Video Game Knights of Al-Aqsa Mosque : Perlawanan untuk Keadilan

Oleh Ali Farkhan Tsani, Wartawan MINA (Mi’raj News Agency)

Permainan video game Knights of Al-Aqsa Mosque (Fursan Al-Aqsa atau Kesatria Al-Aqsa) membuat gerah para petinggi pendudukan Israel.

Knights of the Al-Aqsa Mosque memungkinkam para gamer mengalami hidup sebagai pejuang perlawanan Palestina dan berjuang mengakhiri pendudukan Israel di wilayah Palestina.

Seperti diberitakan Mi’raj News Agency (MINA) pada Kamis (7/10/2021), para pejabat Israel  menyerukan Game Knights of the Al-Aqsa Mosque itu untuk dihapus dari web.

Ketua Partai Kekuatan Yahudi, Itamar Ben Gvir, beralasan penyebaran game itu ia sebut sebagai “permainan anti-Semit dan menghasut pembunuhan”.

Gvir meminta kepada Kementerian Luar Negeri dan Kehakiman Israel untuk melakukan upaya dan campur tangan dengan pihak berwenang Brasil, tempat pembuatan game, mencegah penyebaran permainan tersebut.

Game itu juga mendapat kritik dari kelompok Yahudi dan Israel Simon Wiesenthal Centre, sebuah pengawas anti-Semitisme. Kelompok itu mengklaim bahwa isi video itu “mengagungkan teror Palestina terhadap orang-orang Yahudi.”

Mereka telah menyerukan boikot terhadap Steam, distributor game tersebut.

Gamer Palestina-Brasil

Knights of the Al-Aqsa Mosque dibuat oleh seorang web designer muda, Nidal Najm warga Palestina-Brasil,

Game ini terinspirasi oleh pengalaman perjuangan ayahnya ketika  menjadi bagian dari perlawanan Palestina di Lebanon pada 1980-an.

Orang tua Nidal berasal dari desa Al-Qubab, distrik Ramle, Palestina.

Mereka terpaksa keluar dari rumah mereka pada pembantaian Nakba 1948 dan pindah ke negara tetangga, Lebanon.

Orang tua Nidal kemudian pindah ke Brasil setelah invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982.

Ia kemudian lahir di Brasil, dibesarkan hingga belajar matematika di Universitas Amapá, negara bagian Amapa, Brazil.

Semasa sekolahnya, ia memang hobi video game. Ia bukan hanya main game, tapi bagaimana menciptakan sendiri games itu.

“Ayah saya yang mendorong saya untuk bermain video game sejak saya masih kecil. Bukan hanya main games, tapi ayah saya menyuruh saya untuk belajar dan belajar sehingga suatu hari saya bisa membuat video game tentang Perlawanan Palestina,” ungkapnya.

Ia pun kemudian mengembangkan game berorientasi perjuangan Palestina dengan menampilkan seorang pejuang perlawanan yang berusaha mendapatkan keadilan untuk dirinya sendiri setelah disiksa oleh otoritas pendudukan Israel.

Video game baru yang mengadu satu-satunya pejuang Palestina melawan militer Israel akan dirilis ke publik pada Desember mendatang, menjanjikan perspektif alternatif untuk konflik Israel-Palestina.

Kreator permainan menempatkan penembak orang pertama berlatar Yerusalem, Ahmad Al-Filistini.

Ahmad, karakter dalam game digambarkan sebagai seorang mahasiswa Palestina yang “disiksa dan dipenjara secara tidak adil” oleh Israel, melalui jalan-jalan kota saat dia menghadapi tentara Israel.

Ahmad dipenjara selama lima tahun oleh pendudukan Israel. Pendudukan membunuh semua anggota keluarganya dalam serangan udara. Setelah Ahmad keluar dari penjara, dia memutuskan untuk membalas kematian keluarganya. Untuk melakukan itu, ia bergabung dengan Ksatria Masjid Al-Aqsa (Knights of the Al-Aqsa Mosque).

Seperti kebanyakan penembak, permainan ini menunjukkan aksi menggunakan pisau, senapan, dan granat melawan tentara musuh.

Nidal mengungkapkan, sebelum game ini, ia telah menghabiskan waktu sekitar 10 tahun untuk mengembangkan game-game sendiri menggunakan FPS Creator pada tahun 2009, sebelum beralih ke program Unreal Engine 3 pada tahun 2013.

Pada media online Alaraby, edisi 7 Oktober 2021, ia mengemukakan tujuan pembuatan game atraktif tersebut.

“Tujuan permainan saya, terutama di sini di Barat, adalah untuk menunjukkan bahwa perjuangan bersenjata rakyat Palestina bukanlah terorisme, seperti yang ditunjukkan dalam banyak video game di mana tentara AS adalah pahlawan dan orang Arab adalah musuh dan teroris,” katanya.

Dia sudah memperhitungkan, gamenya kemungkinan akan menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak, terutama pejabat pendudukan.

“Tetapi mempertahankan permainan ini yang dirancang untuk menjadi penembak pasti akan menyenangkan para gamer,“ ujarnya.

“Orang-orang pada awalnya mungkin kesal dengan permainan saya karena dianggap mengandung konten politiknya terkait konflik Israel-Palestina. Memang konflik tersebut adalah masalah yang sangat kompleks dan ada banyak sudut pandang berbeda di antara orang Arab, Israel, dan masyarakat Barat pada umumnya,” lanjutnya.

Namun, ia menambahkan, ketika orang memainkannya, mereka akan melihat bahwa ini adalah game shooter yang sangat menyenangkan dan adiktif, dalam gaya retro terbaik, seperti penembak jadul klasik dari tahun 90-an. Terutama seperti pada film James Bond Golden Eye 007.

“Saya mengundang Anda untuk memainkan demo game saya. Periksa sendiri, dan beri saya umpan balik,” ujarnya.

Kebebasan Berekspresi

Menanggapi viral video game Knights of the Al-Aqsa Mosque, Paul McLoughlin, editor senior di media online The New Arab mengulas, banyak gamer telah lama menunjukkan bias dalam industri terhadap Muslim dan Arab. Orang-orang Arab dalam games lebih sering digambarkan sebagai orang-orang radikal yang memakai keffiyeh daripada manusia yang memiliki emosi jiwa.

“Ini adalah tren tersendiri di media sosial dan salah satu yang menantang banyak gamer,” ujarnya.

Menurutnya, demo video itu telah dipuji oleh para gamer karena nuansa permainannya yang berbeda dibandingkan dengan game klasik seperti Metal Gear dan Max Payne.

Sesuai dengan tradisinya, Knights of Al-Aqsa Mosque akan diluncurkan dalam varian lama, seperti X-Box360 dan PS3. Sebelum kemudian dirilis dalam PS4 dan PS5.

Rami Ismail, seorang pengembang video game, mengatakan kepada Arab News, meskipun dia belum memainkan game tersebut, game itu tampaknya merupakan permainan penembak yang cukup jitu.

“Memang akan biasa-biasa saja jika protagonisnya adalah orang Amerika Serikat atau tentara Inggris menyerang seorang Irak,” ujarnya.

Menurutnya, itu adalah bagian kebebasan berekspresi dan dapat didiskusikan dari perspektif yang berbeda.

“Industri game telah membuat ribuan penembak, di mana semua yang Anda lakukan adalah membunuh orang-orang berkulit stereotip cokelat yang mewakili semacam kejahatan dalam perspektif Barat. Saya percaya seluruh dunia harus mengizinkan untuk bereksperimen dengan cara yang sama,” ujarnya.

Baginya, itu adalah soal seni representasi yang berbeda dari industri kreatif.

Bagi Nidal sang penggagas video game perjuangan Al-Aqsa itu, mengatakan bahwa dia terbiasa hidup di Brasil, lahir dan besar di Brasil, banyak belajar setiap orang memiliki hak untuk hidup bebas, mengakui keyakinan dan budaya mereka.

“Saya bahkan tinggal dengan orang-orang dari berbagai kepercayaan dan budaya, termasuk orang Yahudi, jadi saya tidak anti-Semit,” ujarnya.

Ia menolak klaim anti-Semitisme, dengan mengatakan bahwa Knights of the Al-Aqsa Mosque telah mengikuti formula penembak tradisional dengan seorang pejuang melawan kerumunan pasukan musuh.

“Saya ingin memperjelas bahwa dalam permainan ini tidak ada orang Yahudi atau warga sipil Israel yang diserang oleh pemain. Semua skenario dan misi berlangsung di wilayah militer, seperti pangkalan militer, lapangan pasukan dan bunker tentara,” tambahnya.

Fiksi yang Terinspirasi Fakta

Sebuah ulasan oleh Editor digichat.info mengatakan, pandangan politik Fursan Al-Aqsa sangat terang-terangan terlihat dari warna bendera Palestina disertai berbagai pernyataan “Dari sungai ke laut, Palestina akan merdeka” baik dalam permainan maupun materi promosi.

Bahkan ketika pemain mati dalam permainan, layar kematian akan menampilkan tangan berlumuran darah, pistol, pisau dan bendera Palestina diiringi tulisan “Anda telah menjadi syuhada. Bersukacitalah, ibu para para syuhada, bersukacitalah! Persiapkan putra Anda untuk pernikahannya di surga. Ikat semua rasa sakit Anda dan sebarkan saputangan pernikahannya. Sebarkan kemarahan Anda pada penindas, dan penindasannya harus dihentikan”.

Menurut editor itu, plot game Fursan Al-Aqsa adalah sejarah fiksi yang terinspirasi oleh fakta nyata. Bahkan kelompok politik dan militer yang digambarkan dalam game adalah fiksi.

“Dalam game ini, pemain tidak menembak warga sipil Israel, wanita, anak-anak, dan orang tua, hanya tentara saja. Juga dalam game ini, tidak ada gambar konten seksual, obat-obatan terlarang, penodaan agama, atau ujaran kebencian terhadap kelompok, atau ras, atau agama mana pun,” lanjutnya.

Game ini hanya berisi representasi virtual dari gerakan perlawanan Palestina melawan pendudukan militer Israel, yang secara resmi diakui oleh PBB.

Game ini dapat dimainkan di konsol generasi lama, khususnya di Playstation 3 dan Xbox 360. Game ini juga akan tersedia di PC, dan bahkan dapat dimainkan di Windows XP. Kalau untuk melihat trailernya, bisa saja dibuka di YouTube.

Video games ini sendiri telah disetujui untuk dirilis oleh Kementerian Kehakiman Brasil dan diberi peringkat 18+.

Bagi yang suka games, ada baiknya mencobanya. Bukan sekedar game biasa, tapi ada nuansa perlawanan pejuang Palestina menghadapi tentara penjajahan Israel. (A/RS2/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)