Warga Gaza Takut Agresi Baru Israel Terulang pada Ramadhan

Ilustrasi: Rumah Sakit Abu Yousef Al-Najjar di Rafah pernah menjadi target serangan udara pasukan Israel dalam perang 2014 di Gaza. (Foto: dok. loralucero.wordpress.com)

Gaza, MINA – Berbeda dengan mayoritas warga yang sibuk fokus pada bulan suci Ramadhan, Abdul Hamid al-Za’anin, warga kota Beit Hanoun di Jalur Gaza utara, merasa terganggu oleh bentrokan yang sedang berlangsung antara warga Palestina dan tentara Israel di Tepi Barat dan Yerusalem yang diduduki.

“Untuk tahun kedua berturut-turut, skenario operasi militer antara Israel dan faksi-faksi bersenjata Palestina tampaknya terulang di Ramadhan ini,” kata ayah delapan anak, berusia 50 tahun itu kepada The New Arab, Rabu (6/4).

Tahun lalu pada 10 Mei 2021, Israel melancarkan operasi militer 11 hari di Jalur Gaza, menyusul rentetan roket ke Israel oleh faksi-faksi Palestina sebagai tanggapan terhadap agresi Israel di Masjid Al Aqsa di Tepi Barat yang diduduki.

Pesawat-pesawat tempur Israel melakukan ratusan serangan udara di daerah kantong yang diblokade, rumah bagi hampir dua juta orang.

“Pesawat Israel menargetkan rumah kami di Beit Hanoun, membunuh anak saya, saya terluka dan harus mengamputasi kaki kiri saya,” kata al-Za’anin.

“Tentara Israel menghancurkan rumah saya dan membuat keluarga saya mengungsi selama berbulan-bulan. Baru-baru ini rumah itu dibangun kembali, tetapi saya tidak merasa aman, terutama mengingat meningkatnya ketegangan di Tepi Barat dan Jalur Gaza,” katanya.

Salama Al-Batsh dari kamp Jabalia juga sama-sama ketakutan dengan Al-Za’anin.

“Tidak ada yang bisa merasakan apa yang kami rasakan kecuali seseorang yang rumahnya hancur, atau terluka atau terbunuh oleh pesawat tempur Israel,” kata ayah empat anak berusia 38 tahun itu kepada The New Arab.

“Sayangnya, karena apa yang terjadi di Tepi Barat dan Yerusalem, saya tidak dapat merayakan Ramadhan seperti yang lain. Saya menonton berita dan hidup dalam ketegangan,” katanya. (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)