Video “Pembersihan Etnis” Netanyahu Penuh Kontroversial

Oleh: Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Sebuah video provokasi diunggah daring (online) oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada akhir pekan lalu yang justeru dinilai seperti “gol bunuh diri”.

Di dalam video, Netanyahu menyatakan bahwa permintaan pemerintah Palestina untuk membongkar sejumlah pemukiman Yahudi menuju kepada “pembersihan etnis” terhadap 650.000 orang Yahudi yang tinggal di wilayah-wilayah pendudukan. Menurutnya tuntutan itu melanggar hukum internasional.

“Para pemimpin Palestina benar-benar menuntut sebuah negara Palestina dengan satu pra-syarat: tidak ada orang Yahudi,” katanya dalam video pendek yang diunggah di Facebook Jumat lalu, 8 September 2016. “Ada sebuah ungkapan untuk itu: Ini disebut pembersihan etnis.”

Ketika para pemimpin Palestina menyerukan negara bebas dari penjajah bersenjata, Yahudi satu-satunya penjajah yang putus harapan dan mereka harus diberi label sebagai “pembersih etnis”.

Dengan mengusung isu “pelanggaran internasional” Netanyahu berpikir dapat dengan cepat memenangkan dukungan dari para politisi sayap kanan Amerika Serikat (AS) yang berpotensi mendominasi pemerintahan AS berikutnya, jika kandidat Partai Republik Donald Trump terpilih sebagai presiden pada bulan November.

Pada Ahad, 11 September 2016, harian Haaretz mengutip pernyataan penasehat Trump, David Friedman yang setuju dengan Netanyahu dan menuduh Palestina berencana membuat negara masa depan “judenrein“, istilah yang digunakan Nazi yang berarti “tanpa Yahudi”.

“Ini adalah posisi yang sepenuhnya rasis dan anti-Semit (Yahudi),” tambah Freidman.

Pemukiman Yahudi yang dibangun penjajah Israel di tanah Palestina dan mengusir pemiliknya. (Foto: dok. Jewishbusinessnews.com)
Pemukiman Yahudi yang dibangun penjajah Israel di tanah Palestina dan mengusir pemiliknya. (Foto: dok. Jewishbusinessnews.com)

Amal Jamal, seorang profesor politik di Universitas Tel Aviv mengatakan kepada Al Jazeera bahwa video Netanyahu harus dipahami sebagai kebalikan dari prasyarat sebelumnya untuk pembicaraan damai, yaitu bangsa Palestina harus mengakui Israel sebagai negara Yahudi eksklusif.

Pernyataan Netanyahu dianggap sebagai perangkap bagi kepemimpinan Palestina, terutama mengingat bahwa dalam rakyat Israel ada sebanyak 1,7 juta warga Palestina yang sudah mengalami penderitaan diskriminasi yang merajalela.

Dalam video Jumat itu, Netanyahu mengeksploitasi keberadaan minoritas warga Palestina di Israel untuk memajukan agenda politiknya terhadap kelompok ekstrem sayap kanan. Ia secara eksplisit menyamakan pemukim Yahudi di wilayah-wilayah pendudukan dengan warga Palestina di Israel.

Pesannya adalah jika kepemimpinan Palestina bersikeras membersihkan pemukim Yahudi dari wilayah pendudukan, yang Netanyahu sebut “pembersihan etnis”, maka penjajah Israel akan dibenarkan untuk membersihkan penduduk Palestina yang menjadi warga Israel.

Menteri Pertahanan Israel Lieberman dan Menteri Pendidikan Naftali Bennett telah sepaham dengan Netanyahu bahwa evakuasi apa pun terhadap pemukiman adalah “pembersihan etnis”.

Pemimpin Palestina di Israel memahami bahwa pesan video Netanyahu adalah sinyal bahaya, karenanya Ahmed Tibi, anggota Palestina di parlemen Israel menulis pasan di akhir pekan.

“Kami bukan pemukim Israel, Netanyahu. (Kami) adalah imigran asing yang datang ke Israel dan diterapkan visa atau kewarganegaraan. (Kami) adalah penduduk asli,” tulis Tibi.

Profesor Jamal mengatakan, klaim Netanyahu juga akan membantu perdana menteri itu untuk “mengatur agenda dalam negeri” terhadap saingannya, politisi ekstrim kanan, seperti Lieberman dan Bennett.

Lieberman telah berulang kali mengumumkan rencana pertukaran lahan yang perbatasannya diakui Israel, untuk memindahkan sebagian masyarakat Palestina ke luar Israel sebagai balasan atas aneksasi pemukiman yang lebih besar.

Namun timbul pertanyaan. Jika klaim Netanyahu menyebut “masyarakat yang menuntut pembersihan etnis tidak mengejar perdamaian”, lalu bagaimana dengan Israel yang mendirikan “negara” dengan cara pengusiran massal terhadap warga Palestina dari tanah air mereka pada tahun 1948?

Chemi Shalev, seorang analis di harian Haaretz mengatakan, setelah bertahun-tahun Israel berusaha mencegah istilah “pembersihan etnis” mencuat, justeru Netanyahu yang kini memunculkan istilah itu melalui “pintu depan”.

Sebuah kontra-video buru-buru diproduksi oleh Otoritas Palestina yang menunjukkan bahwa pendiri Israel berulang kali berbicara tentang mendukung pembersihan etnis.

Untuk memperluas logika Netanyahu, komentator lain di harian Haaretz mengatakan, jika orang-orang Yahudi memiliki hak untuk tidak diganggu gugat hidupnya di tanah Palestina, mengapa rakyat Palestina harus diusir pada tahun 1948 dan tidak memiliki hak setara untuk hidup di bekas rumah mereka sekarang di Israel, di kota-kota seperti Haifa dan Jaffa?

Klaim Netanyahu tidak hanya memperjelas tentang kejahatan Israel di masa lalu, tapi juga hal yang memalukan.

Warga Palestina saat ini sedang dipaksa pergi dari tanah mereka oleh proyek perluasan pemukiman Yahudi. Pemerintah Israel menghancurkan rumah-rumah warga Palestina di Al-Quds (Yerusalem Timur) dan Tepi Barat, di Hebron Hills dan Lembah Yordan.

Jelasnya, “pembersihan etnis” menurut difinisi hukum internasional justeru sangat banyak berlangsung di Israel dalam bentuk proyek.

Menurut Jeff Halper, pendiri Komite Israel Melawan Penghancuran Rumah, Netanyahu memilih merilis videonya dalam bahasa Inggris, yang menunjukkan bahwa itu dimaksudkan untuk masyarakat asing.

Presiden AS Barack Obama menyebut komentar Netanyahu “tidak pantas dan tidak membantu”.

Sementara itu, ada laporan bahwa di belakang layar Gedung Putih yang juga menjadi pelindung Israel, muncul reaksi kemarahan. Karena pernyataan Netanyahu itu justeru dianggap sebagai serangan terhadap Washington.

Presiden AS Barack Obama di masa jabatan pertamanya telah gagal memaksa Netanyahu untuk membekukan perluasan pemukiman ilegalnya di tanah bangsa Palestina. Secara teratur dia menyebut pemukiman menjadi penghalang bagi perdamaian.

Bulan lalu, para pejabat AS dilaporkan telah memperingatkan akan memberikan “respon keras” jika Israel menghancurkan rumah warga Palestina di desa Susiya, Tepi Barat, untuk membuat jalan bagi rumah pemukim Yahudi.

Namun, video itu diyakini pasti bukan kesalahan. Video itu dianggap bagian dari strategi yang direncanakan oleh David Keyes, juru bicara Netanyahu.

Netanyahu telah mengeluarkan delapan video serupa di bawah arahan Keyes. Sebagian besar telah menjadi viral di dunia maya dan sangat populer di kalangan pendukungnya, baik di Israel dan Amerika Serikat.

Menurut Profesor Jamal, Netanyahu dan para penasihatnya bermaksud untuk sangat membatasi ketentuan dari proses perdamaian di masa depan.

“Sekarang siapa saja yang menuntut evakuasi pemukiman akan dituduh anti-Semit (Yahudi),” katanya.

Jeff Halper sepakat bahwa tujuan Netanyahu adalah untuk membingkai ulang asumsi masyarakat internasional. (P001/P4)

Sumber: tulisan Jonathan Cook di Al Jazeera

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)