URGENSI MUHASABAH

foto muhasabahOleh Bahron Ansori*

Firman Allah, artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Alhasyr [59]: 18).

Tak terasa, tahun 2015 mulai menghampiri kita, dan berlalulah tahun 2014. Bagi seorang muslim, momentum mengawali tahun baru semestinya diisi dengan cara dan acara muhasabah (introspeksi diri). Muhasabah atau menghisab (menghitung) diri merupakan cara terbaik yang telah dicontohkan oleh teladan terbaik manusia dan seluruh alam; Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dalam muhasabah itu, setiap mukmin dituntut untuk melihat segala amalnya, entah itu amal yang buruk maupun amal yang baik.Melihat amal-amal yang buruk tentu dengan tujuan agar di waktu yang akan datang amal buruk itu tak terulang kembali.Sebaliknya, melihat segala amal baik bertujuan untuk terus meningkatkan amal kebaikan itu.

Muhasabah (evaluasi), sangat diperlukan oleh seorang muslim. Sebab dengan muhasabah itulah seorang muslim bisa meningkatkan kualitas amal kebaikannya dan melupakan segala keburukan masa lalu seraya memohon ampunan Allah Ta’ala. Karena itu, muhasabah sudah seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari pribadi seorang muslim, seperti yang ditegaskan dalam ayat di atas.

Umar bin Khattab, seorang khalifah dari kalangan sepuluh sahabat yang dijamin masuk surge, pernah mengingatkan umat Islam dengan perkataannya yang sangat populer, “Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu.” Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.

Muhasibi, seorang sufi dan ulama besar yang menguasai beberapa bidang ilmu, seperti hadits dan fiqih. Nama lengkapnya Abu Abdillah al-Haris bin Asad al-Basri al-Bagdadi al-Muhasibi. Ketika ia ditanya tentang beberapa hal yang berkaitan dengan soal muhasabah. “Dengan apa jiwa itu dihisab?”Ia menjawab, “Jiwa itu dihisab dengan akal.” Ia ditanya lagi, “Dari mana datangnya hisab itu?” Ia menjawab, “Hisab itu datang dari adanya rasa takut akan kekurangan, hal-hal yang merugikan, dan adanya keinginan untuk menambah keuntungan.”

Muhasabah dalam pandangan Muhasibi, mewariskan nilai tambah dalam berpikir (basirah), kecerdikan, dan mendidik untuk mengambil keputusan yang lebih cepat, memperluas pengetahuan, dan semua itu didasarkan atas kemampuan hati untuk mengontrolnya.

Ketika ditanya, “Dari mana sumber keterlambatan akal dan hati untuk menghisab diri?”Ia menjawab, “Keterlambatan itu disebabkan oleh hati. Dalam keadaan demikian hati sangat didominasi oleh kekuatan hawa nafsu dan syahwat yang kemudian menguasai akal, ilmu, dan argumen.”

Ketika ditanya, “Dari mana kebenaran datang?”Ia menjawab, “Kebenaran itu datang karena pengetahuan kita bahwa Allah Ta’ala Maha Mendengar dan Maha Melihat. Pengetahuan itu merupakan dasar bagi kebenaran dan kebenaran merupakan dasar segala perbuatan baik.Karena kemampuan dan kekuatan kebenaran itulah, seorang hamba dapat meningkatkan segala perbuatan baik dan kebajikannya.”

Tujuan Muhasabah

Muhasabah perlu untuk diketahui dan juga dipahami dengan baik oleh setiap muslim. Karena bila dijalankan dengan baik, muhasabah akan banyak memberi manfaat baik untuk kehidupan dunia dan akheratnya kelak.

Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan perhitungan.Dalam terminologi syar’i, definisi muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya, baik hal tersebut bersifat vertikal, hubungan manusia hamba dengan Allah.Maupun secara horizontal, hubungan manusia dengan sesama manusia yang lainnya dalam kehidupan sosial.

Muhasabah merupakan salah satu sarana yang dapat mengantarkan manusia mencapai tingkat kesempurnaan sebagai hamba Allah.

“Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah”. (HR. Imam Turmudzi).

Muhasabah Instropeksi Diri berarti introspeksi akan dirinya sendiri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan dari masa-masa yang telah lalu. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu akan dirinya sendiri.

Dan manusia beruntung akan selalu mempersiapkan dirinya untuk kehidupan kelak yang abadi di yaumul akhir di akhirat yang pasti adanya.Dengan melaksanakan muhasabah, seorang hamba akan selalu menggunakan setiap waktu dari detik, menit, jam dan harinya serta keseluruhan jatah umur kehidupannya di dunia dengan sebaik-baiknya demi meraih keridhoan Allah Ta’ala.

Dengan melakukan penuh akan perhitungan baik itu dalam hal amal ibadah yang wajib dan sunnah. Serta juga muhasabah terhadap amalan sholeh amalan kebaikan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat secara sosial dan kehidupannya sebagai seorang hamba kepada Allah Sang Khalik.

Allah Ta’ala memerintahkan hamba untuk selalu mengintrospeksi dirinya bermuhasabah diri dengan meningkatkan keimanan serta ketakwaannya kepada Allah Ta’ala.

Keutamaan Muhasabah

Ada beberapa manfaat darimuhasabah bagi setiap orang yang beriman yaitu; pertama, dengan muhasabah, maka setiap muslim akan mengetahui aib serta kekurangan dirinya sendiri. Baik itu dalam hal amalan ibadah, kegiatan yang memberikan manfaat untuk banyak manusia. Sehingga dengan demikian akan bisa memperbaiki diri apa-apa yang dirasa kurang pada dirinya.

Kedua, dalam hal ibadah, seorang muslim akan semakin tahu apa yang menjadi hak kewajibannya kepada Rabbnya dan terus berusaha secara istiqomah untuk senantiasa memperbaiki diri demi meraih derajat insan yang bertakwa. Dengan muhasabah itu pula seorang muslim hendaknya mengetahui bahwa setiap ibadah yang dilakukannya adalah semata-mata untuk kepentingannya bukan untuk Allah. Sebab, sebagai manusia, sudah tentu begitu banyak dosa yang dilakukan.

Ketiga, mengetahui segala sesuatu baik itu kecil maupun besar atas apa yang dilakukan di dunia ini, akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Inilah salah satu hikmah muhasabah dalam diri setiap muslim.

Keempat, membenci hawa nafsu dan mewaspadainya.Seorang muslim yang melakukan muhasabah sudah semestinya senantiasa melaksanakan amal ibadah serta ketaatan dan menjauhi segala perbuatan maksiat, agar menjadi ringan hisabnya di hari akhirat kelak.

Muhasabah, Rahasia Sukses

Jika mau dihayati, maka muhasabah adalah salah satu cara bagi seorang muslim untuk meraih kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Seorang muslim, yang melakukan muhasabah berarti telah melakukan koreksi total atas semua rancangan hidupnya selama ini. Bisa jadi kesalahan-kesalahan fatal di masa lalu akan menjadi cambuk jiwanya untuk berbenah menjadi lebih baik di tahun selanjutnya.

Muhasabah bukan hanya menjadi cambuk bagi seorang muslim untuk meraih prestasi dalam bidang yang digeluti selama hidupnyai. Tapi lebih jauh lagi, muhasabah bagi seorang muslim merupakan salah satu sarana untuk menggapai kesuksesan di akhirat kelak.

Dengan muhasabah, seorang muslim jadi lebih mampu menajamkan visi dan misi hidupnya. Dengan muhasabah seorang muslim mampu meningkatkan produktivitas dan kreatifitasnya dalam bidang yang digelutinya. Bila ia seorang guru, maka ia akan menjadi guru yang penuh dengan prestasi. Bila ia seorang jurnalis, maka ia bertekad akan menjadi seorang jurnalis yang punya daya produksi dan kreasi tinggi, terlebih lagi bila ia seorang jurnalis muslim.

Seorang muslim akan sukses bila ia senantiasa melakukan muhasabah (evaluasi) atas visi hidupnya. Namun yang tak kalah penting kunci muhasabah selanjutnya adalah melakukan aksi setelah melakukan evaluasi (action after evaluation). Artinya setelah melakukan muhasabah harus diiringi dengan melakukan aksi perubahan, bukan hanya nato (not action talk only).

Intinya, seorang muslim harus berwawasan luas, dan mempersiapkan segala bekal untuk kehidupannya di masa yang akan datang (akhirat), bukan sebaliknya berwawasan sempit dan hanya memikirkan kepentingan sesaat. Belajarlah dari setiap kesalahan, lalu berbenah untuk tidak mengulanginya. Berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan waktu untuk setiap hal yang positif.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Tidak akan bergerak telapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; untuk apa umurnya dihabiskannya, kemana masa mudanya dipergunakannya, darimana hartanya ia peroleh dan ke mana dibelanjakannya, serta sejauh mana ia mengamalkan ilmunya.” (HR. Turmudzi). (T/P4). *Bahron Ansori, Penulis Buku Rasulullah Aja Punya Mimpi

www.mirajnews.com

Comments: 0