Urgensi Kesatuan Umat

Oleh : Majelis Dakwah Pusat Jamaah Muslimin (Hizbullah)

Wujud kesatuan umat hari ini menjadi hal yang sangat dinantikan oleh muslimin dunia. Berbagai macam upaya mewujudkannya telah dilakukan, baik melalui dialog, bedah buku, diskusi, seminar bahkan konferensi telah banyak dilakukan oleh kaum muslimin di berbagai belahan dunia.

Salah satunya adalah Forum Ilmiah Internasional ke-5 atau Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara yang diselenggarakan di Jakarta, 3-6 Juli 2018. Acara terselenggara atas kerjasama Yayasan al Manarah Al Islamiyah bersama Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara yang didukung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Tema utama dalam pertemuan itu adalah persatuan dan harmoni. Tema tersebut di ambil karena saat ini umat Islam sedang membutuhkan persatuan kata KH. Zaitun Rasmin selaku ketua Umum dan Da’i Asia Tenggara itu.

Dalam perspektif Islam, persatuan atau Al-Jamaah merupakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wujud persatuan Islam atau Jamaah Muslimin itu pernah ada dan di gambarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sebagaimana dalam sabdanya;

مَا اَنَا عَلَيْهِ وَاَصْحَابِي

“(Al–Jama’ah) ialah apa saja yang saya ada atasku dan para sahabatku” (HR.Thurmudzi)

Lebih jauh Sahabat, Ali Rodhiallahu ‘Anhu mendifinisikan makna Al-Jama’ah adalah berkumpulnya ahlul haq sekalipun sedikit, sedangkan firqoh adalah berkumpulnya ahlul batil sekalipun banyak.

Pentingnya Jama’ah atau kesatuan bagi umat Islam sebagaimana yang Allah perintahkan karena:

Pertama, Kesatuan Melahirkan Ukhuwah Islamiyah

Dalam surat Ali-Imran 103, Allah Subahanhu Wa Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran  {3} : 103)

Asbabul nuzul ayat ini bicara tentang persaudaraan antara kaum Aus dan Khadjrad di Madinah setelah Allah persaudarakan mereka dengan datangnya Islam. kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam mempersaudarakan mereka dengan kaum Muhajirin yang hijrah dari Mekkah sehingga terwujudlah kesatuan dan persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah diantara mereka.

Kedua, Kesatuan Menyebabkan keridhoan dari Allah

Dalam menafsirkan ayat di atas Ibnu Katsir menukil sebuah hadist yang menyatakan bahwa kesatuan umat islam dapat mendatangkan keridhoan dari Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَ ثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَ ثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ ولاَّهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَال (رواه احمد)

“Sesungguhnya Allah itu ridho kepada kamu tiga perkara dan benci kepada tiga perkara. Adapun 3 perkara yang menjadikan Allah ridho kepada kamu adalah hendaknya kamu memperibadatinya dan janganlah mempersekutukannya dengan sesuatu apapun, hendaklah kamu berpegang teguh dengan tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh, dan hendaklah kamu senantiasa menasehati kepada seseorang yang Allah telah menyerahkan kepemimpinan kepadanya dalam urusanmu. Dan Allah membenci kepadamu 3 perkara, dikatakan mengatakan (mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya), menghambur-hamburkan harta benda, banyak bertanya (yang berfaidah).”(HR. Ahmad)

Masyarakat Islam yang pernah di bangun oleh Rasullullah saw bersama para sahabatnya, adalah wujud masyarakat islam yang ideal dengan jalinan ukhuwah Islamiyah yang sangat kuat yang mesti kita tiru hari ini dalam mempersatukan muslimin.

Eratnya jalinan itu sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam dalam sabdanya: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling lemah lembut adalah laksana satu tubuh, jika ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lainya akan turut tak bisa tidur dan merasa demam. (HR.Muslim).

Ketiga, Kesatuan Menjauhkan dari Fitnah dan Kerusakah

Sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. Al-Anfal: 73)

Said Qutub dalam tafsirnya Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan, masa jahiliyah tidak bergerak secara perorangan. Tetapi ia bergerak sebagai seorang anggota, membela keanggotaannya dengan karakter keberadaannya dan bangunannya untuk mempertahankan eksistensinya. Karena itu, sebagian mereka merupakan bagian dari yang lain dalam tabiat dan hukum.

Maka Islam tidak dapat menghadapi mereka kecuali dalam bentuk masyarakat lain dengan ciri-ciri khusunya, dengan tingkatan yang lebih dalam, lebih kokoh dan lebih kuat. Jika Islam tidak menghadapi mereka dengan kekuatan yang berbentuk masyarakat yang setia kawan (kesatuan) maka akan timbul fitnah dan bencana bagi masing-masing personil muslimin yang ditimpakan oleh masyarakt jahiliyah.

Senada dengan makna ini, Syekh Fakhruddin az-Zubair, dosen Universitas Ummul Qura, Makkah ketika berbicara di Forum Ulama dan Dai Asia Tenggara di Jakarta mengatakan perpecahan dan  perselisihan yang terjadi di kalangan umat Islam hari ini disebabkan karena kezaliman dan kebodohan mereka.

Untuk itu, guna menghindari fitnah dan kezaliman tidak ada jalan lain kecuali melaksanakan perintah Allah dan Rasulnya yaitu bersatu hidup berjama’ah, mentaati Allah, Rasul dan pemimpin kaum muslimin/ulil amri.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisa: 59)

  1. Kesatuan Melahirkan Kasih Sayang

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 71)

Said Qutub dalam tafsirnya menjelaskan mengenai ayat ini , bahwa tabiat seorang mukmin adalah tabiat umat mukmin, yaitu tabiat bersatu dan setia kawan, tabiat saling menolong dalam merealisasikan kebaikan dan menolak kejahatan dan itu memerlukan kesetiakawanan dan saling menolong, karena itu umat islam harus berbaris dalam satu barisan, jangan sampai dimasuki oleh unsur-unsur perpecahan.

Lebih lanjut beliau mengatakan rahmat atau kasih sayang Allah terwujud dalam ketenangan hati dalam berhubungan dengan Allah dan dalam keterpeliharaan dan keterlindungan dari fitnah dan peristiwa-peristiwa yang mengoncangkan. Rahmat allah terwujud juga dalam kesolehan jamaah dan dalam ketenangan menghadapi kehidupan serta ketenangan hati untuk mendapatkan keridhoan Allah.

Jadi, berdasarkan ayat ini kesatuan umat Islam melahirkan rahmat dan kasih sayang dari allah, dan perpecahan mendatangkan adzab.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(رواه احمد). .اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

 

“Al-Jama’ah itu adalah rahmat dan perpecahan (perselisihan) adalah adzab”. (HR. Ahmad)

Kesatuan atau Berjama’ah adalah Solusi bagi Problematika umat Islam

Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam pernah dialog dengan sahabat Hudzaifah bin Yaman tentang problematikan umat di akhir zaman, hal itu sebagimana riwayat dalam hadis yang cukup Panjang, yang artinya:

“Adalah orang-orang (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  tentang kebaikan dan adalah saya bertanya kepada Rasulullah tentang kejahatan, khawatir kejahatan itu menimpa diriku, maka saya bertanya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada di dalam Jahiliyah dan kejahatan, maka Allah mendatangkan kepada kami  dengan kebaikan ini (Islam). Apakah sesudah kebaikan ini timbul kejahatan? Rasulullah menjawab: “Benar!” Saya bertanya: Apakah sesudah kejahatan itu datang kebaikan? Rasulullah menjawab: “Benar,  tetapi di dalamnya ada kekeruhan (dakhon).” Saya bertanya: “Apakah kekeruhannya itu?” Rasulullah menjawab: “Yaitu orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku. (dalam riwayat Muslim) “Kaum yang berperilaku bukan dari sunnahku dan orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku, engkau ketahui dari mereka itu dan engkau ingkari.” Aku bertanya: “Apakah sesudah kebaikan itu akan ada lagi keburukan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru yang mengajak ke pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa mengikuti ajakan mereka, maka mereka melemparkannya ke dalam Jahannam itu.” Aku bertanya: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.” Rasululah menjawab: “Mereka itu dari kulit-kulit kita dan berbicara menurut lidah-lidah (bahasa) kita.” Aku bertanya: “Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian?” Rasulullah bersabda: “Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka!” Aku bertanya: “Jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imaam?” Rasulullah bersabda: “Hendaklah engkau keluar menjauhi firqah-firqah itu semuanya, walaupun engkau sampai menggigit akar kayu hingga kematian menjumpaimu, engkau tetap demikian.” (H.R. Bukhari dan Muslim) (P20)

 

Mi’raj News Agency (MINA)