Wanita-Wanita Palestina yang Kehilangan Sebelah Matanya

Dalam adegan yang mengerikan di sebelah timur kamp pengungsi Al-Bureij, Gaza Tengah, seorang penembak jitu Israel dengan sengaja menembak seorang wanita berusia 20 tahun, Mai Abu Rweida, menggunakan peluru baja berlapis karet tepat di mata kanannya, meninggalkan ia yang terluka parah.

Semuanya terjadi dalam sekejap. Peluru itu nyaris tidak terdengar. Mai jatuh ke tanah, bersimbah darah yang menutupi wajahnya. Tim medis kemudian berkumpul, mencoba membantu, lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.

Mai diberikan pertolongan pertama di tempat kejadian, kemudian dia menjalani operasi bedah di sebuah rumah sakit di Kota Gaza, di mana dokter harus melepaskan mata kanannya.

Pasukan pendudukan Israel setiap pekan menargetkan para demonstran Palestina dalam aksi Great March of Return dengan peluru dan bom, mengakibatkan puluhan orang terbunuh atau terluka parah, tindakan yang dengan jelas dilarang hukum internasional

Jurnalis foto PIC yang hadir dalam peristiwa penembakan itu mengatakan, “Saya tidak bisa melihat wajah Mai dengan jelas saat dia ditembak. Perban besar menutupi wajahnya, yang saya tahu ketika saya mengambil foto di dekat pagar perbatasan adalah, dia ditembak tepat di matanya. Darah menutupi kufiyah dan tangannya yang gemetaran.”

Di ranjang rumah sakit Mai berkata, “Saya menderita luka ringan enam kali selama keikutsertaan saya dalam protes Great March of Return. Pada hari Jumat, 6 Desember, di awal demonstrasi, saya ditembak di mata. Peluru itu merusak  mata kanan saya dan menyebabkan patah tulang tengkorak dan rahang. Dokter mengangkat mata saya dan sekarang saya perlu transplantasi kornea.”

Ia mengatakan, sebelum ditembak, dia melihat seorang tentara Israel melambai dan mengarahkan jari ke matanya, isyarat ancaman untuk menembak matanya.

“Aku berdiri di sana tidak melakukan kesalahan,” kenang Mai.

Tentara itu menembakkan granat gas air mata ke Mai. Dia berusaha melarikan diri tetapi masih di hadapan tentara. Beberapa detik kemudian, dia mengangkat senjatanya, membidik Mai dan menembaknya di mata kanan.

Mai meminta Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas untuk segera turun tangan dan membantunya menerima perawatan yang diperlukan.

Selain kehilangan penglihatan secara permanen di mata kanannya, Mai telah mengalami patah tulang tengkorak dan rahangnya oleh pecahan peluru dan dia juga perlu menjalani operasi lain.

Beberapa jam setelah operasi pengangkatan mata, Mai muncul dalam sebuah video, dengan penutup mata di wajahnya, berbicara tentang tekadnya yang kuat meskipun sakit.

Jaqueline Shehada, telah menemani Abu Rweida di rumah sakit sejak hari pertama untuk mendukungnya.

Shehada mengatakan, “Saya melihatnya saat dia ditembak. Dia berada sekitar 30 meter dari saya. Dia jatuh ke tanah dan berlumuran darah sebelum paramedis tiba.”

Shehada, yang juga terluka dalam protes Great March of Return pada November 2018 mengatakan, tentara Israel sengaja melukai mata wanita-wanita Palestina.

“Saya mengalami cedera yang sama setahun yang lalu ketika seorang tentara (Israel) menembakkan peluru yang mengenai mata saya, merusak bagian retina dan menyebabkan kebutaan sebagian,” ungkapnya.

Sabrin Al-Arami, wanita lain
yang juga terluka dalam protes sebelumnya mengatakan, dia ada di sana ketika Mai ditembak.

“Apa yang terjadi adalah disengaja dan direncanakan,” ujar Al-Arami

Al-Arami mengatakan, dia juga berdiri di sebelah Abu Rweida bersama dengan sekelompok wanita lain yang mengibarkan bendera Palestina secara damai di dekat pagar perbatasan.

Mengingat apa yang telah terjadi padanya, Al-Arami berkata, “Seorang tentara Israel menembak saya dengan peluru karet di mata. Saya merasa pusing dan jatuh. Ketika saya bangun, saya menyadari bahwa saya kehilangan sebagian pandangan di mata kiri saya.”

Al-Arami terluka pada Maret 2019 dalam insiden serupa yang meninggalkan luka dalam di wajahnya. Dia telah menjalani beberapa siklus perawatan tetapi masih membutuhkan operasi di daerah hidung dan matanya.

Puluhan warga Palestina yang terluka dalam Great March of Return menderita masalah kesehatan yang rumit dan tidak dapat disembuhkan oleh rumah sakit di Jalur Gaza yang diblokade karena kurangnya peralatan, pasokan, dan kemampuan. (AT/Ast/RS1)

sumber : Palestinian Information Center (PIC)

Mi’raj News Agency (MINA)