Warga Ponpes Al Fatah Cileungsi Inisiasi Program Kampung Ramah Lingkungan

Bogor, MINA – Sejumlah warga yang tinggal di lingkungan Pondok Pesantren Al Fatah Desa Pasirangin, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor menginisiasi program kampung ramah lingkungan [KRL] di wilayahnya.

KRL merupakan program warga Ponpes Al Fatah yang bertujuan menjaga kelestarian lingkungan di wilayah sekitarnya. Diantara kegiatan warga dalam program ini adalah penampungan sampah non organik dan pembuatan lubang-lubang biopori untuk sampah organik.

Program yang berlangsung sejak pertengahan November 2019 bermula dari gerakan kecil warga untuk mengatasi problem sampah di sekitar pesantren dengan memilah-milah sampah di tempat pembuangannya masing-masing.

Mereka memulai dengan membuat sejumlah lubang biopori di sekitar rumah untuk menampung sampah sisa makanan dan sayuran. Lalu berlanjut dengan penyediaan bank sampah untuk menampung sampah non organik.

Haryanto, salah seorang warga yang merupakan Ketua Program Bank Sampah, mengatakan kepada wartawan MINA, sejauh ini warga telah membuat 87 lubang biopori. Setiap Ahad mereka mengadakan kerja bakti membuat lubang biopori. Targetnya sebanyak 1000 lubang biopori akan dibuat di RW 05, lokasi Ponpes Al Fatah.

“Sampah yang basah atau organik, semua sisa dapur dari sayuran, kulit buah, daun-daunan itu dimasukkan ke lubang biopori. Bila sudah ada insyaAllah dalam 1,5 bulan sudah jadi kompos atau pupuk organik . Dengan seperti ini warga harus belajar menanam,” terang Haryanto.

Rencananya pupuk organik yang dihasilkan dari lubang biopori ini akan digunakan untuk kegiatan kebun rumahan. Diantara tanaman yang akan ditanam adalah tanaman obat, sayuran dan hias. Warga bisa menukarkan pupuk miliknya dengan bibit tanaman ke bank sampah.

“Biar rumah-rumah warga [terlihat] hijau,” katanya.

Pak Wanto, salah satu warga yang turut dalam program ini tampak senang dengan program biopori tersebut. Ia yang berprofesi sebagai pedagang mie ayam herbal membutuhkan media yang tepat untuk menampung sisa-sisa sayuran dan makanan mie ayam miliknya.

“InsyaAllah dua pekan lagi saya panen pupuk mas,” tuturnya kepada wartawan MINA.

Sudah satu bulan ia menempatkan sampah-sampah sisa makanan seperi sayur sawi, kulit jeruk dan daging ayam ke dalam dua lubang biopori depan rumahnya. Dalam sepekan sedikitnya empat kali ia membuang sampah organik ke dalamnya.

“Kalau semua warga melakukan ini bisa saja pupuk hasil biopori dijual dan membawa keuntungan untuk mereka,” terangnya.

Untuk mengatasi sampah non organik mereka mengadakan program bank sampah. Warga diajak menabung dengan mengumpulkan sampah-sampah non organik ke bank sampah.

“Semua plastik, semua kertas,semua kaleng, dan lain-lainnya disetorkan ke bank sampah untuk ditimbang dan dicatat. Dan dinominalkan uang sejumlah yang disetor. Kemudian diambil bila udah banyak. Dengan seperti ini masyarakat biar semangat. Ternyata dengan sampah bisa jadi uang,” jelasnya.

KRL rencananya akan segera melakukan program berikutnya yakni kegiatan sanitasi. Warga diarahkan untuk membuat kolam ikan di selokan depan rumahnya. Kegiatan ini tidak hanya sekedar memelihara ikan tapi juga membersihkan sanitasi dan mengurangi jentik nyamuk.

Program ini, menurutnya, sudah mendapat dukungan dari desa. Dukungan ini rencananya akan diberikan dalam bentuk bantuan dana.

Ke depan warga Ponpes Al Fatah mentargetkan program KRL ini tidak hanya sekedar membuat kampung dengan lingkungan yang asri dan sehat. Lebih jauh dari itu mereka berencana menjadikan wilayah mereka kampung wisata lingkungan.

“Insya Alloh kalau masyarakat  kompak dengan program  ini, insyaAllah  kita banyak tamu yang akan datang belajar ke kita. Dan niscaya kampung kita ini atau pesantren ini khususnya akan menjadi kampung wisata lingkungan,” harap Haryanto. [L/RA 02/P1]

Mi’raj News Agency (MINA)