Moscow, MINA – Kekhawatiran penyakit pes kembali mencuat setelah seorang pekerja di Institut Riset Antipes Siberia dan Timur Jauh di Irkutsk, Rusia, meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui. Sekitar 200 orang yang pernah melakukan kontak dengannya kini berada dalam pemantauan medis, sementara kemungkinan infeksi pes masih dalam penyelidikan.
Pekerja berusia 28 tahun tersebut meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit di Shelekhov. Otoritas Rusia langsung melakukan langkah pencegahan dan melacak orang-orang yang berinteraksi dengannya.
Namun, badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan belum menemukan bukti adanya hubungan antara kematian tersebut dan patogen berbahaya dari laboratorium tempat korban bekerja.
Laman resmi WHO pada Selasa (6/10) menyatakan seluruh kontak korban telah dilacak dan dipantau. Juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan hingga kini tidak ada orang yang dipantau menunjukkan gejala penyakit. WHO juga belum melihat indikasi adanya infeksi lanjutan dan masih menunggu informasi resmi lebih lengkap dari pemerintah Rusia.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Di tengah perhatian terhadap Rusia, WHO mengungkap bahwa sepanjang 2019–2025 terdapat 3.860 kasus suspek pes yang dilaporkan dari 10 negara. Dari jumlah tersebut, 2.646 kasus dikonfirmasi, sedangkan 423 kematian tercatat di enam negara yang melaporkan kasus terkonfirmasi. Tingkat kematian berdasarkan kasus suspek di enam negara tersebut mencapai 11 persen.
WHO mencatat enam negara yang melaporkan kasus pes terkonfirmasi selama periode tersebut adalah Republik Demokratik Kongo, Kenya, Madagaskar, Uganda, China dan Mongolia. Republik Demokratik Kongo serta Madagaskar menyumbang 97,7 persen dari kasus yang dilaporkan terkonfirmasi. Rusia tidak termasuk dalam daftar enam negara tersebut untuk periode 2019–2025.
Pes disebabkan bakteri Yersinia pestis dan umumnya menyebar melalui gigitan kutu yang terinfeksi dari hewan pengerat. Bentuk pneumonik merupakan salah satu bentuk berat yang dapat menular antarmanusia melalui partikel pernapasan.
WHO menekankan deteksi dini, pengawasan hewan dan lingkungan, serta pengobatan antibiotik segera sebagai langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit. []
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic