Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga Gaza Berdemonstrasi Protes Hamas, Benarkah?

Ali Farkhan Tsani Editor : Arif R - 6 menit yang lalu

6 menit yang lalu

6 Views

Aksi protes warga Gaza. (24ae)

Gaza, MINA – Media online dan media sosial ramai memberitakan, sebagian warga di Beit Lahia dan Deir al-Balah Jalur Gaza turun ke jalan pada Selasa dan Rabu (26/3) untuk berdemonstrasi memprotes terhadap Hamas. Benarkah?

Para demonstran memang terdengar menyerukan diakhirinya perang Israel terhadap mereka, tanggapan terhadap tuntutan mereka, dan diakhirinya pertumpahan darah. Seperti disebutkan media 24ae.

Dua hari setelah protes, sejumlah demonstran menyampaikan kepada berbagai media bahwa motivasi mereka turun ke jalan adalah untuk menghentikan perang.

Mereka juga hendak mengirim pesan ke seluruh dunia mengenai luasnya kesengsaraan dan penderitaan yang mereka alami, serta meminta pertanggungjawaban baik Israel maupun Hamas.

Baca Juga: WFP: Persediaan Makanan di Gaza Tinggal Dua Pekan

Di antara mereka yang mengambil bagian dalam demonstrasi tersebut adalah Bilal Abu Zeid, seorang warga Palestina dari Gaza Utara.

Abu Zeid mengatakan kepada CNN bahwa Israel terutama bertanggung jawab atas kesengsaraan Gaza.

Ia juga menyebut Hamas, yang menguasai Jalur Gaza, juga memikul tanggung jawab.

Rekaman video dari aksi protes menunjukkan ratusan orang berbaris di jalan-jalan.

Baca Juga: Mesir dan Qatar Bahas Pemulihan Gencatan Senjata Gaza

Mahmoud Al-Hajj Ahmed, seorang dokter bedah di Rumah Sakit Kamal Adwan yang hadir dalam aksi protes di Beit Lahia, menekankan, “Pesan kami kepada tentara pendudukan Israel adalah untuk menghentikan pertumpahan darah dan perang yang telah menguras energi kami dan menyebabkan kami kehilangan semua orang yang kami cintai dan teman-teman.”

Para ahli berpendapat bahwa banyak warga Palestina yang tidak mendukung Hamas menahan diri untuk mengkritiknya secara terbuka karena takut dikucilkan secara sosial, karena beberapa menganggap Hamas sebagai satu-satunya kelompok yang secara aktif menentang pendudukan Israel atas wilayah Palestina.

Sementara yang lain menyembunyikan dukungan mereka terhadap gerakan tersebut, karena takut menjadi sasaran Israel.

Tentara Israel melanjutkan pengeboman Jalur Gaza pada tanggal 18 Maret dan kemudian melakukan operasi darat, menyusul gencatan senjata selama hampir dua bulan dalam perang yang meletus menyusul serangan yang dilancarkan Hamas di Israel pada tanggal 7 Oktober 2023, dari Jalur tersebut, yang telah dikuasai gerakan tersebut sejak tahun 2007.

Baca Juga: Puluhan Jurnalis Palestina Gelar Aksi Protes Penargetan Rekan Kerjanya di Gaza

Kementerian Kesehatan pemerintah Hamas mengumumkan pada hari Rabu bahwa 830 warga Palestina telah tewas sejak dimulainya kembali serangan, sehingga jumlah korban tewas di Jalur Gaza yang terkepung menjadi 50.183 sejak pecahnya perang.

Raed Abu Hamouda, seorang warga Palestina dari Gaza utara, mengatakan ia ingin berpartisipasi dalam protes tersebut tetapi tidak dapat mencapai tempat pertemuan.

Ia menambahkan bahwa keinginan warga adalah Palestina harus memiliki pemerintahan bersatu dengan dukungan regional dan internasional.

Abu Hamouda juga menyatakan kekhawatiran bahwa pemerintah Israel akan mengeksploitasi protes tersebut, yang dapat melemahkan gerakan perlawanan.

Baca Juga: 180 Ribu Jamaah Padati Al-Aqsa Meski Israel Perketat Akses Masuk

Dalam pidatonya di Knesset Israel pada hari Rabu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyinggung protes di Gaza, dan mengatakan bahwa protes tersebut “menunjukkan bahwa kebijakan kami berhasil.”

“Dalam beberapa hari terakhir, kita telah menyaksikan sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya, protes terbuka di Jalur Gaza terhadap kekuasaan Hamas,” kata Netanyahu.

Sebaliknya, kantor media pemerintah Hamas di Gaza menyatakan bahwa slogan-slogan anti-gerakan itu bersifat “spontan dan tidak mencerminkan posisi nasional secara umum.”

Kantor tersebut menambahkan, setiap slogan atau posisi spontan yang dikeluarkan oleh beberapa demonstran muncul sebagai akibat dari tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dialami rakyat Gaza. Ini juga karena upaya pendudukan yang terus-menerus untuk memicu pertikaian internal dan mengalihkan perhatian dari kejahatan yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Juru Bicara Hamas Syahid di Gaza Utara

Gerakan tersebut menambahkan bahwa hak warga Palestina untuk mengekspresikan pendapat mereka dan berpartisipasi dalam demonstrasi damai.

“Adalah sah dan merupakan bagian integral dari nilai-nilai nasional yang kami yakini dan bela,” lanjut pernyataan.

Hamas menganggap protes tersebut mencerminkan tekanan luar biasa dan pembantaian harian yang dialami rakyat Gaza. Dengan agresi Israel yang terus berlanjut dan penargetan warga sipil, hal ini dapat menimbulkan kemarahan yang meluas dan kebencian rakyat, yang wajar saja mengingat kejahatan yang terus berlangsung hingga saat ini. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Nasib Sembilan Personel Medis PRCS di Rafah Belum Diketahui

Rekomendasi untuk Anda