Gaza, MINA – Sejak kemenangan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) dalam pemilihan legislatif Palestina pada 2006, Israel memberlakukan blokade politik dan ekonomi di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Setelah Hamas mengambil kendali penuh atas Gaza pada 2007, blokade semakin diperketat dan terfokus di jalur pantai sempit itu. Ini menjadikannya salah satu blokade terpanjang dalam sejarah modern.
Tujuan pendudukan Zionis Israel melalui blockade ini sangat jelas, yaitu menghukum rakyat Palestina karena memilih gerakan yang mengangkat slogan perlawanan, mengubah kesadaran politik mereka, dan memaksa Hamas meninggalkan jalur perlawanan menuju jalan penyelesaian damai. Namun, hampir dua dekade kemudian, blokade justru menjadi jantung perlawanan dan motif utama operasi-operasi besar seperti Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023.
Taktik dan Tujuan Blokade Pengepungan: Dari Sparta hingga Gaza
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Blokade secara historis terkait dengan keadaan perang, yaitu taktik untuk memaksa musuh menyerah dengan memotong pasokan militer dan kebutuhan dasar. Salah satu eksperimen paling awal tercatat pada abad kelima SM, ketika Sparta mengepung Athena.
Namun, blokade tak lagi semata taktik perang. Dalam masa damai, blokade digunakan untuk mencapai tujuan politik, seperti yang terjadi di Irak, Libya, dan Sudan.
Resolusi PBB 661 pada Agustus 1990 memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Irak, yang berlangsung selama 13 tahun setelah invasi Kuwait. Dampaknya menghancurkan infrastruktur sipil, sistem komunikasi dan listrik lumpuh, produksi pangan musnah, dan anak-anak Irak menderita.
Dennis Halliday, asisten sekretaris jenderal PBB yang mengundurkan diri pada 1998, menyebut sanksi itu sebagai genosida karena anak-anak Irak ditolak hak mereka untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Cendekiawan Irak Tariq Yusuf Ismail dan William Haddad dalam buku Iraq: Korban Manusia dalam Sejarah menegaskan bahwa motif sebenarnya Washington dan London adalah dominasi atas Timur Tengah dan sumber daya minyaknya.
Tindakan Israel memberlakukan blokade terhadap Gaza, menurut para pengamat, tak lepas dari diamnya PBB atas perilaku AS dan Inggris saat memberlakukan blokade di Irak. Ini dianggap pembenaran Tindakan blokade.
Jenis Blokade dan Upaya Menetralisirnya
Secara umum, blokade terbagi menjadi dua jenis: blokade komprehensif dan sanksi ekonomi. Efektivitasnya bergantung pada sejauh mana dapat ditegakkan.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Beberapa negara berhasil menetralisir blokade:
- Iran menghindari sanksi melalui perjanjian barter, langkah politik-militer, dan ancaman kekerasan untuk melindungi ekspornya.
- Kuba bertahan enam dekade sanksi AS tanpa mengubah kebijakannya, meski rakyatnya menderita.
- Korea Utara justru memperkuat aliansi dengan musuh Washington dan mengembangkan program nuklir.
- Bosnia menggali terowongan di bawah Sarajevo untuk memasok kota selama pengepungan Serbia (1992-1996).
Pengalaman Gaza menggabungkan berbagai strategi ini, diplomasi, ekonomi, militer, dan terowongan.
Blokade Gaza: Dari 2006 hingga Badai Al-Aqsa
Euro-Med Monitor mendokumentasikan bahwa Israel memberlakukan blokade setelah Hamas memenangkan pemilu 2006, dan memperketatnya pada Juni 2007 setelah Hamas mengambil kendali militer atas Gaza. Gaza dinyatakan sebagai “entitas bermusuhan.”
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
Pembatasan ketat diberlakukan pada masuknya bahan bakar, barang, dan pergerakan orang. Israel juga mengendalikan kuantitas dan kualitas barang yang masuk, melarang ratusan komoditas, menyebabkan resesi ekonomi, kemiskinan, dan pengangguran melonjak. Sektor kesehatan lumpuh karena banyak barang medis tidak tersedia, dan pasien menunggu berbulan-bulan untuk operasi.
Setelah 7 Oktober 2023, Menteri Pertahanan Yoav Gallant mengumumkan blokade komprehensif terhadap Gaza. Menteri Energi Yisrael Katz memerintahkan pemutusan pasokan air.
Laporan UNCTAD Januari 2024 menyebut kondisi Gaza berada di tingkat terendah sejak pendudukan 1967. Klasifikasi Ketahanan Pangan Terpadu PBB mencatat lebih dari 25% rumah tangga Gaza menderita kelaparan ekstrem, dengan 26% populasi (577.000 orang) menghadapi kelaparan bencana. Risiko kelaparan disebut nyata jika konflik berlanjut dan akses kemanusiaan dibatasi.
Strategi Gaza Melawan Blokade
Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza
Sejak 2006, Hamas dan rakyat Gaza mengembangkan berbagai cara untuk melawan pengepungan:
- Diplomasi dan Rekonsiliasi
Hamas berusaha membentuk pemerintahan persatuan nasional yang melibatkan Fatah dan faksi lain untuk melemahkan legitimasi tindakan hukuman internasional. Namun, syarat Otoritas Palestina agar Hamas menyetujui Perjanjian Oslo menjadi batu sandungan utama.
- Hubungan dengan Mesir
Hamas menghindari eskalasi politik dengan tetangganya, Mesir, dan lebih memilih bekerja sama dalam mengendalikan keamanan perbatasan, yang membantu melonggarkan pengepungan selama beberapa periode.
- Eskalasi Militer
Pencabutan blokade menjadi tujuan utama dalam setiap putaran perang, mulai tahun 2008, 2012, 2014, 2021, hingga 2023. Namun, agresi Israel justru memperdalam penderitaan melalui kehancuran massal dan hambatan rekonstruksi.
Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi
- Terowongan dan Penyelundupan
Rakyat Gaza menggali terowongan dan melakukan penyelundupan melalui laut dan darat untuk memasok kebutuhan sipil dan militer. Namun, sejak Oktober 2013, rezim Mesir meluncurkan kampanye besar-besaran menghancurkan terowongan dan membangun zona penyangga, mengurangi efektivitas jalur ini.
- Aksi Massal Melintasi Perbatasan
Warga Gaza dua kali menerobos perbatasan Mesir (September 2005 dan Januari 2008) untuk memenuhi kebutuhan. Mesir kemudian membangun tembok pemisah dan memperketat pengamanan.
- Gerakan Solidaritas Internasional
Konvoi darat seperti “Miles of Smiles” dan Armada Freedom Flotilla berupaya membawa bantuan dan menekan Israel serta Mesir. Serangan Israel terhadap Armada Bebas 2010 menewaskan sembilan aktivis Turki dan memicu krisis diplomatik dengan Ankara.
Sejak awal blokade, masyarakat Gaza meningkatkan proyek pertanian, peternakan, perikanan, dan produksi pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan luar.
Baca Juga: Gencatan Senjata Terus Dilanggar, Empat Warga Gaza Gugur Akibat Israel
Masa Depan Perlawanan
Tinjauan atas sejarah blokade Gaza menunjukkan bahwa blokade adalah salah satu medan terpenting dalam perang pembebasan dari pendudukan. Nasibnya terkait erat dengan nasib perlawanan Palestina.
Blokade hanya akan berakhir dalam dua skenario: penghentian perlawanan Palestina atau tercabutnya kehendak pendudukan melalui perubahan keadaan internasional atau regional.
Saat ini, desakan Palestina untuk memperbarui revolusi, tingginya biaya politik bagi sponsor Barat Israel, dan menurunnya legitimasi internasional negara pendudukan menjadi faktor-faktor yang mendorong harapan akan berakhirnya blokade.
Baca Juga: Insiden FlyDubai Picu Kritik, Oposisi Israel Soroti Kegagalan Netanyahu
Selama Gaza masih berdiri dan rakyatnya masih berjuang, blokade hanyalah babak panjang dalam sejarah perlawanan yang pada akhirnya akan berakhir dengan kemenangan dan kebebasan Palestina, khususnya Jalur Gaza dari penguasaan oleh Zionis ISrael. []
Sumber: Al Jazeera
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Partai Hijau Inggris Ambil Sikap Anti-Zionis, Sebut Zionisme Bentuk Rasisme
















Mina Indonesia
Mina Arabic