WARGA ACEH SINGKIL BENTROK, SATU GEREJA TERBAKAR

Tampak polisi dan pihak keamanan gabungan berusaha menjaga keamanan, pasca bentrok antar warga, di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil (Habibi/MINA)
Tampak polisi dan pihak keamanan gabungan berusaha menjaga keamanan, pasca bentrok antar warga, di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil (Habibi/MINA)

Aceh Singkil, 30 Dzulhijjah 1436/13 Oktober 2015 (MINA) – Masa yang menamakan diri Pemuda Peduli Islam (PPI) Aceh Singkil terlibat bentrok dengan sejumlah warga yang berada di sekitar Gereja, di Desa Suka Makmur, Gunung Meriah, Aceh Singkil sekitar pukul 11.30 wib siang tadi (13/10).

Masa dalam jumlah besar dengan ikat kepala putih plus bambu runcing dan senjata tajam ini berhasil menerobos barikade petugas keamanan gabungan yang melakukan penjagaan di jalan menuju gereja.

Kepolisian Aceh bersama TNI terus menambah personel di lokasi kerusuhan untuk mengamankan dan mengantisipasi peristiwa meluas ke daerah lain.

“Polri dan TNI sudah diturunkan ke lokasi untuk memberikan pengamanan, saat ini situasi di sana sudah tentram,” kata Kapolda Aceh Irjen Pol Husein Hamidi, sebagaimana dikutip dari laman Viva.co.id.

Sampai berita ini diturunkan, setidaknya dua korban meninggal dan tiga puluh orang lainnya luka-luka serta satu di antaranya merupakan anggota TNI Kodim 0109/Singkil. Korban luka-luka segera dievakuasi ke RSUD Aceh Singkil dan Puskesmas Aceh Singkil.

Warga yang tewas tersebut akibat ditembak yang diduga dari arah gereja. Menurut Kapolda, polisi sedang mencari pelaku penembakan itu.

“Yang sudah ada laporan, dua orang yang meninggal, yang lain belum ada konfirmasi,” ujar Husein Hamidi.

Menurutnya, polisi juga mencari pelaku pembakaran gereja yang terjadi pada Selasa pagi 13 Oktober 2015.

“Kami sedang mencari para pelaku penembakan dan yang membakar gereja,” ujar Husein Hamidi.

Bentrokan berdarah ini menurut Anton, warga Aceh Singkil, saat dihubungi via telpon oleh MINA, disebabkan oleh persoalan pendirian gereja secara ilegal.

Dulu ada kesepakatan tahun 1976, dimana hanya 4 Gereja saja yang boleh berdiri, tapi saat ini sudah ada 15 gereja yang dibangun,” kata Anton.

Menurut Anton, warga juga tidak puas dengan kesepakatan Pemkab Aceh Singkil yang menginginkan pembongkaran Gereja dilakukan pada pekan depan.

“Kalau ditunda lagi oleh pemerintah, akhirnya lama kelamaan batal lagi, tidak jadi lagi, makanya kami ambil jalan sendiri,” kata Anton.

Anton menambahkan, tuntutan warga untuk membongkar Gereja sebenarnya sudah diajukan pada satu pekan yang lalu.

“Pecahnya hari ini, tapi tuntutan sudah sepekan lalu,” kata Kabag Humas Pemkab Aceh Singkil, Kaldum.

Menurut Kaldum, sebenarnya aspirasi dan desakan warga supaya Pemkab segera membongkar Gereja, sudah disampaikan, namun lantaran Pemkab dinilai lamban, maka masyarakat yang tidak sabar langsung turun ke jalan.

Saat ini, situasi di Aceh Singkil berangsur kondusif. Pihak keamanan telah berhasil membubarkan masa dan mengamankan sejumlah orang yang diduga menjadi provokator.

Polisi juga berhasil menyita sejumlah barang bukti seperti kampak, parang, bom molotov, bambu runcing, klewang, tiga unit mobil jenis cold diesel, tiga unit mobil jenis mitsubisi carry pick up, dan 20 unit sepeda motor.(L/Hbb/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0