YARMOUK, KAMP TERUSIR YANG KEMUDIAN DIANIAYA

Kondisi kamp Yarmouk di Damaskus selatan pada Januari 2014. Foto: UN
Kondisi kamp Yarmouk di Damaskus selatan pada Januari 2014. Foto: UN

Oleh: Rina Asrina

(Wartawati kantor berita Islam Mi’raj/MINA)

Dunia sedang menderita oleh berbagai permusuhan sesama manusia yang berbuah dalam bentuk konflik. Konflik yang akan selalu ada selama manusia itu sendiri hidup. Ada yang berbentuk perang secara fisik maupun mental. Dunia panas oleh ketidakberdayaan manusia mendamaikan.

Ada satu kamp di dunia ini yang disebut “neraka dunia” oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki Moon baru-baru ini. Bagaimana tidak, apa yang anda rasakan jika sudah diusir dari rumah anda dan hijrah ke rumah orang lain namun di sana anda malah dianiaya hingga penderitaan itu berulang setiap hari. Bayangkan, sebagian dari diri anda meninggal karena kelaparan, sebagian lainnya meninggal karena bom dan peluru, anak-anak anda meninggal karena kehausan. Cukup pantas analogi Ban Ki Moon mengenai kamp Yarmouk yang terletak di Damaskus selatan, Suriah, tersebut.

Munculnya istilah “kamp pengungsi Palestina” dikenal sejak 1948. Kamp-kamp tersebut dibangun untuk menampung ratusan ribu penduduk asli Palestina yang diusir untuk meninggalkan rumah dan tanah mereka sebagai akibat dari klaim sepihak berdirinya negara ‘Israel’ pada 1948.  Saat itu, 78 % tanah Palestina di rampas oleh Yahudi Zionis dan hanya tersisa 22 % untuk bangsa Arab Palestina. Jadi bisa dikatakan, mayoritas warga Palestina yang terusir terpaksa harus berjalan jauh ke negeri lain demi mencari naungan, peristiwa menyakitkan itu dikenal dunia internasional sebagai hari Nakbah (Malapetaka).  Dan sejak itu, di negara-negara tetangga seperti Libanon, Suriah, dan sebagainya, warga Palestina memiliki nama baru di belakang mereka, yakni pengungsi.

Hidup menahun di dalam kamp yang hingga saat ini menjadi sebuah komunitas yang menggantung harus dirasakan mereka yang terusir di hari Nakbah. Keturunan berganti, tinggal menahun dalam kemiskinan, kekurangan lapangan kerja karena statusnya pengungsi sudah menjadi barang harian yang mereka hadapi.

Resolusi PBB 194 memberikan hak penuh bagi pengungsi Palestina untuk pulang ke Tanah Air mereka. Namun, Israel hingga kini tidak pernah menunaikan kewajiban mereka terkait resolusi tersebut.

Baca Juga:  Muhammadiyah Luncurkan Program Pembinaan Perdamaian Palestina

Definisi resmi PBB tentang “pengungsi Palestina” juga meliputi keturunan dari mereka yang diusir pada 1948. Menurut UNRWA pada 2005, jumlah pengungsi Palestina yang tercatat adalah 4,3 juta orang. Namun, catatan tersebut lebih kecil daripada jumlah sesungguhnya, yang diyakini mencapai lebih daripada 7 juta orang.

Kamp pengungsi Palestina terbagi menjadi dua: kamp resmi dan kamp tidak resmi. UNRWA mengakui 59 kamp dari 66 kamp yang tersebar di Lebanon, Jordan, Syria, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Agar sebuah kamp diakui UNRWA, disyaratkan adanya kesepakatan antara negara tempat di mana kamp berada dengan UNRWA.

Di Suriah sendiri, terdapat lebih dari 460 ribu pengungsi Palestina yang hidup di sembilan kamp resmi dan tiga kamp tidak resmi. Pemerintah Suriah bertanggung jawab menyediakan fasilitas-fasilitas publik di dalam kamp-kamp tersebut, sementara UNRWA bertanggung jawab menyediakan berbagai layanan, mulai dari kesehatan, pemukiman, hingga air bersih.

Yarmouk adalah kamp terbesar dan terpadat bagi komunitas pengungsi Palestina di Suriah. Dengan luas 2,1 Km persegi  adalah kamp tidak resmi. Ia terletak sekitar 8 km dari pusat kota Damaskus dan dibangun pada 1957.

Dilihat dari lingkungannya, Yarmouk tidak terlihat seperti konsentrasi komunitas pengungsi, tapi lebih mirip sebuah kota kecil. Di tepi-tepi jalan, banyak ditemukan toko-toko, salon-salon kecantikan, dan kafe-kafe internet. Angkutan umum seperti minibus dan taksi juga tampak memenuhi jalan-jalan sempit yang melintasi kamp.

Menurut seorang pengungsi Palestina, kamp ini telah mengalami perkembangan yang jauh lebih pesat daripada kamp-kamp lain di Syria. Pemukiman-pemukiman sementara mereka telah berubah menjadi rumah-rumah semen yang permanen.

Sebagian besar pengungsi yang hidup di Yarmouk adalah para profesional, seperti dokter, insinyur, dan pegawai swasta. Sebagian lainnya bekerja sebagai pedagang. Tidak heran jika kondisi dan tingkat penghidupan para pengungsi Palestina di Yarmouk, jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tinggal di kamp-kamp lainnya di Syria.

Baca Juga:  Imaam Yakhsyallah: Penting Pelajari Sejarah Palestina dan Al-Aqsa

Sebanyak 144 ribu orang pengungsi Palestina di Yarmouk—di mana sebagian besarnya berasal dari Haifa—bisa menikmati layanan kesehatan dari empat pusat kesehatan dan layanan pendidikan di 28 sekolah yang disediakan, baik oleh pemerintah lokal Damaskus maupun UNRWA.

yarmouk-refugeesBlokade mematikan

Sejak perang berkecamuk pada 2011 di Suriah, kondisi warga Palestina di kamp tersebut terkena efek yang menderitakan. Konflik antara pemerintah dan oposisi yang berebut kekuasan wilayah juga mempengaruhi kondisi kota kecil ini.

Pada awal Juli 2013, Suriah menerapkan blokade total ke Yarmouk. Tidak ada yang bisa masuk atau meninggalkan  kamp. Tidak orang, barang, atau kebutuhan dasar seperti makanan. Suriah juga membombardir wilayah itu dengan bom barel menargetkan oposisi yang menguasai wilayah itu.

Sejak dikarantina, warga-warga di kamp tersebut mengalami kelaparan, sehingga puluhan dinyatakan tewas dalam kondisi mengenaskan, kekurangan gizi, pasokan air dan kebutuhan  dasar lainnya.

Benang kusut kelompok yang berperang di kamp

Awal April 2015, kelompok Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengagetkan faksi maupun pengungsi Palestina yang tinggal di Yarmouk, selatan Damaskus, Suriah. Para pemberontak melancarkan serangan ke wilayah kamp dengan cepat, mengeksekusi beberapa orang di kamp tersebut karena menolak mengakui mereka, dan menahan puluhan lainnya yang ada di kamp.

Mereka terlibat pertempuran dengan kelompok Palestina Aknaf Bayt al-Maqdes yang disebut memiliki afiliasi dengan gerakan Hamas di Gaza. Pasukan Pembebasan Suriah (FSA), kelompok penentang rezim Presiden Bashar al-Assad, turut membantu Aknaf, meskipun sebelumnya dituduh sebagai kelompok yang memberikan ISIS akses masuk ke kamp.

Namun, para milisi kelompok ISIS terbilang tangguh. Mereka memukul mundur faksi Palestina di sejumlah titik kamp. Pejabat Palestina mengatakan, ISIS berhasil menguasai 60 persen wilayah kamp. Informasi lain menyebut 90 persen. Bendera hitam ISIS pun berkibar di Yarmouk.

Serangan ISIS memicu alarm di kalangan faksi Palestina, Pemerintah Suriah, dan Badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina (UNRWA). Bagi kalangan faksi Palestina, kelompok ISIS telah membahayakan eksistensi mereka dan para pengungsi.

Baca Juga:  Bahaya Hedonisme dan Solusinya Menurut Islam

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang berbasis di Ramallah segera mengirim utusan ke Damaskus. Keduanya sepakat ISIS harus diusir dari Yarmouk. Utusan PLO Ahmed Majdalani bersama  14 faksi Palestina pun setuju menggelar operasi militer bersama pasukan Suriah untuk mendepak ISIS dari kamp.

Namun, kesepakatan itu tak satu suara, baik di Ramallah  maupun para pejuang Palestina di Suriah. Di Ramallah, kelompok PLO meralat pernyataan Majdalani dan menyatakan tidak ikut dalam operasi militer manapun. Adapun Aknaf memilih tidak hadir dalam pertemuan faksi dan memberi sinyal akan tetap melawan ISIS tanpa bantuan rezim Assad.

Sebelum revolusi, kelompok-kelompok Palestina cenderung netral. Sikap netral inilah yang membuat kamp dapat bertahan lebih dari empat dekade sejak pertama kali didirikan pada 1957.

Terdapat sejumlah kelompok utama Palestina di Yarmouk. Di antaranya Hamas, Fatah, Front Demokrasi untuk Pembebasan Palestina (DFLP), Komando Jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP-GC), Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), dan Jihad Islam.

Setiap kelompok memiliki ciri khasnya masing-masing. DFLP dikenal dengan perpustakaannya di semua kamp. Hamas khas dengan gerakan pelayanan sosial dan medis. Sementara, PFLP-GC dikenal dekat dengan rezim Assad.

FPLP-GC tidak begitu populer di kamp sebelum revolusi. Semua faksi saling bersaing untuk mendapatkan pengikut. Sebuah laporan menyebut, 90 persen penghuni kamp merupakan anggota ataupun pendukung salah satu faksi.

Rezim Assad memanfaatkan kelompok Palestina pro pemerintah untuk mengontrol Yarmouk.  Selain PFLP-GC, ada juga kelompok Qashlak. PFLP-GC menyalurkan 1.100 senjata ke anggota Qashlak. Namun pada Desember 2012, kelompok FPLP-GC membuat kesalahan besar setelah terlibat kontak senjata dengan Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) di distrik luar kamp, seperti Hajar al-Aswad danYilda.
Akibat banyaknya grup terlibat di sekitar kamp itu, warga Palestina di Yarmouk semakin menderita, karantina kedua mereka rasakan jauh lebih parah daripada saat blockade tahun 2013. Kini, mereka tidak tahu siapa lawan siapa kawan, yang mereka inginkan adalah kembali ke tanah air mereka dalam kondisi aman, tidak tinggal di tanah orang dan dianiaya saudaranya.(L/R04/P2)

Referensi tambahan: republika.co.id

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Ismet Rauf

Comments: 0