Warga Gaza Hidup di “Septic Tank”

Kamp pengungsi di Jabaliya, Jalur Gaza utara. Pembuangan limbah jadi masalah lingkungan serius. (Foto: Anne Paq/Active Stills)

Hiba Al-Ashi harus menjaga jendela apartemennya agar tetap tertutup. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghindari bau busuk dari laut yang tercemar.

“Hidup telah menjadi tak tertahankan,” kata ibu berusia 36 tahun yang rumahnya di Gaza menghadap ke Laut Mediterania.

Setiap hari, 100.000 meter kubik limbah mentah dibuang ke laut sekitar Gaza.

Masalah lingkungan Jalur Gaza telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Gaza telah menderita kekurangan listrik kronis sejak satu-satunya pembangkit listriknya dibom oleh Israel pada tahun 2006.

Kemudian Israel memberlakukan blokade ekonomi yang terus berlanjut dan dirasakan berat di wilayah tersebut setahun kemudian. Blokade membatasi impor bahan bakar dan menghambat perbaikan infrastruktur listrik yang hancur dan rusak selama serangan militer penjajah Israel berturut-turut.

Pembangkit listrik Gaza ditutup seluruhnya pada bulan April tahun ini, dan pemerintah penjajah itu mengurangi pasokan listrik ke Gaza pada awal Juni 2017. Menurut kelompok HAM, itu adalah pelanggaran hukum kemanusiaan internasional. Listrik yang saat ini (Juli 2017) tersedia di Jalur Gaza kurang dari tiga jam per hari.

Hasil dari kondisi itu, antara lain sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari di Gaza. Tidak ada daya listrik yang cukup untuk menjalankan fasilitas pengolahan limbah di wilayah ini. Mesin desalinasi yang menyediakan air minum di Gaza, juga beroperasi pada kapasitas yang berkurang secara signifikan.

Pantai Gaza yang tercemar. (Foto: AP /Khalil Hamra)

Belum pernah terjadi sebelumnya

Dulu, mengunjungi pantai di Gaza merupakan satu-satunya kemungkinan untuk menikmati dan bersantai bagi orang-orang Palestina yang tinggal di bawah pengepungan.

Namun, polusi telah mempersempit kemungkinan tersebut. Menurut Otoritas Mutu Lingkungan setempat, sekitar 50 persen pantai Gaza tidak layak untuk direnangi. Sejumlah pantai sudah ditutup untuk umum.

“Tingkat pencemaran air laut dan pantai tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Ahmad Helles, perwakilan dari otoritas tersebut. “Ini menunjukkan bahwa ada bencana lingkungan yang nyata.”

Menurut Helles, baik pasir dan air telah terkontaminasi. Pasir membawa banyak mikroba yang bisa berbahaya dan menyebabkan penyakit pada manusia.

Maher Salem, seorang administrator layanan air betsih di Gaza, mengatakan bahwa fasilitas mengolahan limbah akan segera berhenti.

“Kami terpaksa memompa semua kotoran yang tidak diobati ke laut,” katanya. “Ini mencegah orang bisa berenang, bahkan mencegah mereka pergi ke pantai.”

Memiliki rumah yang bisa melihat pemandangan laut atau tinggal di sekitarnya, dianggap sangat diminati di seluruh dunia. Namun di Gaza, banyak orang yang ingin meninggalkan rumahnya yang ada di dekat pantai.

 

“Tinggal di Septic Tank”

Taysir Abu Saada telah tinggal di kamp pengungsian pantai, bagian dari Kota Gaza, selama 18 tahun. Dia mencoba menabung agar bisa menyewa apartemen di tempat lain. Dia ingin mengeluarkan keluarganya dari atmosfir yang tidak sehat itu.

“Saya merasa, kami seperti tinggal di septic tank, bukan rumah sungguhan,” kata Shaima, putri Abu Saada yang berusia 19 tahun.

Wisam Lubad, seorang mahasiswa berusia 22 tahun, dulu biasa menikmati berjalan di pantai. Sekarang dia harus menahan hidungnya saat dia menuju ke pantai.

“Tidak ada yang sehat di Gaza,” katanya. “Termasuk laut – satu-satunya pelarian kami.”

Suatu hari, ada satu keluarga setempat memutuskan untuk melakukan acara makan siang dengan memanggang daging di pantai Kota Gaza. Namun, keluarga tersebut terpaksa meninggalkan hidangannya karena kondisi yang sangat tidak menyenangkan itu.

“Kita hidup dalam tragedi besar di negeri ini,” kata Samar, salah satu anggota keluarga tersebut. “Kami mengalami satu bencana demi bencana.”

Pantai di Rafah, wilayah Gaza selatan yang dekat dengan perbatasan Mesir, telah ditutup sesuai perintah pemerintah setempat.

Sobhi Abu Ridwan yang mengepalai kota Rafah mengatakan, penutupan itu perlu dilakukan untuk melindungi warga negara dari penyakit berbahaya yang mungkin disebabkan oleh polusi di laut.

Namun bagi Masoud Matar berbeda. Ia adalah di antara sejumlah orang Gaza yang telah berjanji akan terus mengunjungi pantai, meski ada peringatan dari pihak berwenang.

“Semua orang di Gaza menganggap laut sebagai teman mereka,” katanya. “Sebagian besar warga Gaza miskin. Mereka tidak bisa membayar liburan di resort atau pergi ke kolam renang. Laut adalah satu-satunya harapan mereka untuk bersenang-senang saat sedang panas.”

Penutupan pantai juga menyebabkan kerugian pendapatan bagi orang-orang Gaza yang selama ini berjualan selama musim panas di pantai.

Seperti Muhammad Abu Assi. Ia adalah lulusan perguruan tinggi yang berharap bisa mendapatkan sedikit uang dengan menjual jagung di pantai.

“Saya sedang menunggu musim panas untuk memulai hidup saya sebagai penjaja,” katanya. “Sepertinya ini tidak akan terjadi.”

Para nelayan pun khawatir dengan konsekuensi laut yang tercemar.

Salah satu dari mereka adalah Mahmoud Al-Ghandour. Ia mengatakan bahwa sebagian besar ikan yang dijual di pasar Gaza mungkin tidak aman untuk dimakan.

“Perikanan telah menjadi hidup saya selama 30 tahun,” katanya. “Saya belum pernah melihat begitu banyak polusi seperti yang kita alami selama lima tahun terakhir ini.” (RI-1/RS1)

Sumber: Tulisan Sarah Algherbawi di The Electronic Intifada. Ia adalah penulis lepas dan penerjemah di Gaza.

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)