Wakil Gubernur DKI: Anak Muda Berperan Penting Lawan Terorisme

(Foto: Shamil/MINA)
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat saat menyampaikan sambutan pada delegasi Konferensi Internasional Pemuda Melawan Terorisme 2016 di Balai Agung Jakarta, 13 Maret 2016.(Foto: Shamil/MINA)

Jakarta, 5 Jumadil Akhir 1437/13 Maret 2016 (MINA) – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, menekankan pentingnya peranan anak muda dalam membantu mencegah dan melawan penyebaran terorisme.

Dengan pesatnya kemajuan di bidang informasi teknologi, dunia seakan tidak memiliki batas. Setiap orang di sejumlah wilayah dapat terhubung. Namun, kelebihan itu juga menyisakan celah berbahaya jika digunakan orang tidak bertanggung jawab.

Menurut Djarot, masyarakat harus siap menghadapi perang di dunia internet, terutama yang berkaitan dengan terorisme. “Anak muda harus kreatif mengembangkan situs positif untuk melawan tindak kekerasan,” katanya di sela Gala Diner penyambutan delegasi Konferensi Internasional Pemuda Melawan Terorisme 2016 di Balai Agung Jakarta, Ahad malam.

Konferensi Internasional Pemuda Melawan Terorisme yang digelar 13-16 Maret dalam rangkaian acara puncak Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyyah (IMM) XVII Tahun 2016 ini itu dihadiri mahasiswa dan pemuda Indonesia serta utusan pemuda dari sekitar 52 negara.

Ajaran yang mengajak orang melakukan tindakan kekerasan atas dasar apapun, kata Djarot, tidak bisa diterima. Anak muda harus bisa mengatasi masalah ini, termasuk pidato kebencian dan penyiksaan melalui teknologi informasi.

Selain itu, masyarakat perlu menyeragamkan persepsi dalam membangun dunia damai dan melawan ancaman terorisme.

Menurut Djarot, terorisme menimbulkan rasa takut melalui cara-cara kekerasan untuk tujuan-tujuan politik.

Islam, lanjut Djarot, selalu mengajarkan rahmat bagi sekalian alam dan amar ma’ruf nahi munkar. “Nah, ini juga harus disebarkan ke seluruh dunia,” tambahnya.

“Kenapa para pemuda gampang masuk kelompok teroris? Karena dia belum mendapatkan pencerahan yang baik tentang nilai-nilai Islam. Nilai-nilai Islam itu harus ditanamkan agar kita tidak mudah dicuci otak,” lanjut Djarot.

Menurut Djarot, proses mencuci otak seseorang tidak membutuhkan waktu seminggu dua minggu, tapi dua hari. Karena itu, anak muda Indonesia perlu memperkaya ilmu agama dengan benar. Hal itu juga untuk mendukung Pancasila. (L/P020/P2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)