Ustaz Arief Saefullah MD: Salah Satu Kunci Membebaskan Al-Aqsa dengan Pelajari Sejarahnya

Negararatu, Lampung Selatan, MINA – Ustaz Arief Saefullah MD mengatakan, salah satu kunci membebaskan Masjid Al-Aqsa adalah dengan mempelajari sejarahnya, karena dengan begitu, akan mudah melihat seperti apa perjalanan para sahabat di masa Rasulullah dalam pembebasan Masjid Al-Aqsa.

Hal itu disampaikannya pada Dauroh Al-Aqsa yang diselenggarakan rutin setiap pekan oleh Aqsa Working Group (AWG) Biro Lampung di Musholla Hasanah Husin, Desa Negararatu, Natar, Lampung Selatan, Sabtu (6/11) diikuti oleh para pemuda Desa Negararatu dan sekitarnya.

Ahli sejarah itu menjelaskan, kunci belajar tarekh (sejarah) adalah untuk memahami bagaimana menghadapi keadaan dan masalah yang terjadi di antara umat, ketika para sahabat menemui masalah, seperti perselisihan dan perpecahan yang terjadi dalam upaya pembebasan Masjid Al-Aqsa.

“Bagaimana Rasulullah Salllahu Alaihi Wasallam mencanangkan para sahabat agar fokus untuk memperjuangkan pembebasan Masjid Al-Aqsa, dan tidak terlalu memperhatikan problem-problem yang terjadi di antara sesama,” ujar Ustaz Saefullah yang juga guru pelajaran Sejarah di Ponpes Al-Fatah Al-Muhajirun, Lamsel.

Ia menjelaskan, dari banyaknya peperangan yang Rasulullah ikuti ada hal yang selalu Rasulullah lakukan, yaitu Rasulullah selalu mewakilkan kepemimpinannya di kota Madinah sewaktu-waktu beliau akan meninggalkan kota tersebut kepada sahabat yang tidak sepopuler sahabat yang lain, seperti Abu Bakar, dan Umar bin Khattab.

“Hebatnya, Rasulullah jarang sekali menunjuk sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, tetapi malah orang yang terpinggirkan seperti Abdullah bin Ummi Maktum yang tidak sempurna fisiknya yang cacat penglihatannya,” jelasnya.

Meski mempunyai ketidaksempurnaan fisik, lanjutnya, Abdullah dikenal berilmu serta beradab, sehingga bisa melihat dengan mata hati.

“Maksud Rasulullah agar tidak ada perbedaan antara setiap orang yang dipilih sebagai pemimpin, dan untuk menguji keta’atan mereka, kepada siapapun yang menjadi pemimpinnya, dan konsep ini terus digunakan pada para sahabat pengganti beliau,” tuturnya. (L/Rjl/R12/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)