Wuhan Bebas Saat Dunia Berjatuhan oleh COVID-19

Ribuan orang mengalir keluar dari kota Wuhan, Cina, pada Rabu, 8 April 2020, setelah penutupan di tempat kelahiran virus corona itu dicabut oleh pemerintah, menawarkan secercah harapan ketika Eropa dan Amerika Serikat (AS) menghadapi peningkatan kematian dan kelumpuhan ekonomi akibat COVID-19.

Ketika Wuhan bangkit kembali, negara-negara Barat tetap berada dalam pergolakan krisis yang telah merenggut nyawa lebih dari 80.000 orang di seluruh dunia dan memaksa sekitar separuh umat manusia melakukan semacam penguncian (lockdown).

Negara-negara yang paling terpukul, di antaranya Italia, Spanyol, Perancis, dan AS, sedang bergulat bagaimana menyeimbangkan keselamatan publik dengan dampak buruk dari penutupan yang telah menghapus jutaan pekerjaan, membuat pasar keuangan jatuh dan memukul industri-industri besar dari  perjalanan hingga konstruksi.

Dalam perhitungan biaya ekonomi yang mengkhawatirkan, ekonomi Perancis mencatat kinerja terburuknya sejak 1945 selama kuartal pertama, menyusut sekitar enam persen.

Ekonomi Jerman, yang terbesar di Eropa, juga diperkirakan akan jatuh ke dalam “resesi serius” dan menyusut hampir 10 persen pada kuartal kedua, para peneliti terkemuka memperingatkan.

Namun, para ahli kesehatan menekankan terlalu dini untuk melonggarkan pembatasan yang dapat mempercepat penyebaran penyakit yang telah menyusup ke setiap lapisan masyarakat, dari pengungsi hingga bangsawan dan pejabat tinggi seperti Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang memasuki hari ketiga dalam perawatan intensif.

“Sekarang bukan waktunya untuk bersantai. Sekarang saatnya untuk menggandakan dan melipatgandakan upaya kolektif kita untuk mendorong penindasan dengan seluruh dukungan masyarakat,” kata Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Eropa, Hans Kluge.

Wanita lokal di Wuhan, kota kelahiran virus corona, menari merayakan meredanya wabah di kota itu, 2 April 2020. (Foto: Getty Images)

“Terjebak 77 hari”

Di kota Wuhan, yang memimpin dunia dengan kuncian yang belum pernah terjadi sebelumnya, langkah-langkah ketat tampaknya terbayar.

Setelah larangan perjalanan hampir 11 pekan akhirnya dicabut, puluhan ribu orang keluar dari kota itu dalam adegan-adegan gembira yang kontras dengan suasana mengerikan di sebagian besar dunia, bahkan beberapa penumpang bepergian dengan pakaian hazmat.

“Saya terjebak selama 77 hari! Saya terjebak selama 77 hari!” teriak seorang pria, yang tiba di stasiun kereta api untuk kembali ke provinsi asalnya, Hunan.

Namun tidak semua kembali normal, sebab sekolah-sekolah masih ditutup dan perjalanan tidak dianjurkan.

Di stasiun kereta, sebuah robot berputar melalui kerumunan orang untuk menyemprotkan kaki mereka dengan desinfektan saat memainkan pesan rekaman yang mengingatkan mereka untuk memakai masker wajah.

Penumpang juga harus lulus pemeriksaan suhu dan menunjukkan “kode kesehatan” hijau di ponsel mereka, yang dihitung apakah lingkungan mereka dinyatakan bebas virus.

“Wuhan telah kehilangan banyak karena wabah ini, dan orang-orang Wuhan telah membayar mahal,” kata seorang lelaki berusia 21 tahun bernama Yao kepada kantor berita Perancis.

“Sekarang kuncian telah dicabut, saya pikir kita semua cukup senang.”

Tahapan kesedihan

Suasana itu jauh lebih suram di Amerika Serikat (AS). Negara itu meratapi 1.939 kematian lainnya selama 24 jam, menurut penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins, yang membuat jumlah korban jiwa negara itu menjadi hampir 13.000.

Presiden AS Donald Trump mengecam WHO, menuduhnya bias pro-Beijing saat ia mengancam akan memotong dana untuk Organisasi Kesehatan Dunia PBB itu.

Presiden AS mengkritik penanganan pandemi Cina dan mempertanyakan keakuratan statistik resmi yang menunjukkan bahwa kematiannya telah melambat.

Namun, Trump sendiri juga mendapat kecaman karena awalnya mengecilkan virus dengan menyamakannya dengan flu dan gagal mempersiapkan rumah sakit negara secara memadai.

Staf medis di seluruh dunia bekerja tanpa lelah di unit perawatan intensif yang penuh dan rumah sakit darurat yang didirikan di stadion olahraga, di kapal dan bahkan di katedral New York.

Di Spanyol, rumah wabah paling mematikan kedua di dunia, 757 kematian lainnya dilaporkan pada Rabu, 8 April 2020, menambah jumlah korban untuk hari kedua setelah beberapa hari sempat menurun.

Ratusan orang masih sekarat setiap hari di Italia yang hancur, meskipun puncak krisis tampaknya telah berlalu dengan peningkatan infeksi yang mencapai titik terendah dari hari-hari sebelumnya.

Sementara Inggris, bersiap-siap untuk hari-hari yang paling menyiksa setelah rekor kematian harian mencapai 786 jiwa pada Selasa (7/4). Rawat inap yang dijalani Perdana Menteri menggarisbawahi keseriusan penyakit bagi banyak orang di negara yang lambat bereaksi itu.

Upaya penyelamatan

Sebanyak 81 persen dari 3,3 miliar tenaga kerja dunia telah dipengaruhi oleh “krisis global terburuk sejak Perang Dunia Kedua”, menurut Organisasi Perburuhan Internasional AS.

Pemerintah di seluruh dunia meluncurkan langkah-langkah stimulus yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk paket 1 triliun dolar AS di Jepang.

Namun, zona euro terperosok dalam pertikaian mengenai rencana bailout bagi para anggotanya yang terpukul, dengan para menteri keuangan tidak dapat menjembatani kesenjangan setelah 16 jam perundingan yang dilanjutkan pada Kamis, 9 April.

Sementara itu, saham Eropa mundur pada Rabu setelah indeks Dow Jones melonjak sekitar 1.000 poin pada hari sebelum dan berakhir sedikit lebih rendah.

Dampak ekonomi menggigit paling kuat di antara orang miskin di dunia. (AT/RI-1/P1)

Sumber: Nahar Net

Mi’raj News Agency (MINA)