Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang Tidak Bisa Direbut dari Gaza

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 11 Februari 2026 - 19:33 WIB

Rabu, 11 Februari 2026 - 19:33 WIB

19 Views ㅤ

Seorang anak Palestina di Jalur Gaza. (Foto: UNICEF/El Baba)

Oleh Arif Ramdan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry

HIDUP di Gaza tidak pernah benar-benar normal. Setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan, bukan hanya secara fisik di tengah perang dan blokade, tetapi juga secara psikologis dan sosial. Kondisi inilah yang membuat Gaza kerap disebut sebagai wilayah dengan krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Dalam kajian psikologi konflik, situasi seperti yang dialami warga Gaza dikenal sebagai chronic adversity, tekanan ekstrem yang berlangsung lama dan membentuk cara pandang hidup masyarakatnya. Perang dan penindasan yang terus berulang kepada warga Gaza tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga membentuk pola berpikir, emosi, dan ketahanan sosial suatu komunitas.

Peneliti psikologi konflik Daniel Bar-Tal menjelaskan bahwa perang yang berlarut-larut akan membangun struktur psikososial khas pada masyarakat yang mengalaminya. Dalam artikelnya Sociopsychological Foundations of Intractable Conflicts yang terbit di jurnal American Behavioral Scientist (2007), Bar-Tal menunjukkan bagaimana konflik jangka panjang melahirkan sikap bertahan, solidaritas internal, serta ikatan identitas yang semakin kuat di tengah tekanan terus-menerus.

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Bagi warga Gaza, tanah bukan sekadar wilayah geografis. Ia adalah identitas, ingatan kolektif, dan sumber makna hidup. Edward Said menyebut keterikatan semacam ini sebagai relasi antara budaya, ingatan, dan perlawanan terhadap kolonialisme modern, di mana tanah menjadi simbol eksistensi yang tak tergantikan. Karena itu, Gaza tidak hanya hadir sebagai lokasi perang Palestina dan penjajah Israel, tetapi juga sebagai simbol ketahanan manusia.

Penelitian tentang masyarakat yang hidup di bawah blokade menunjukkan bahwa penderitaan berkepanjangan justru melahirkan collective resilience, ketahanan bersama yang bertumpu pada keluarga, solidaritas sosial, dan ikatan komunitas. Di Gaza, rumah boleh runtuh, tetapi jaringan sosial tetap berdiri. Inilah yang membuat penderitaan tidak selalu berujung pada keputusasaan, melainkan berubah menjadi energi bertahan hidup.

Perang di Gaza kerap direduksi menjadi perbandingan senjata: teknologi militer penjajah Israel versus perlawanan bersenjata Pejuang Hamas. Padahal, banyak ilmuwan menegaskan bahwa perang asimetris tidak ditentukan semata oleh keunggulan persenjataan, melainkan oleh faktor psikologis, legitimasi sosial, dan motivasi ideologis.

Tentara Israel merupakan bagian dari sistem militer modern yang sangat bergantung pada teknologi, prosedur, dan manajemen risiko. Sebaliknya, pejuang perlawanan Palestina tumbuh dari masyarakat yang telah lama kehilangan rasa aman. Mereka tidak berangkat dari kehidupan stabil menuju medan tempur, melainkan lahir dan besar di dalamnya. Mao Zedong, dalam teori perang gerilya klasik, menyebut hubungan ini sebagai “penyatuan antara pejuang dan rakyat,” yang membuat perlawanan sulit dipatahkan meski secara militer lemah.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Dalam studi terorisme dan konflik modern, Scott Atran, seorang antropolog Amerika dan peneliti sosial terkenal yang sering dikutip dalam studi konflik, dan perang menjelaskan bahwa kelompok perlawanan sering digerakkan oleh transcendent motivation, keyakinan bahwa hidup dan mati berada dalam kerangka makna yang lebih besar dari kepentingan individu. Motivasi semacam ini terbukti mampu menandingi kekuatan militer superior, karena tidak bergantung pada insentif material.

Keberanian yang muncul dari kondisi ini bukanlah keberanian romantik, melainkan keberanian eksistensial. Ernest Becker, antropolog budaya dan pemikir lintas-disiplin (antropologi, psikologi, filsafat) asal Amerika Serikat yang dikenal luas karena gagasannya tentang ketakutan manusia terhadap kematian menjelaskan bahwa manusia yang telah “berdamai” dengan kematian justru mampu bertindak lebih berani, karena rasa takut kehilangan hidup tidak lagi menjadi penghalang utama. Dalam konteks Gaza, kehilangan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, refleksi ini bukan pembenaran atas kekerasan. Tidak ada kemuliaan dalam perang. Studi WHO dan UNDP pada tahun 2016 menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan di Gaza meninggalkan trauma lintas generasi, terutama pada anak-anak. Mereka bukan simbol heroisme, melainkan pengingat kegagalan dunia melindungi kemanusiaan.

Sejarah mencatat bahwa kekuatan militer sering mampu menaklukkan wilayah, tetapi gagal menundukkan keyakinan. Banyak imperium runtuh bukan karena kalah senjata, melainkan karena kehilangan legitimasi moral. Dalam perspektif sosiologi sejarah, penindasan jangka panjang hampir selalu melahirkan perlawanan sebagai respons atas hilangnya martabat.

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Israel mungkin unggul dalam teknologi dan logistik. Namun Gaza memiliki sesuatu yang jauh lebih sulit ditaklukkan: kesadaran kolektif bahwa hidup tanpa martabat adalah bentuk lain dari kematian. Selama keyakinan ini masih hidup, Gaza tidak pernah sepenuhnya kalah.

Apa yang tidak dimiliki tentara Zionis Israel, tetapi ada pada pejuang Hamas? Tentara Israel adalah tentara modern: digerakkan oleh doktrin militer, gaji, dan perintah komando penjajah. Sebaliknya, pejuang Hamas digerakkan oleh keyakinan ideologis, religius bahwa kematian bukan akhir, tetapi kelanjutan makna. Dalam studi militer, ini disebut transcendent motivation, yang sering kali mengalahkan superioritas teknologi.

Orang Gaza dan para pejuangnya memiliki apa yang oleh para peneliti disebut sebagai community resilience under siege, yakni ketahanan sosial yang lahir dari penderitaan bersama di tengah perang dan blokade. Di banyak masyarakat modern, krisis kerap memecah individu dan melemahkan ikatan sosial. Namun di Gaza, krisis justru memperkuat solidaritas keluarga dan komunitas. Studi lembaga internasional seperti UNDP dan WHO menunjukkan bahwa meskipun tingkat trauma psikologis warga Gaza sangat tinggi, dukungan keluarga dan kebersamaan sosial berperan sebagai penyangga utama kesehatan mental.

Di tengah reruntuhan akibat konflik berkepanjangan, Gaza terus berbicara kepada dunia, tentang ketidakadilan, tentang ketahanan manusia, dan tentang kemanusiaan yang menolak untuk dihapuskan.

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

Inilah kekuatan yang tidak bisa direbut: kesadaran kolektif untuk tetap bertahan dan bermartabat, meski hidup di bawah tekanan militer, siasat licik penjajah, dan dominasi global yang timpang. Selama nilai itu tetap hidup, Gaza tidak pernah sepenuhnya kalah. []

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla

Rekomendasi untuk Anda