WHD Lawan Islamofobia dengan Jilbab

New York, MINA – World Hijab Day (WHD), di Ramadhan ini menantang seluruh wanita di dunia dari berbagai latar belakang dan agama untuk mengenakan jilbab selama 30 hari.

Pendiri WHD Nazma Khan mengatakan, ribuan wanita mengenakan jilbab selama bulan suci Ramadhan untuk meningkatkan kesadaran tentang penutup kepala dan mendidik orang tentang memerangi Islamofobia.

“Dari Belarus, Brasil, Kanada, Jerman, Malaysia, Selandia Baru, AS dan seluruh dunia, para wanita telah berpartisipasi dalam kelompok tantangan Ramadhan  selama dua tahun berturut-turut, kata Nazma kepada Anadolu Agency.

“Dengan mengundang wanita dari berbagai agama dan latar belakang untuk mengenakan jilbab, itu menormalkan jilbab,” katanya.

“Jadi, jilbab tidak lagi hanya sesuatu yang ‘tidak diketahui’ yang mungkin ditakuti oleh beberapa orang atau melihatnya sebagai ancaman,” lanjutnya.

Bahkan beberapa wanita telah begitu terinspirasi sehingga mereka mengambil sendiri tantangan ini untuk melangkah lebih jauh dan memutuskan berpuasa selama 29 atau 30 hari seperti yang diperintahkan oleh agama Islam.

“Bagi saya, berpartisipasi dalam tantangan jilbab 30 hari dan berpuasa adalah berjalan-jalan dengan sepatu orang lain,” kata Duta Besar WHD Ashley Pearson.

“Saya ingin mempelajari seperti apa rasanya bagi orang lain dan memahami apa yang mungkin mereka alami,” kata Pearson yang tinggal di Arkansas.

Pearson bahkan mengunjungi masjid setempat dan berteman dengan orang-orang Muslim. Dia bergabung dengan mereka selama perayaan buka puasa, atau Sahur  setiap malam Ramadhan dan senang mengenal serta mempelajari budaya Muslim.

“Saya berpuasa selama Tantangan Ramadhan dan sejauh ini saya pikir itu baik bagi saya,” katanya pada hari ke-15 puasa.

“Kadang-kadang bisa sedikit sulit, tetapi itu benar-benar dapat mengajarkan Anda disiplin diri,” ungkapnya.

Salah satu penganut agama Ortodoks Kemetic melihat jilbab dapat memberikannya kendali tentang bagaimana dia dipersepsikan oleh dunia luar.

“Banyak wanita mengeluh bahwa jilbab menindas, tetapi saya tidak sepakat. Saya melihat jilbab  membebaskan, memerdekakan, ” kata Siobhan Welch.

“Saya memiliki kendali atas siapa yang melihat saya, seberapa banyak dari saya yang mereka lihat. Saya memiliki kekuatan atas tubuh saya, tidak ada orang lain,” ujarnya.

“Berhentilah dan pikirkan sejenak sebelum Anda menghakimi saya,” kata perempuan berusia 47 tahun itu.

“Saya sudah memakai jilbab setiap hari selama lebih dari empat tahun sekarang. Itu bukan karena agama, sebab tidak diperlukan dalam agama saya. Tetapi saya merasa melakukan hal itu menunjukkan rasa hormat, cinta, dan kerendahan hati di hadapan Tuhan,” ungkapnya.

Sania Rukhsar Zaheeruddin, seorang mahasiswa kedokteran Muslim India berusia 25 tahun yang biasanya tidak mengenakan jilbab, mengambil bagian dalam tantangan dan melihatnya dengan cara yang hampir sama.

“Di dunia, tempat Islamofobia ada, jilbab seperti alat kekuasaan bagi wanita Muslim. Ini membantu kita untuk lebih percaya diri, memberi kita opini secara global, kunci  menghilangkan rasa takut tidak diterima secara sosial,” katanya.

Bagi Zaheeruddin, pentingnya tantangan itu adalah untuk menunjukkan “kerudung tidak mengubah fakta bahwa kita semua adalah manusia.”

“Perempuan Muslim diproyeksikan sebagai bentuk tertindas dan rendah di dunia modern, dan karena Islamophobia konseptual menyebar seperti api liar, penting bagi kami wanita Muslim untuk merasakan hal yang sama seperti yang lain,” tambahnya.

WHD didirikan pada 2013 untuk mendorong wanita dari semua agama dan latar belakang mengenakan jilbab dalam mendukung wanita Muslim. Ia Dirayakan setiap tahun pada 1 Februari.

Pada tahun 2017, WHD menjadi organisasi nirlaba dengan misi untuk memerangi diskriminasi terhadap perempuan Muslim melalui kesadaran dan pendidikan. (AT/Ast

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: sri astuti

Editor: illa