Ramadhan Penuh Berkah di Situasi Kelaparan

Ilustrasi: perbandingan suasana bulan Ramadan di Gaza tahun 2023 dengan kondisi bulan Maret 2024. (Gambar: MINA)

Gaza, MINA – Tahun ini, warga di Jalur Gaza, Palestina, sudah berpuasa lebih dahulu karena tidak tersedianya makanan yang cukup akibat blokade dan agresi Israel.

Mereka sudah berpuasa selama kurang lebih satu bulan sebelum Ramadhan datang.

Di Gaza utara, kelaparan melanda ratusan ribu orang yang diblokade dan membunuh anak-anak serta orang tua setiap hari.

Sebuah dinding di sisi barat Pasar Al-Sahaba, timur laut Kota Gaza bertuliskan: “Ramadan Karim meskipun ada perang dan kelaparan.”

Hal ini menjadi pengingat bahwa bulan Ramadhan yang penuh berkah akan datang tinggal kurang sepekan lagi.

Pada tahun-tahun sebelumnya, dekorasi dan lentera besar memenuhi jalan-jalan di Gaza. Sementara pasar-pasar yang ramai menjual sejumlah besar barang, seperti keju, manisan, kurma, buah-buahan kering, Qamar al-Din, jus carob, dan licorice.

Baca Juga:  Ana/Tiwi Satu-satunya Wakil Indonesia Tembus Final Thailand Open 2024

“Jika seseorang seharian makan sebutir jeruk atau seperempat potong roti, jika ia mampu, apakah ia tidak berpuasa?” kata Hajjah Ummu Ayman.

“Di seluruh pasar, Anda tidak akan menemukan sekaleng kacang atau sepotong keju. Harga satu kilo manisan produksi lokal mencapai 70 shekel, dan jumlah yang tersedia sangat terbatas. Tak seorang pun di antara kita yang tahu apa yang akan kita makan untuk sahur dan dengan apa kita akan berbuka puasa. Semoga Allah meringankan kita,” katanya kepada media Al-Akhbar.

Di pasar Al-Sahaba, Haji Abdel-Ati Hamad duduk menghadap sebuah kios kosong yang digunakan untuk menjual barang.

Sambil menepuk satu telapak tangannya dengan telapak tangan lainnya, dia menceritakan tentang perubahan yang terjadi sejak tahun lalu.

Baca Juga:  Ini 7 Alasan Israel Ingin Serang dan Kuasai Rafah

“Ada ratusan jenis barang Ramadhan. Saya tidak dapat menemukan tempat untuk menaruh semua jenis keju, kurma, manisan, dan kacang-kacangan. Masyarakat Gaza kreatif dalam menyiapkan makanan. Keluarga saya suka pertemuan keluarga. Hal yang paling manis di bulan suci adalah berkumpul untuk berbuka puasa dan sahur, serta makan qatayef setelah shalat Tarawih. Hari ini, tidak ada apa-apa. Satu kilo beras berharga 120 syikal. Bayangkan $35 untuk satu kilo. Siapa yang mampu membayar $100 untuk memberi makan keluarga yang terdiri dari 10 orang, dan ini adalah nasi tanpa daging. Sisanya sama saja,” ujarnya.

Di tengah bencana kelaparan, warga Gaza menunggu hasil perundingan gencatan senjata, karena blokade Israel mengubah realitas masyarakat, memisahkan keluarga dan menyebarkan mereka ke seluruh wilayah kantong.

Baca Juga:  Dua Buku Teguh Santosa Lengkapi Pojok Baca Digital PWI

Ada banyak contoh. Di beberapa keluarga, sang ayah tinggal di Gaza utara, sementara yang lain mengungsi ke selatan. Ada ibu-ibu yang putrinya melarikan diri bersama suaminya dari tank ke daerah yang terpencil.

Seperti Maryam Mahmoud, ibu dari enam pemuda, tiga di antaranya mengungsi ke kota Rafah dan dua lainnya tetap tinggal di Gaza utara. Dia kehilangan kontak dengan salah satu dari mereka setelah dia dipindahkan dua bulan lalu ke gubernur pusat.

“Ramadhan tanpa mereka berenam, makan dari piring yang sama dengan saya, tidak ada rasanya. Pengharapan kami kepada Allah sangatlah besar. Dia akan menyatukan kami kembali,” kata Maryam. (AT/RI-1/R1/RS2)

Sumber: Islam Times

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Rudi Hendrik