Wisuda SQABM, Imaam Yakhsyallah: Rasulullah Sukses Mendidik Ahlus Shuffah

Bandar Lampung, MINA – Imaamul Muslimin, Yakhsyallah Mansur memberikan orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (STISQABM) program Sarjana (S1) Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Sabtu (25/6) di Gedung Pusiban, Kantor Gubernur Provinsi Lampung. Imaam menyampaikan bukti keberhasilan Rasulullah Muhammad dalam mendidik Ahlus Shuffah (santri dari kalangan sahabat).

Imaam memaparkan ada lima contoh Ahlus Shuffah yang dididik langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tampil menjadi tokoh dan pemimpin di bidangnya masing-masing.

Ahlusshuffah yang pertama adalah Abu Hurairah, yang asalnya sangat miskin, kemudian setelah ditempa dengan pendidikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, atas izin Allah ia kemudian menjadi ahli hadist.

Kedua yaitu Abdullah bin Mas’ud, dari seorang penggembala kambing menjadi seorang ahli qiroat dan menjadi sumber belajar bacaan qiroah Al-Quran bagi manusia lainnya.

Ahlusshuffah yang ketiga yaitu Salman Al-Farisi, dari seorang budak menjadi seorang Gubernur Madain, daerah yang sangat luas dan merupakan peninggalan Kerajaan Persia.

Keempat adalah Bilal bin Rabah, ia awalnya merupakan seorang budak sama halnya seperti Abu Hurairah yang kemudian menjadi tokoh persamaan hak asasi manusia.

Ahlusshuffah yang kelima adalah Abu Dzar Al-Ghifari, ia berasal dari keluarga perampok yang besar dan penyebar teror masyarakat yang akhirnya menjadi tokoh perbaikan sosial.

Imaam Yakhsyallah mengungkapkan, surah Al-Mujadilah ayat 11 turun pada hari Jum’at saat Rasulullah sedang memberikan kajian terhadap para Ahlusshuffah, lalu datanglah Ashabul Badar yang berdiri karena mereka tidak mendapatkan tempat duduk di dekat Rasulullah. Kemudian Rasulullah memerintahkan sahabat Ashshuffah untuk berdiri agar sahabat Ashabul Badar dapat duduk.

“Ayat ini secara tidak langsung memberikan tuntunan pada kita untuk memperhatikan lingkungan, untuk memberikan yang terbaik pada orang lain, jangan memikirkan diri sendiri,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa terorisme biasanya muncul karena tindakan berfikir untuk diri sendiri,  tidak berfikir bagaimana akibat tindakan yang dilakukannya.

“Ayat ini dahsyat sekali. Mengutip penjelasan Imam Ar-Razi, ayat di atas bukan hanya sekadar melapangkan tempat duduk dalam satu majlis, tetapi mencakup segala usaha menebar kebajikan dan kemanfaatan sampai kepada sesama muslim, supaya hati muslim menjadi senang, gembira, menghilangkan perasaan hati yang tertekan, dan usaha perbaikan terhadap umat lainnya ” tutupnya. (L/Rid/R12/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)