Yayasan Al-Quds Malaysia Adakan Seminar Bahaya ‘Kesepakatan Abad Ini’

Kuala Lumpur, MNA – Yayasan Al-Quds Malaysia bekerja sama dengan Asosiasi Al-Zaytuna untuk Wanita dan Anak-anak mengadakan seminar dengan partisipasi anggota masyarakat Palestina dan Arab di Malaysia untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya dari “Kesepakatan Abad Ini” atau Deal of Century.

Seminar yang berjudul “Kesepakatan Abad Ini. Apa itu, bahaya dan cara untuk menghadapinya”, diadakan di markas Yayasan Al-Quds di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur pada Ahad (23/2), Palinfo melaporkan.

Hadir sebagai pembicara, yakni Dr. Sharif Abu Shammala, Presiden Yayasan Al-Quds Malaysia yang menjelaskan presentasi tentang Kesepakatan Abad Ini serta proyek-proyek akhir yang dicapainya.

Shammala mengatakan, rencana perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump ini merupakan perpanjangan dari banyak upaya sebelumnya yang bertujuan melikuidasi masalah Palestina.

Deal of Century secara eksplisit menargetkan penghapusan identitas Palestina dan Islam dari kota Al-Quds dengan mengambil kota itu dari sisi sejarah, peradabannya dan membantahnya bahwa itu bagian dari Palestina. Ia juga mengajukan proposal untuk memindahkan ibu kota ke Palestina ke kota Shuafat, mengabaikan status Al-Quds dan karakteristik religius serta kultur dari bangsa Palestina,” katanya.

Menurut Shammala, jumlah dan area yang diperlihatkan dalam rincian kesepakatan yang disimpan pemerintah Amerika dari peta historis tanah Palestina, tidak lebih dari 15 persen dari wilayah Palestina.

“Ini menunjukkan ukuran penghinaan terhadap logika, orang Arab, Palestina dan Otoritas Palestina pada khususnya yang selalu menggantungkan harapan pada pihak Amerika selama beberapa dekade putaran negosiasi,” ujar Shammala.

Dia memperingatkan situs Masjid Al-Aqsa dalam Deal of Century ini telah dirampok keeksklusifan Islamnya sebagai Jabal Muqoddas dan memberikanya orang-orang Yahudi hak atas pelanggaran mereka dengan menjadikannya tempat suci umum, disamping memaksakan pembagian spasial dan temporal dengan Yahudi.

Sementara itu Syekh Ahmad Abu Dalal yang mewakili Asosiasi Cendekiawan Palestina juga berbicara di simposium, ia menjelaskan tentang status agama dan aturan hukum Palestina dan perlunya mempertahankannya serta tidak boleh mengabaikannya.

Selain itu, dari kalangan pemuda dan mahasiswa, Muhammad Sobeih, Presiden Himpunan Pelajar Palestina di Malaysia berbicara tentang peran besar yang dapat dimainkan oleh kaum muda dalam menghadapi kesepakatan abad ini. (R/R6/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)