Usaha Mewujudkan Umat Terbaik (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

بسم الله الرحمن الرحيم

Firman Allah ﷻ:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَـٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَـٰسِقُونَ (ال عمران [٣]: ١١٠)

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 110)

Secara umum umat Islam didefinisikan sebagai umat yang menyembah dan beriman kepada Allah ﷻ dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya.

Sebagian lain ada yang mendefinisikan bahwa umat Islam adalah siapa saja yang telah bersaksi (syahadat) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Sayid Quthb dalam Dzilalul Qur’an ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan bahwa pengungkapan kalimat ukhrijat (dikeluarkan, dilahirkan, diorbitkan dengan bentuk “mabni majhul” – bentuk pasif) mengisyaratkan dengan halus bahwa umat Islam dilahirkan oleh Allah ﷻ adalah untuk menjadi umat terbaik di antara umat manusia di muka bumi.

Inilah yang harus dimengerti oleh umat Islam bahwa mereka dilahirkan adalah untuk maju ke garis depan dan memegang kendali kepemimpinan umat manusia menuju kepada kebaikan bukan untuk keburukan dan kejahatan. Oleh karena itu umat Islam harus berusaha agar kepemimpinan umat manusia tidak jatuh ke tangan orang yang akan membuat kerusakan.

Kepemimpinan akan diberikan kepada umat yang layak menerimanya karena berbagai karunia yang dianugerahkan kepada umat tersebut yaitu akidah, pandangan, peraturan, akhlak dan ilmu pengetahuan yang benar. Dengan berbagai karunia Allah ﷻ ini, umat Islam akan menjadi umat yang unggul dan terbaik di antara manusia.

Menurut Mujahid, pemimpin ahli tafsir generasi tabiin (21 H-104 H), bahwa keunggulan umat Islam itu dengan syarat memenuhi sifat-sifat yang disebut dalam ayat di atas. Ada 3 (tiga) sifat yang dimiliki umat Islam yang menyertai predikat anugerah Allah ﷻ sebagai umat terbaik yaitu: menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah ﷻ.

  1. Menyuruh kepada yang makruf

Dalam menjelaskan ayat di atas, Ibnu Katsir menukilkan hadits yang bersumber dari Imam Ahmad dari Durrah binti Abu Lahab berkata, “Seorang laki-laki berdiri dan bertanya kepada Rasulullah ﷺ sewaktu beliau berpidato di atas mimbar, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang terbaik?” Beliau menjawab:

خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَؤُهُمْ وَأَتْقَاهُمْ للهِ، وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ، وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ

Manusia terbaik adalah yang paling banyak membaca (AlQuran), yang paling taqwa di antara mereka kepada Allah, yang paling giat melakukan amar makruf dan nahi mungkar terhadap mereka dan yang paling senang di antara mereka dalam bersilaturahim.”

Menurut Al-Isfahani term makruf menyangkut segala bentuk perbuatan yang dinilai baik oleh akal dan syara’. Oleh karena itu, amar makruf berarti memerintah atau mendorong untuk menjalankan perbuatan yang diakui kebaikan oleh akal dan syara’ seperti berbakti kepada orang tua, menyantuni istri, menaati suami, mendidik anak, menjaga kedisiplinan dan kebersihan, dan sebagainya.

  1. Mencegah dari yang mungkar

Menurut Al-Isfihani, mungkar adalah semua perbuatan yang dianggap buruk oleh akal sehat seperti durhaka kepada orang tua, perbuatan kasar dalam rumah tangga, berbohong, iri, korupsi, menyuap, membunuh, dan sebagainya.

Dalam mencegah kemungkaran menurut para ulama ada beberapa yang perlu diperhatikan:

Kemungkaran tersebut adalah kemungkaran yang telah disepakati. Sesuatu yang ada indikasi perbedaan ulama di dalamnya tidak bisa diklaim sebagai kemungkaran. Dalam sebuah kaidah fiqih disebutkan:

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ، وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ

“Tidak diperbolehkan mengingkari sesuatu yang masih diperselisihkan akan tetapi yang diingkari adalah sesuatu yang sudah menjadi kesepakatan.”

Kemungkaran tersebut sedang terjadi yang menurut Al-Ghazali disebut “maujudun fil hal” (مَوْجُوْدٌ فِى الْحَالِ). Kemungkaran yang sudah terjadi dan akan terjadi tidak dapat diterapkan nahi mungkar. Hanya saja untuk kemungkaran yang akan terjadi harus dicegah sebagai tindakan preventif sehingga kemungkaran tidak jadi dilakukan bahkan menggagalkan rencananya dan yang sudah terjadi perlu diingatkan agar tidak terulang lagi.

Kemungkaran didapatkan tidak melalui proses mencari-cari kesalahan (tajassus). Artinya, jika orang melakukan kemaksiatan secara tersembunyi tidak boleh siapapun membuntutinya dan mencari-cari kesalahannya. Ini sebagai perwujudan ajaran Islam yang sangat menjaga privasi setiap manusia. Allah ﷻ berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ   وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ  أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ  وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ  إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ (الحجرات [٤٩]: ١٢)

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat: [49] 12)

  1. Beriman Kepada Allah ﷻ

Pada ayat ini beriman kepada Allah ﷻ disebutkan setelah amar makruf dan nahi mungkar. Menurut Al-Maraghi hal ini disebabkan amar makruf dan nahi mungkar merupakan pintu keimanan. Jadi didahulukannya kedua hal tersebut dalam penuturan adalah sesuai dengan kebiasaan yang terjadi pada manusia yaitu menjadikan pintu berada di depan segala sesuatu.

Penyebutan iman kepada Allah ﷻ pada ayat ini berarti juga termasuk iman kepada segala sesuatu yang diwajibkan oleh iman kepada Allah ﷻ seperti beriman kepada Rasul-Nya, Kitab-Nya, hari kebangkitan, qadha dan qadar, dan lain-lain.

Beriman kepada Allah ﷻ terefleksikan dalam perilaku-perilaku positif sebagai bukti keimanan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa firman Allah ﷻ, di antaranya:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَـٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٢) ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ (٣) (الأنفال [٨]: ٢-٣)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (2) (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (3)” (Q.S. Al-Anfal [8]: 2-3)

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَإِذَا كَانُوا۟ مَعَهُۥ عَلَىٰٓ أَمْرٍ جَامِعٍ لَّمْ يَذْهَبُوا۟ حَتَّىٰ يَسْتَـْٔذِنُوهُ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَـْٔذِنُونَكَ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۚ فَإِذَا ٱسْتَـْٔذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَن لِّمَن شِئْتَ مِنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمُ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (النور [٢٤]: ٦٢)

“(Yang disebut) orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sungguh orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nur [24]: 62)

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ   وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ  إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (الحجرات [٤٩]: ١)

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 1)

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ (الحجرات [٤٩]: ١٥)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 15)

Siapa Umat Terbaik Itu?

Para ulama tafsir mengemukakan berbagai riwayat tentang yang dimaksud umat yang terbaik pada ayat tersebut, di antaranya:

  1. Abdullah bin Abbas

Mereka adalah orang-orang yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah, yang ikut dalam Perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyah

  1. Abu Hurairah

Para sahabat secara umum, beliau berkata, “Kami adalah manusia terbaik, Kami menuntun manusia untuk menapaki jalan mendaki menuju kepada Islam.”

  1. Umar bin Khattab

“Seluruh umat Islam yang beramal seperti para sahabat.”

  1. Mujahid

Umat Islam yang melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar.

Ibnu Katsir setelah mengemukakan berbagai pendapat tentang umat terbaik pada ayat ini menyatakan, “Pendapat yang benar mengatakan bahwa ayat ini mengandung pengertian umum mencakup semua umat ini dalam setiap generasinya dan sebaik-baik generasi adalah orang-orang yang Rasulullah ﷺ diutus di kalangan mereka kemudian orang-orang yang sesudah mereka kemudian sesudah mereka. Pengertian ayat ini sama dengan pengertian yang terdapat pada ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَـٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا… (البقرة [٢]: ١٤٣)

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 143)

Yang dimaksud dengan “wasathan ialah yang terpilih, sebagaimana firman selanjutnya:

…لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ   وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ  وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ  وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَـٰنَكُمْ ۚ  إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ (البقرة [٢]: ١٤٣)

“…agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 143)

Selanjutnya Ibnu Katsir menukilkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Majah, dan Imam Al-Hakim:

أَنْتُمْ تُوْفُوْنَ سَبْعِيْنَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَنْتُمْ أَكْرَمُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Kalian menyempurnakan tujuh puluh umat (sebelumnya). Kalian yang terbaik dan termulia dalam pandangan Allah Azza wa Jalla.”

Sesungguhnya –demikian lanjut Ibnu Katsir– umat ini menduduki peringkat teratas dalam semua kebaikan, tidak lain adalah berkat Nabi mereka, Nabi Muhammad ﷺ. Karena sesungguhnya beliau adalah makhluk Allah ﷻ dan rasul yang paling dimuliakan di sisi Allah ﷻ. Allah ﷻ telah mengutusnya dengan membawa syariat yang sempurna lagi agung yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi dan rasul pun sebelumnya. Melakukan amal sedikit yang sesuai dengan tuntunannya dan jalan yang telah dirintisnya sama dengan melakukan amal banyak yang dilakukan oleh umat yang terdahulu sebelum mereka.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa umat yang terbaik adalah umat Islam yang mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dengan melaksanakan amar makruf, nahi mungkar, dan beriman kepada Allah ﷻ. Hal ini dapat mencakup segala generasi, baik generasi sahabat maupun generasi sesudahnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

أُمَّتِيْ كَالْمَطَرِ لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ (رواه الترمذي)

Umatku bagaikan hujan, tidak diketahui yang lebih baik itu yang pertama atau yang terakhir.” (H.R. At-Tirmidzi)

Ketika menafsirkan ayat di atas, dalam “Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an”, Imam Al-Qurthubi menukilkan sebuah hadits dari Umar radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku pernah duduk bersama Nabi ﷺ, beliau ﷺ bertanya:

(أَتَدْرُونَ أَيُّ الْخَلْقِ أَفْضَلُ إِيمَانًا) قُلْنَا الْمَلَائِكَةُ. قَالَ: (وَحُقَّ لَهُمْ بَلْ غَيْرُهُمْ) قُلْنَا الْأَنْبِيَاءُ. قَالَ: (وَحُقَّ لَهُمْ بَلْ غَيْرُهُمْ) ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: (أَفْضَلُ الْخَلْقِ إِيمَانًا قَوْمٌ فِي أَصْلَابِ الرِّجَالِ يُؤْمِنُونَ بِي وَلَمْ يَرَوْنِي وَيَجِدُونَ وَرَقًا فَيَعْمَلُونَ بِمَا فِيهِ فَهُمْ أَفْضَلُ الْخَلْقِ إِيمَانًا) رواه أبو داود الطيالسى

“Tahukah kalian makhluk yang paling utama imannya? Kami menjawab, “Malaikat.” Beliau bersabda, “Mereka berhak disebut seperti itu, tapi bukan mereka.” Kami berkata, “Para nabi.” Beliau bersabda, “Mereka juga berhak, tapi bukan mereka.” Kami berkata, “Para syuhada.” Beliau bersabda, “Mereka juga berhak, tapi bukan mereka.” Lalu Rasulullah bersabda, “Makhluk yang paling utama imannya adalah kaum yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku. Mereka mendapat lembaran-lembaran (Al-Qur’an) lalu mereka mengamalkan isinya. Merekalah makhluk yang paling utama imannya.” (H.R. Abu Daud At-Thayalisi)

Selanjutnya dalam “At-Tizkar fi afdhalil Adzkar” ketika mengomentari hadits ini, Imam Al-Qurthubi berkata, “Para ulama mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa orang yang mengikuti Al-Qur’an, nasihat-nasihatnya, dan mengikuti jejak risalah Nabi ﷺ dalam sunnahnya di saat terjadi bid’ah, maka perilaku seperti ini membuka jalan baginya untuk menyamai kedudukan para shadiqin dan derajatnya hampir menyamai derajat para sahabat Rasulullah ﷺ dan tabi’in.

Dalam rangka mengikuti Al-Qur’an dan jejak risalah Nabi Muhammad ﷺ untuk mewujudkan umat yang terbaik, salah satu yang dapat dilakukan oleh umat Islam saat ini adalah dengan mengamalkan syari’at Al-Jama’ah, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍۢ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (ال عمران [٣]: ١٠٣)

“Dan berpegangteguhlah kalian pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah dan jangan berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Ketika menafsirkan kalimat وَلَا تَفَرَّقُوْا, Ibnu Katsir menyatakan:

أَمَرَهُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّفَرُّقَةِ

Allah memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan Allah melarang berpecah-belah.

Adapun yang dimaksud dengan Al-Jama’ah sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ, adalah:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه والحاكم وقال: صحيح على شرط مسلم)

“Apa yang aku dan para sahabat di atasnya” (H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Beliau berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim”)

Semoga dengan mengamalkan syariat Al-Jama’ah umat Islam dapat bersatu dan Masjid Al-Aqsha dapat kembali ke pangkuan umat Islam. Dalam sebuah wasiyatnya Asy-Syaikh Yusuf Qardhawi, rahimahullah berkata, “Masjid Al-Aqsha dapat direbut kembali dari tangan Zionis apabila umat Islam melupakan perpecahan dan harus bersatu padu seperti bangunan yang kokoh, saling menguatkan satu sama lain.”

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّابِ

Makalah ini disampaikan Imaamul Muslimin: Syaikh Yakhsyallah Mansur pada acara Ta’lim Wilayah Jawa Tengah Selatan di Masjid Al-Muttaqin, Kawo, Desa Gombong, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, 54411.

Ahad, 27 Shafar 1444 H /23 Oktober 2022 M

(A/P2/P1)

Mi’raj News Agency(MINA)