Kinshasa, Kongo, 19 Dzulhijjah 1437/21 September 2016 (MINA) – Sedikitnya 44 orang tewas di Kongo dalam aksi protes menentang Presiden Joseph Kabila.
Lembaga pemantau hak asasi Human Rights Watch (HRW) mengungkapkan pada Selasa (20/9), 37 korban tewas di tangan pasukan keamanan dan enam oleh polisi, Arab News melaporkan yang dikutip MINA.
Aksi unjuk rasa di Republik Demokratik Kongo dimulai pada Senin menyusul putusan komisi pemilihan yang berupaya menunda pemilihan presiden berikutnya, yang telah dijadwalkan pada November.
Kabila tidak bisa lagi mecalonkan diri untuk periode berikutnya karena terhalang oleh ketentuan konstitusi tentang batasan masa jabatan presiden.
Baca Juga: PBB Serukan Diakhirinya Deportasi Paksa Pengungsi Afghanistan oleh Pakistan
Kalangan oposisi menuding penundaan pemilu adalah manuver untuk memungkinkan Kabila tetap berkuasa.
Namun, tuduhan itu disangkal oleh para sekutu presiden dan mengatakan Kabila akan menghormati konstitusi.
Peneliti HRW Afrika, Ida Sawyer, mengatakan, 17 orang tewas pada Selasa, sementara 20 lainnya tewas pada Senin. Temuan itu didasarkan pada sejumlah laporan kredibel yang ia dapatkan di lapangan.
“Sebagian besar tewas ketika pasukan keamanan menembaki kerumunan demonstran. Lainnya tewas ketika pasukan keamanan membakar markas partai oposisi tadi malam,” kata Sawyer via surat elektronik. (T/P022/P001)
Baca Juga: Warga Daraa Suriah Unjuk Rasa Mengutuk Serangan Israel
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Baca Juga: Pelapor Khusus PBB, Albanese: Apa yang Terjadi di Gaza Bukan Perang, Tapi Genosida