Wakil Dekan FIB UI: Arab dan Timur Tengah Tidak Dapat Dipisahkan dari Indonesia

(Foto: Doc. MINA)

Depok, MINA – Wakil Dekan bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Dr. Untung Yuwono, menyampaikan bahwa Arab dan Timur Tengah tidak dapat dipisahkan dari Indonesia.

Menurutnya, berdasarkan catatan sejarah, negara-negara Arab dan Timur Tengah adalah yang pertama mendukung kemerdekaan Indonesia. Saat Indonesia telah merdeka dan membutuhkan pengakuan dunia internasional, dunia Arab hadir mengakui kedautan RI.

“Para pemimpin negara-negara Arab saat itu bahkan membentuk Komite Pertahanan Indonesia. Mereka mendorong diskusi tentang isu Indonesia di berbagai lembaga internasional, seperti PBB dan Liga Arab,” kata Untung saat mewakili Dekan FIB UI menyampaikan pidato Pembukaan Festival Timur Tengah (FTT) 2022 di Auditorium Gedung 4 FIB UI Depok, Senin (28/11).

Dia menyebutkan dalam buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri,” Zein Hassan menulis bahwa pengakuan kemerdekaan tersebut pada akhirnya menempatkan Indonesia sejajar dengan negara lain – termasuk Belanda – dalam perebutan diplomasi internasional.

Festival Timur Tengah 2022 yang digelar Ikatan Keluarga Asia Barat (IKABA) selaku Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) berlangsung selama empat hari, Senin-Kamis, 28 November – 1 Desember 2022, di Auditorium Gedung 4 FIB UI Depok.

Festival yang mengusung tema “Mengenang Sejarah Arab untuk Masa Depan yang Lebih Baik” ini juga dibuka secara resmi oleh Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia dan Asean, Y.M. Abdulla Salem Al-Dhaheri dan Ketua Program Studi Arab FIB UI Bastian Zulyeno.

Acara pembukaan juga dihadiri Atase Ekspatriat Kedutaan Besar Republik Yaman untuk Indonesia Khalid bin Saad, Direktur
Timur Tengah Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Kemlu Bagus Hendraning Kobarsyih, Staf Khusus Rektor Bidang Kerjasama
Industri dan Pendidikan Universitas Indonesia Muhammad Luthfi Zuhdi, Advisor OIC Youth Indonesia & Dosen Kajian Ketahanan
Nasional SKSG UI Muhammad Syaroni Rofii, Ph.D, dan Kepala Peliputan Kantor Berita MINA sekaligus Wakil Sekjen
Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) Rana Setiawan.

Selain itu dihadiri perwakilan dari IKABA, Kementerian luar Negeri RI, mahasiswa FIB UI, peserta lomba FFT 2022 pelajar
dan mahasiswa dari berbagai sekolah dan kampus di Indonesia, serta tamu undangan lainnya.

Khusus untuk Uni Emirat Arab (UEA), dalam pidato pembukanya, Untung menyampaikan hubungan bilateral kedua negara sudah berlangsung lama.Hal ini terlihat dari sejarah hubungan diplomatik kedua negara yang telah terjalin sejak 1976.

Tercatat KBRI diresmikan di Abu Dhabi pada 1978, sedangkan Kedutaan Besar Uni Emirat Arab di Jakarta diresmikan pada 1991.

“UEA dan Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat. Kedua negara bukan hanya mitra kerja sama, tetapi juga saudara,” ujarnya.

Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed Bin Zayed Al-Nahyan (MBZ) meresmikan Masjid Raya Sheikh Zayed di Kota Surakarta pada 14 November 2022.

Nama pemimpin UEA ini juga sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia karena pada April 2021 Presiden Jokowi mengubah nama Tol Jakarta-Cikampek menjadi Tol MBZ, Sheikh Mohamed Bin Zayed.

Selain itu, lanjut Untung, lebih jauh lagi, menyoal hubungan bilateral antara Indonesia dan Yaman, telah terjalin dengan baik mengingat kedua bangsa ini memiliki keterkaitan emosional dan sejarah, terutama terkait dengan sejarah penyebaran Islam ke Indonesia di masa lalu.

Suku Yaman dikenal dengan suku Hadhrami yang berasal dari daerah Hadhramaut, Yaman bagian selatan.

Mereka telah sampai ke Nusantara sejak abad ke-11 M ketika orang Hadhrami menginjakkan kaki di tanah Indonesia untuk berdagang dan menyebarkan Islam.

Kaya Satra dan Budaya

Untung juga menyampaikan, Arab dan Timur Tengah adalah wilayah yang kaya akan sastra dan budaya. “Kita tidak asing lagi dengan dongeng “1001 malam” atau kitab “alfu laila wa laila,”” jelasya.

Menurut Untung, karya sastra Arab yang fenomenal ini merupakan karya luar biasa para sastrawan Arab di zaman keemasan. Meski telah berusia 12 abad, kisah 1001 Malam masih memiliki pengaruh besar pada budaya Arab dan non-Arab.

Selain itu, lanjutnya, sastra Arab pada masa khilafah memiliki pengaruh yang besar terhadap peradaban manusia, khususnya dalam bidang kebudayaan.

“Untuk itu, saya berharap Festival Timur Tengah ini akan membuka wawasan kita akan kekayaan budaya dan tradisi Timur Tengah. Dan melalui acara ini dapat mempererat hubungan Indonesia dengan negara-negara Arab,” pungkas Untung.(L/R1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)