20 Tahun Perjalanan MER-C untuk Kemanusiaan

Wawancara Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad

Hari ini, Rabu 14 Agustus 2019, lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) genap berusia 20 tahun. Selama perjalanannya, MER-C banyak menggalang bantuan kemanusiaan dalam beragam jenis, mulai dari bencana alam, konflik horizontal hingga peperangan.

Selain menggalang bantuan di dalam negeri, MER-C juga melebarkan kiprahnya hingga luar negeri, khususnya negara-negara yang sedang berkonflik untuk meminimalisir jumlah korban. Wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Rendi Setiawan berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad.

MINA: Bagaimana sejarah berdirinya MER-C?

Dr. Sarbini: MER-C dalam usia yang ke-20 tahun ini sudah banyak memberikan kiprah-kiprah besar untuk bangsa ini, pada umat. Ini dimulai pada kasus Ambon di mana terjadi konflik horizontal. Saat itu, teman-teman dari FKUI yang berisi dokter-dokter muda datang ke sana, melakukan aksi-aksi kemanusiaan. Kemudian setelah mereka pulang, mereka membentuk sebuah lembaga emergency, kemudian lembaga itu dikenal dengan MER-C.

Dengan berdirinya MER-C, program-program yang sudah dilaksanakan tidak berhenti begitu saja. Maka, ketika itu teman-teman sepakat mendirikan lembaga emergency ini, yang ketika ada konflik, kita datang, kita bisa memberikan bantuan kemanusiaan, kemudian program-program itu berkesinambungan. Kalau tidak ada organisasi, setelah program selasai, ya selesai.

Kita butuh wadah, teman-teman bisa terlibat langsung dalam memberikan sumbangsih. Sejak awal MER-C berdiri, memang kita lebih banyak berkecimpung pada bantuan kemanusiaan akibat konflik-konflik horizontal, di Poso misalnya. Kemudian setelah itu, MER-C juga merambah kepada konflik-konflik vertikal, antarnegara, Afghanistan, Lebanon dan lainnya.

Selanjutnya, MER-C juga memberi bantuan untuk korban-korban akibat bencana alam seperti longsor, banjir, gempa bumi. Aksi-aksi yang MER-C lakukan, baik di dalam maupun luar negeri ini telah memberikan banyak sumbangsihnya, khususnya bagi masyarakat Indonesia ini. Pada usia ke-20 tahun ini, MER-C mencoba untuk memaksimalkan, lebih untuk memberikan aksi-aksi di dalam dan luar negeri.

MINA: Apa visi dan misi MER-C?

Dr. Sarbini: Semboyan MER-C adalah rahmatan lil alamin. Kami melihat aksi-aksi kemanusiaan MER-C memiliki dampak yang sangat luar biasa, baik dampak bagi masyarakat, dampak bagi negara yaitu dengan cara mengharumkan nama bangsa dan negara. Sebagai contoh pembangunan rumah sakit di dua negara seperti Palestina dan Myanmar, itu  bukan hanya menaikkan nama MER-C, tetapi juga nama bangsa Indonesia, sehingga menjadi ikonik, ikon semua pihak.

Ini adalah sebuah misi besar yang telah dilakukan rakyat Indonesia, baik kepada Palestina maupun kepada Myanmar melalui MER-C. Khusus di Myanmar, rumah sakit tersebut adalah bentuk kolaborasi antara Muslim dengan Budha. MER-C bekerja sama dengan PMI (Palang Merah Indonesia), juga Walubi organisasi ummat  Budha di Indonesia. Ini menunjukkan kebhinekaan Indonesia, di mana kita berbeda-beda agama, budaya, ras, dan sebagainya. Tapi kita masih utuh dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Kita ingin menjunjung tinggi netralitas. Kita ingin semua pihak menerima kehadiran MER-C kapanpun dan di manapun dan dengan komunitas apapun.

Ada filosofi-filosofi yang coba kita berikan kepada pihak-pihak tertentu, ini adalah wujud dari pluralisme Indonesia. Tanpa kita menggembar-gemborkan pluralisme, tapi dengan hadirnya rumah sakit yang dibangun dua negara dan agama ini, kita mengharapkan ada upaya-upaya bertahap agar kedua agama tidak lagi saling salah paham. Ini merupakan salah satu politik kemanusiaan yang dilakukan MER-C.

MINA: Bisa diceritakan awal mula MER-C berkiprah di luar negeri?

Dr. Sarbini: Sejarahnya bermula pada tahun 2001 lalu ketika Amerika Serika melakukan serangan ke Afghanistan. Ketika itu, teman-teman MER-C berunding, berdiskusi, untuk mengirim tim. Pada saat itu memang belum terbayang, tapi intinya kita harus berangkat bersama PMI yang waktu itu bersama Pak Jusuf Kalla. Kita harus tunjukkan bahwa kita rahmatan lil alamin. Kita tidak hanya memperhatikan Indonesia, tetapi kita juga memperhatikan dunia.

Afghanistan merupakan debut pertama kita, setelah itu kemudian berlanjut ke Afghanistan II dan sebagainya. Nah artinya Afghanistan adalah pintu awal. Pada waktu itu, serangan Amerika Serikat terhadap Thaliban di Afghanistan memiliki resiko bagi kita. Tapi setelah itu, kita merasa “ketagihan” untuk terus memberikan bantuan di daerah-daerah konflik.

MINA: Bagaimana dengan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina?

Dr. Sarbini: Palestina itu jadi program abadi kita. Walaupun nanti lantai tiga dan empat selesai dibangun, bukan berarti program kita di Palestina selesai, tetap ada hal-hal lain yang akan kita kerjakan di sana. Karena di Palestina, terutama di bidang kesehatan, sangat mendesak, dan sangat besar sebenarnya. Jadi, dari sekian besar kebutuhan, sekian besar persoalan kesehatan di Palestina, MER-C mengambil satu segmen yang bisa kita tangani.

MINA: Banyak isu-isu miring menghantam MER-C, bagaimana menanggapinya?

Dr. Sarbini: Isu itu selalu ada, bukan hanya menghantam MER-C, tetapi semua organisasi yang bergerak dalam bidang kemanusiaan, atau dunia sosial, selalu ada isu miring yang menerpa. Isu tidak membuat kita gundah gulana, justeru kita semakin bersemangat untuk saling membantu sesama. Kita buktikan dengan kerja, kita buktikan hasilnya. Lama-lama isu-isu itu akan hilang dengan sendirinya.

Bagi MER-C isu tidak menjadi sesuatu yang harus kita kecam, atau kita buat counter isu, itu tidak perlu. Kita tidak pernah terfikir sampai ke arah sana. Mungkin sedikit lah tanya jawab, diskusi dan semisalnya. Dengan perjalanan waktu, isu-isu miring akan terkikis sendiri yang kemudian hilang. Palingan dalam moment-moment tertentu akan muncul lagi, kita tidak ambil pusing. Biarkan saja. Justeru kalau kita tangani isu itu, bisa pusing sendiri kita.

MINA: Program MER-C ke depannya?

Dr. Sarbini: Ada yang namanya program spontanitas, sesuai dengan ikon kita, membantu korban bencana. Kita ambil contoh gempa Palu, Donggala, dan NTB. Selain program spontanitas, ada juga program yang telah kita rencanakan yaitu kita akan membangun rumah sakit di Jalan Basuki Rachmat, Jakarta Timur. Kita berpikir, kita sudah membangun rumah sakit di luar negeri, kok di dalam negeri belum ada. Nah fokus ke depan kita akan membangun rumah sakit di situ.

Rencananya, kita ingin rumah sakit Basuki Rachmat bisa dimulai tahun ini. Peletakan batu pertamanya kan sudah dilakukan. Kalau tidak bisa kita kejar tahun ini, mungkin awal-awal tahun depan. Program ini murni dukungan dari masyarakat Indonesia melalui MER-C. Sekarang SDM yang memiliki keahlian di bidang kedokteran yang dimiliki MER-C sudah tersebar di banyak tempat. Jadi rumah sakit ini kita gunakan sebagai tempat untuk mengumpulkan dokter-dokter MER-C.

Ini dimaksudkan agar ketika kita memiliki program mendesak, kita bisa menyiapkan dengan segera. Atau ketika MER-C memiliki agenda pelatihan, kita juga bisa memanfaatkan rumah sakit itu sebagai tempat pelatihannya. Jadi sangat disayangkan jika potensi besar ini tidak kita satukan.

Meski kita memiliki program dalam negeri dalam waktu dekat ini, kita juga tetap melanjutkan misi di luar negeri. Kita akan membangun rumah sakit di Hadramaut, Yaman. Kita tunggu rumah sakit di Rakhine State, Myanmar, selesai sepenuhnya, baru kita melangkah ke program-program kita selanjutnya.

Kami berharap masyarakat terus mendukung kami, mendoakan kami sehingga bisa tetap  istiqomah dengan semboyan awal yaitu rahmatan lil alamin. Kami berharap masyarakat terus mendukung perjuangan MER-C di bidang kemanusiaan, di Palestina khususnya. Jadi tanpa mengesampingkan teman-teman yang lain, bahwa MER-C memiliki program besar di sana sehingga membutuhkan dukunga besar dari masyarakat Indonesia. Semua ini bisa berjalan dengan lancar jika ada dukungan secara kontinyu dari masyarakat. (W/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)