Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga Gaza Berjuang Bertahan Dalam Reruntuhan

Rudi Hendrik Editor : Widi Kusnadi - 22 detik yang lalu

22 detik yang lalu

0 Views

Seorang warga Palestina di Jalur Gaza melihat kehancuran daerahnya dari rumahnya yang juga hancur. (Foto: WAFA)

SAAT malam tiba di Gaza Utara, sebagian besar pemandangan kota yang dipenuhi bangunan runtuh dan tumpukan puing berubah menjadi gelap gulita.

Putra-putra Rawya Tamboura yang masih kecil ikut tinggal di dalam reruntuhan rumahnya. Mereka takut gelap, jadi sang ibu menyalakan senter dan lampu ponselnya untuk menghibur mereka, selama baterainya masih ada.

Terlantar selama perang yang berlangsung sekitar 16 bulan, Tamboura kembali ke rumahnya. Namun, rumahnya masih seperti cangkang kehidupan yang membuat frustrasi.

“Tidak ada air bersih, listrik, pemanas dan tidak ada peralatan untuk membersihkan puing-puing,” katanya.

Baca Juga: Hamas Peringati 31 Tahun Pembantaian Masjid Ibrahimi

Hampir 600.000 warga Palestina membanjiri kembali Gaza Utara di bawah gencatan senjata yang kini telah berlangsung sebulan di Gaza, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Setelah kelegaan dan kegembiraan awal karena mereka bisa kembali ke rumah, meskipun rusak atau hancur, mereka sekarang menghadapi kenyataan hidup di reruntuhan untuk masa mendatang.

“Beberapa orang berharap perang tidak pernah berakhir, karena merasa lebih baik terbunuh,” kata Tamboura. “Saya tidak tahu apa yang akan kami lakukan dalam jangka panjang. Otak saya berhenti merencanakan masa depan.”

Gencatan senjata selama enam pekan akan berakhir pada Sabtu, 29 Februari 2025, dan tidak pasti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Baca Juga: Irlandia Desak Semua Negara Fokus pada Situasi di Tepi Barat

Ada upaya untuk memperpanjang ketenangan saat fase berikutnya dinegosiasikan. Jika pertempuran meletus lagi, mereka yang kembali ke utara bisa mendapati diri mereka sekali lagi di tengah-tengah perang.

Sebuah laporan pekan lalu oleh Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa memperkirakan akan menelan biaya sekitar $53 miliar untuk membangun kembali Gaza, setelah seluruh lingkungan dihancurkan oleh perang genosida Israel di daerah kantong Palestina yang berpenduduk padat itu. Saat ini, hampir tidak ada kapasitas atau dana untuk memulai pembangunan kembali yang signifikan.

Pemerintah kota Gaza mulai memperbaiki beberapa saluran air dan membersihkan puing-puing dari jalan-jalan, kata seorang juru bicara, Asem Alnabih. Namun, mereka kekurangan peralatan berat. Sementara ini hanya ada 40 buldoser dan lima truk sampah yang masih berfungsi, katanya.

Bertahan hidup dari hari ke hari

Baca Juga: Tentara Israel Hancurkan Pintu-Pintu Masjid di Nablus

Rumah Tamboura di kota utara Beit Lahiya hancur oleh serangan udara di awal perang, jadi dia dan keluarganya tinggal di Rumah Sakit Indonesia yang ada di dekatnya. Di rumah sakit yang dibangun oleh MER-C Indonesia tersebut, di bekerja sebagai perawat.

Setelah gencatan senjata, mereka pindah kembali ke satu-satunya kamar di rumahnya yang masih setengah utuh. Langit-langitnya sebagian runtuh, dindingnya retak, lemari es dan wastafel yang masih ada tidak dapat digunakan karena tidak ada air atau listrik. Mereka menumpuk seprai dan selimut di sudut.

Tamboura mengatakan, putranya yang berusia 12 tahun membawa wadah air yang berat dua kali sehari dari stasiun distribusi. Mereka juga harus mencari kayu bakar untuk memasak. Masuknya bantuan, maka berarti ada makanan dan harganya di pasar akan turun. Namun meski turun, harga itu tetap mahal.

Karena Rumah Sakit Indonesia terlalu rusak untuk berfungsi, Tamboura berjalan kaki satu jam setiap hari untuk bekerja di Rumah Sakit Kamal Adwan. Dia mengisi daya ponselnya dan suaminya menggunakan generator rumah sakit.

Baca Juga: 162 Tenaga Medis Gaza Masih Ditahan dan Disiksa di Penjara Israel

Banyak kerabat Tamboura yang kembali tanpa menemukan apa pun yang tersisa dari rumah mereka, sehingga mereka tinggal di tenda-tenda di atas atau di samping reruntuhan bangunan yang tertiup angin musim dingin atau banjir saat hujan.

“Saya takut menghadapi kenyataan ini”

Sementara Asmaa Dwaima dan keluarganya kembali ke Kota Gaza, tetapi dia harus menyewa apartemen karena rumah mereka di lingkungan Tel al-Hawa hancur. Hanya beberapa pekan setelah kembali, dia pergi mengunjungi rumah empat lantai miliknya, yang sekarang hanya berupa tumpukan puing yang rata dengan tanah dan terbakar.

“Saya tidak bisa datang ke sini karena saya takut. Saya membayangkan rumah saya dalam pikiran saya, keindahannya, dan kehangatannya. Saya takut menghadapi kenyataan ini,” kata dokter gigi berusia 25 tahun itu. “Mereka tidak hanya menghancurkan batu, mereka juga menghancurkan kita dan identitas kita.”

Baca Juga: 12.000 Warga Palestina Mengungsi dari Kamp Tulkarm, Tepi Barat

“Kami perlu menyingkirkan puing-puing karena kami ingin mengeluarkan pakaian dan beberapa barang kami,” katanya. “Kami membutuhkan peralatan berat. Tidak ada batu bata atau peralatan konstruksi lainnya dan, jika tersedia, harganya sangat mahal.”

Keputusasaan semakin meningkat

Tess Ingram, Juru Bicara UNICEF yang mengunjungi Gaza Utara sejak gencatan senjata, mengatakan bahwa keluarga yang ditemuinya “berduka atas kehidupan yang pernah mereka jalani saat mereka mulai membangun kembali.”

Keputusasaan mereka, katanya, “semakin intens.”

Baca Juga: Jelang Ramadhan, Israel akan Batasi Akses ke Masjid Al-Aqsa

Huda Skaik, seorang mahasiswa berusia 20 tahun, harus berbagi kamar dengan tiga saudara kandung dan orang tuanya di rumah kakek-neneknya di Kota Gaza. Ini merupakan peningkatan dari kehidupan di kamp-kamp tenda di Gaza Tengah, tempat mereka mengungsi selama perang, katanya.

Di sana, mereka harus tinggal di antara orang-orang asing, dan tenda mereka hanyut oleh hujan. Setidaknya di sini mereka memiliki tembok dan bersama keluarga, katanya.

Sebelum perang terjadi, Skaik baru saja mulai belajar sastra Inggris di Universitas Islam Gaza. Dia sekarang terdaftar dalam kelas daring yang diselenggarakan universitas tersebut. Namun, internetnya lemah, dan listriknya bergantung pada panel surya yang tidak selalu berfungsi.

“Bagian terburuknya adalah kami baru menyadari bahwa kami telah kehilangan segalanya,” katanya. “Kehancurannya sangat besar, tetapi saya berusaha untuk tetap positif.” []

Baca Juga: ICRC Peringatkan Dampak Serangan Israel di Tepi Barat

Sumber: TRT World

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Smotrich Klaim Israel Siap Duduki Gaza dengan Bantuan Trump

Rekomendasi untuk Anda

Palestina
Internasional
Dunia Islam
Eropa
Dunia Islam
Asia