Yahudisasi Pemakaman Bab Ar-Rahmah, Kuburan Sahabat dan Pejuang Palestina

Oleh : Ali Farkhan Tsani, wartawan MINA

Bukan hanya kota, desa, pemukiman, dan fasilitas publik. Kuburan umat Islam pun menjadi sasaran proyek Yahudisasi. Sasaran kali ini adalah makam para sahabat dan para pejuang Palestina di Bab Ar-Rahmah, bagian barat luar Masjidil Aqsha Yerusalem.

Nama Bab Ar-Rahmah

Nama Bab Ar-Rahmah merujuk pada salah satu gerbang Masjidil Aqsha. Dalam warisan Islam disebut juga dengan Gerbang Pertobatan, dan merupakan salah satu gerbang terindah di Kota Tua Yerusalem (Al-Quds).

Namun gerbang itu ditutup dengan batu dari luar sejak periode kekuasaan Turki Utsmani (Ottoman) dengan tujuan melindungi jalur langsung ke Masjidil Aqsha.

Terlebih dengan perkembangan kuburan, yang itu dipandang tidak layak lagi sebagai jalur lalu lalang warga yang hendak atau keluar dari Al-Aqsha.

Makam Sahabat dan Pejuang

Dr Mohamed Abdul Rahman mengungkapkan dalam artikelnya tentang makam tersebut di media al-Yaum as-Sabi edisi 18 Maret 2021, bahwa di dalam pemakaman Bab al-Rahma berisi banyak kuburan para sahabat dan pejuang Palestina.

Di antaranya yang utama adalah mereka para syuhada yang ikut serta dalam pembebasan Masjidil Aqsha pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan era Panglima Shalahuddin al-Ayyubi.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Palestine Studies edisi 117 tahun 2019, Dr. Nazmi Al-Jubeh menulis tulisan ilmiah “Gerbang Rahmat”, yang isinya menyebutkan bahwa kuburan Bab Ar-Rahmah adalah kuburan Islam tertua di Yerusalem.

Beberapa syuhada generasi pertama umat Islam yang menetap di Yerusalem dimakamkan di dalamnya.

Itu berlangsung sejak Yerusalem dalam penguasaan Islam sekitar tahun 638 M.

Tercatat nama sahabat Ubadah bin Shamit, hakim Muslim pertama yang ditunjuk untuk Palestina.

Ada juga sahabat Syaddad ibn Aus, seorang ulama dan wali Homs sebelum dia menetap di Yerusalem dan dimakamkan di sana.

Termasuk sejumlah besar tabi’in dan tokoh Islam periode berikutnya.

Para syuhada warga Palestina juga dimakamkan di kuburan tersebut. Mereka adalah para pejuang tahun 1948, 1967, Intifada 1987, Intifada 2000, Pembantaian Al-Aqsa 1990, hingga Terowongan Intifadah 1996.

Yahudisasi Kuburan

Dr. Ali Ibrahim dalam penelitiannya yang diterbitkan oleh: Departemen Riset dan Informasi Yayasan Internasional Al Quds mengungkapkan, pendudukan Israel bekerja untuk melakukan Yahudisasi kota Yerusalem yang diduduki di berbagai tingkatan, dan menginvestasikan sumber daya yang sangat besar untuk mencapai rencana itu.

Pendudukan dengan otoritasnya menggunakan banyak alat dan sarana, memobilisasi senjata dan organisasi Yahudi serta para pemukim ekstremis untuk mencapai tujuan ini.

“Sebagai tindak lanjut dari serangan Yahudi yang komprehensif ini, kami menemukan bahwa pendudukan dan afiliasinya menargetkan pemakaman Yerusalem pada umumnya dan pemakaman Islam pada khususnya, dengan meratakan kuburan dan serangan terang-terangan terhadap kesucian orang mati dan tanah wakaf Islam, serta mulai menggantinya dengan menanam kuburan Yahudi palsu,” ujar Ibrahim dalam tulisannya.

Pendudukan kemudian mengendalikan area yang luas dari kompleks pemakaman tersebut untuk membangun apa yang mereka klaim sebagai “Taman Alkitab” (Hadaiq Tauratiyyah)

Tujuan selanjutnya adalah mengubah taman itu untuk melayani proyek Yahudi lainnya, terutama pemukiman ilegal.

Untuk membuka akses ke kawasan itu, otoritas Israel sudah menyiapkan jalur transportasi kereta ringan portabel “Kereta Gantung.”

Penargetan pemakaman Islam di Yerusalem pun semakin meningkat, terutama pemakaman Bab Ar-Rahmah yang terletak di dekat dinding Masjidil Aqsha.

Warga setempat menyaksikan gelombang serangan serius ke pemakaman sahabat dan pejuang Mueslim itu, yang meningkat secara dramatis sejak 2018.

Pendudukan menyita sebagian besar area kuburan dalam konteks yang mencurigakan, dengan mengubah aturan memasukinya.

Pendudukan rupanya berupaya mengambil keuntungan dari lokasinya, untuk memperkuat rencananya membagi kompleks Masjidil Aqsha. Persis seperti yang dilakukannya di kompleks Masjid Ibrahimi di Hebron.

Dalam konteks membangun kesadaran akan rencana pendudukan dan apa yang sedang dilakukan untuk mengubah wajah kota, dan untuk menjelaskan bagian yang terlupakan dari proyek Yudaisasi di kota yang diduduki, makalah ini membahas latar belakang penargetan pendudukan pemakaman Bab al-Rahma, dan penjelasan tentang tujuan di balik semakin penargetan pemakaman ini.

Salah satu penjaga Al-Aqsha, Ashraf Abu Armila, mengatakan bahwa tim polisi dan yang disebut “Otoritas Alam Israel” menutup dua kuburan di sana, yang disiapkan untuk pemakaman orang-orang Yerusalem.

Polisi pendudukan dan staf Otoritas Alam juga telah menghancurkan tiga kuburan di tempat yang sama, dan untuk mencegah orang Yerusalem menguburkan jenazah mereka di sana.

Polisi juga memperketat kontrol mereka atas tempat itu, dan mendirikan pos patroli tetap.

Hak Milik Muslimin

Segala apapun yang dilakukan oleh pendudukan pada akhirnya adalah untuk memperkuat pendudukannya dan memperluas kekuasaannya. Termasuk penguasaannya atas tanah kuburan sekalipun.

Kepala Komite Perawatan Pemakaman Islam di Yerusalem, Haj Mustafa Abu Zahra, menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan Al-Araby Al-Jadeed, apa yang terjadi saat ini terhadap pemakaman Bab Ar-Rahmah, merupakan “penodaan terhadap kesucian kuburan dan penghinaan terhadap perasaan umat Islam, karena orang mati dari kalangan kaum Muslimin saja tidak lagi aman dari serangan pendudukan.”

“Ini adalah kuburan Islam, dan selama lebih dari 1.400 tahun umat Islam telah menguburkan banyak jenazah di sana, dan ini tidak ada yang membantahnya,” ujarnya.

Dia menekankan bahwa pemakaman adalah hak suci bagi umat Islam, dan itu adalah pemakaman Islam bersejarah, berdasarkan tanah wakaf Islam, dan memiliki akta kepemilikan yang dipasang di peta, dan orang-orang Yahudi tidak memiliki hak untuk itu.

Karena itu, apapun alasannya dan bagaimanapun proyek yang dilakukan pendudukan dan ekstremis Yahudi, tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Di sini sangat diperlukan peran dunia Islam secara berjama’ah untuk menghentikannya, juga dengan berbagai cara yang intensif. Agar hak milik umat Islam itu dapat kembali secara mutlak ke pangkuan kaum Muslimin.  (A/RS2/P2).

Mi’raj News Agency (MINA)