Ustaz M Tobri: Idul Fitri Momentum Teguhkan Semangat Hidup Berjamaah

(Foto: Istimewa)

Cileungsi, MINA – Amir Markaz Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Ustaz Muhammad Tobri, menegaskan, perayaan Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum untuk menumbuhkan serta meneguhkan semangat kesatuan dan persatuan sehingga mewujud pada Ukhuwwah Islamiyyah.

“Untuk itu, kaum Muslimin diharapkan setelah melewati bulan Ramadhan mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan tentang perintah berjamaah sebagai wujud Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” kata Ustaz Tobri saat menyampaikan Khutbah pada sholat Idul Fitri 1443H di Kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/5).

Ustaz Muhammad Tobri menjadi Imaam dan Khatib pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1443H/2022M di lingkungan Masjid At-Taqwa, Ponpes Al-Fatah Cileungsi bersama warga pesantren dan masyarakat sekitar.

Dia juga menekankan kewajiban hidup berjamaah tidak berhenti hanya kepada implementasi pelaksanaan penyerahan diri untuk taat kepada imaam dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahhu wa ta’ala.

Melainkan wajib meyakini bahwa syariat kehidupan berjamaah merupakan ruh dari model hidup bermasyarakat yang ditinggalkan sebagian umat Islam saat ini.

“Berjamaah adalah modal untuk senantiasa berlaku kasihsayang sesama muslim sebagai saudara, seperti dicontohkan kaum anshar terhadap kaum muhajirun di masa kenabian. Satu sama lain saling berkasihsayang sesama muslim, saling membantu, meringankan dan bahu-membahu dalam ketaatan kepada perintah Allah Subhanahu wa ta ‘ala,” ujar Ustaz Tobri.

Dia menyampaikan, jika kita melihat persatuan dan kesatuan masyarakat muslim di zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sungguh sangat menakjubkan.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah membangun suatu masyarakat yang berada dalam persatuan dan kesatuan yang kokoh yang dilandasi atas dasar kecintaan dan tolong menolong.

“Suatu keistimewaan masyarakat muslim di zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ialah kuatnya ukhuwah fi dinillah, mahabbah (kecintaan) dan tolong menolong di antara mereka, khususnya dalam kebaikan dan ketakwaan,” imbuhnya.

Ustaz Tobri yang memakai atribut syal Palestina mengatakan, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam sangat menjaga kesatuan ummat Islam, bahkan masalah persatuan ini mendapatkan perhatian yang sangat besar bagi beliau.

Apalagi ketika beliau berada di Madinah, Rasulullah mempererat tali ukhuwah antara kaum Muhajirin dan Anshar.
Begitu juga telah disatukannya suku Aus dan Khazraj dalam Jama’ah Muslimin yang telah ratusan tahun bermusuhan dan berperang.

“Dengan demikian jelaslah bahwa beliau dan para sahabatnya telah mencontohkan wujud kesatuan umat yang utuh dengan ikatan persaudaraan,” tuturnya.

Ustaz Tobri juga menekankan, tanpa ada kesatuan, muslimin di Palestina, di Myanmar, di Tiongkok, di Kashmir tertindas, terampas hak-hak hidupnya hingga saat ini, tanpa kemampuan muslimin lainnya untuk menolongnya, tanpa kejelasan kapan akan berakhir penderitaan mereka.

Dia melanjutkan, tanpa ada kesatuan, muslimin di Suriah, di Lebanon dan di Timur Tengah lainnya saling berperang, saling membunuh satu sama lain. Bukannya umat ini menjadi homo homini socius (manusia menjadi teman sesama manusia), tetapi malah menjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala manusia lainnya). Sungguh inilah bencana kemanusiaan terbesar di muka bumi.

Apa yang kita saksikan hari ini berbagai penindasan yang terjadi kepada umat Islam di belahan dunia lain, hakikatnya adalah karena umat ini belum tersimpul pada satu kekuatan yang disyariatkan dalam Islam.

“Masyarakat muslim hari hidupnya belum berpedoman pada aturan-aturan Islam yang telah ditetapkan Allah, maka yang kita saksikan adalah melemahnya kekuatan umat Islam dan sirnanya hakikat kesatuan umat saat ini,” pungkasnya.(L/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)