Wanita Yahudi Asal Kanada Picu Kemarahan Setelah Foto di Al-Aqsha

Yerusalem, MINA -Lauren Isaacs (23) seorang wanita Yahudi asal Toronto, Kanada, memicu amarah netizen, setelah ia berpose di kompleks Masjid Al-Aqsha dengan memegang bendera Herut Kanada, yang mirip bendera Israel.

TV Palestina telah menyiarkan respon kemarahan netizen dan pemirsa atas hal tersebut.

Lauren merasa tidak tahu bahwa selama liburannya ke Israel itu akan berakhir dengan meninggalkan “tanda aib amarah umat Muslim,” mengutip saluran Palestine Al-Quds.

Ia yang bekerja sebagai direktur Toronto Herut Kanada, sebuah organisasi pro-Zionis, pergi ke Temple Mount sejak Selasa, 11 Juni bersama ibunya.

Bersemangat untuk berada di situs paling suci Yudaisme, ia membentangkan bendera Herut Kanada-nya, yang menyerupai bendera Israel, dan ibunya memotretnya dengan Dome of the Rock di latar belakang.

“Aku tidak berusaha memprovokasi siapa pun. Saya tidak percaya bahwa bendera menghasut apa pun. Saya pikir semua orang harus memegang bendera mereka dengan bangga. Ini benar-benar tanda kebanggaan,” kata Lauren kepada World Israel News .

“Saya seorang Yahudi yang bangga, seorang Zionis yang tidak menyesal dan saya berdiri di tanah suci saya. Dan ketika Anda berdiri di tanah suci Anda, saya tidak berpikir ada yang salah dengan memegang bendera Anda dengan bangga,” ujarnya.

Dia lalu memposting gambar itu ke halaman Facebook-nya dan gambar itu menuai amarah netizen dan sampai ke redaksi TV Al-Quds.

“Sejak kemarin saya memblokir 65 orang berbeda di Facebook yang telah menulis hal-hal mengerikan. Tapi ya, saya mempostingnya. Aku bangga. Saya suka Temple Mount. Ini rumah kami dan saya melakukannya dengan bangga dan gembira, bukan untuk membuat marah siapa pun,” kata Lauren.

“Saya berdiri di belakang apa yang saya lakukan adalah benar. Saya seorang Zionis yang tidak menyesal,” imbuhnya.

Lauren dan ibunya diizinkan petugas keamanan Israel naik ke situs sendirian dan tidak diselidiki.

“Saya merasa emosional. Saya baru melakukannya. Dan kemudian aku merasakan, rupanya agak berbahaya,” ujarnya.

Lauren datang ke Israel selama satu bulan untuk belajar dan melakukan studi penelitian.

Dia menyebut dirinya seorang Zionis yang setia, dan tertarik pada Herut karena organisasi tersebut menggabungkan pendidikan dan aktivisme.

“Kami melakukan hal-hal di dalam kelas, lokakarya. Kami belajar bagaimana berbicara tentang Israel. Bagaimana cara mengajar tentang Israel,” kata Lauren.

“Tapi kami juga ada di jalanan, melakukan aktivisme masyarakat. Kami berada di protes, di kontra protes, yang luar biasa. Karena kami menggabungkan semua elemen Zionisme ini,” lanjutnya.

World Herut menekankan “hak orang-orang Yahudi untuk hidup dengan aman dan bebas di tanah airnya yang kuno.”

Organisasi ini memiliki sayap pemuda, World Magshimey Herut, yang mengkader paham zionisme kepada generasi muda. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)