatan umat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Peran Strategis Keluarga dalam Pengembangan Literasi Umat Menuju Masyarakat Madani

Dari hadis ini, Imam An-Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa setiap Muslim harus mendukung saudaranya dalam kebaikan, sebagaimana batu bata dalam bangunan yang saling menopang agar tetap kokoh.

Kekuatan umat Islam tidak hanya terletak pada jumlahnya, tetapi lebih pada kesatuan hati dan visi. Jika umat Islam bersatu dalam satu jamaah yang solid, mereka akan memiliki daya tawar yang tinggi dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun sosial.

Namnun sebaliknya, perpecahan adalah sumber kehancuran umat Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Janganlah kamu saling berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…” (Qs. Al-Anfal: 46)

Baca Juga: Kejahatan Zionis di Era Digital

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa perselisihan dalam umat akan menyebabkan kelemahan dan hilangnya izzah (kehormatan) umat Islam di hadapan musuh.

Sejarah telah membuktikan bahwa umat Islam mengalami kemunduran ketika mereka saling berselisih dan terpecah belah. Banyak negeri Muslim yang dulunya kuat akhirnya jatuh ke tangan musuh karena kurangnya persatuan di antara mereka. Oleh karena itu, menjaga ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan berjamaah adalah suatu keharusan.

Konsep berjamaah tidak hanya dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam ibadah. Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Menjaga Kesehatan Saat Menghadiri Tabligh Akbar: Ini 7 Kiatnya

Selain sebagai sarana meningkatkan pahala, shalat berjamaah juga menjadi wadah untuk mempererat hubungan sesama Muslim. Dalam shalat berjamaah, umat Islam diajarkan disiplin, kepatuhan terhadap imam, dan kebersamaan dalam beribadah kepada Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memerintahkan umat Islam untuk berdakwah secara berjamaah,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (Qs. Ali ‘Imran: 104)

Dakwah yang dilakukan secara berjamaah memiliki dampak lebih besar dibandingkan dakwah individu. Melalui jamaah, strategi dakwah bisa lebih terstruktur, cakupannya lebih luas, serta dapat memberikan efek perubahan yang signifikan dalam masyarakat.

Baca Juga: Silaturahim Membuka Pintu Keberkahan

Jadi, hidup berjamaah dalam Islam bukan sekadar anjuran, tetapi sebuah kewajiban yang membawa rahmat, kekuatan, dan keberkahan bagi umat. Dengan berjamaah, umat Islam dapat menjalankan agama dengan lebih kuat, terorganisir, dan mampu menghadapi tantangan zaman. Umat yang bersatu akan lebih mampu menegakkan Islam dan melawan berbagai bentuk kezaliman.

Sebaliknya, perpecahan hanya akan melemahkan dan menjauhkan umat dari kejayaan Islam yang hakiki. Oleh karena itu, menjaga persatuan dalam jamaah adalah salah satu kunci utama keberhasilan umat Islam di dunia dan akhirat.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ini Dia Para Pembicara Tabligh Akbar dari Luar Negeri

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Dr. Rais Abdullah M.A, Dosen Universitas Mulawarman (foto: Sidiq/MINA)
Indonesia
Kolom
Kolom