Zulkifli Hasan: Indonesia bukan Negara Radikal

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan. (Foto:Fauziah/MINA)
Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan. (Foto:Fauziah/MINA)

Jakarta, 4 Jumadil Akhir 1437/14 Maret 2016 (MINA) – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Zulkifli Hasan mengatakan, Indonesia bukan negara radikal dan Islam bukan teroris dan bukan sarang teroris.

“Tidak ada tempat bagi terorisme dan radikalisme, jika ada yang bilang Indonesia negara intoleran, sarang teroris. Bantah lah semua itu. Karena kita sudah memiliki konstitusi dan itulah cara kita berdemokrasi. Tidak ada tempat di Republik ini untuk radikalisme,” kata Zulkifli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (14/3)

Hal itu disampaikan Zulkifli saat menghadiri acara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), International Youth Conference, and Training on Countering Terrorism dengan tema Policing Terrorism A New Way Combating Terroism.

Zulkifli mengatakan, di Indonesia siapa pun berhak menjadi apapun dan setiap orang juga memiliki kewajiban yang sama.

“Suku yang ada, apapun di Republik ini berhak menjadi apapun, memiliki hak dan kewajiban yang sama,” ujarnya

Zulkifli menambahkan, betapa pentingnya empat Pilar MPR yang menjadi falsafah atau dasar negara Indonesia. Di mana, Pancasila adalah dasar dan ideologi negara. Sementara UUD sebagai konstitusi negara serta ketetapan MPR, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

“Semua itu adalah falsafah negara kita. Kita punya falsafah berbeda dengan yang ada di barat dan timur,” ungkap dia.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga mengatakan, Pancasila kalau diterjemahkan dalam satu kalimat adalah kasih sayang.

“Kalau diterjemahkan dalam satu kalimat Pancasila adalah kasih sayang kekeluargaan. Kalau lebih panjang lagi kalimatnya adalah kasih sayang kekeluargaan musyawarah untuk mufakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Zulkifli juga sempat menceritakan sedikit pidato Presiden Pertama Soekarno.

“Pada waktu Bung Karno pidato tahun 1966, Bung Karno mengatakan, kami tidak ikut sistem komunis timur, kami punya sistem sendiri yang kami sebut Pancasila, dan saat itu disebutkanlah Pancasila dan dapat sambutan yang sangat meriah hingga Pancasila pun diakui dunia,” kata Zulkifli.

Zulkifli mengatakan, Indonesia punya Bhineka Tunggal Ika sehingga dapat hidup berdampingan meski berbeda-beda. (L/P007/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)