“Dari Dinding Reruntuhan ke Layar Perdana Menteri, Kisah Layan al-Qawha Mengingatkan Dunia bahwa Suara Anak-Anak Gaza Tak Pernah Padam”.
Di tengah puing-puing kehancuran Gaza, di antara dinding-dinding yang retak akibat bom dan rudal, seorang gadis kecil bernama Layan al-Qawha (11) menggoreskan kuasnya. Tanpa pernah menyangka, lukisan mural bergambar Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, dengan piala dunianya, bendera Spanyol dan bendera Palestina sebagai latarnya, di tembok yang hancur itu akan terbang jauh, menyeberangi laut dan daratan, hingga sampai ke Madrid, ibu kota Spanyol.
Beberapa hari kemudian, keajaiban itu datang. Sanchez muncul dalam pesan video, mengucapkan terima kasih kepada seniman cilik Palestina itu, dan menyampaikan pesan yang menghangatkan hati: Spanyol “mendengar, melihat, peduli, dan tidak melupakan” anak-anak Gaza.
Bagi Layan, yang tinggal di Kota Gaza di tengah genosida yang masih berlangsung, respons itu bukan sekadar pengakuan atas karyanya. Itu adalah bukti nyata bahwa suara-suara anak-anak Gaza masih bisa menembus tembok keheningan dunia. Laporan Yeni Safak, salah satu media utama Turkiye, mengisahkan perjalanan harapan ini.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
“Itu Terasa Mustahil… Tapi Itu Terjadi,” ujar Layan.
Dengan mata berbinar di balik wajah yang telah menyaksikan terlalu banyak kehancuran, Layan menceritakan perasaannya.
“Saya terkejut dan sangat bahagia. Saya tidak pernah membayangkan bahwa seorang perdana menteri akan melihat lukisan saya, merekam video untuk saya, bahkan menyebutkan namaku. Itu terasa mustahil,” katanya, suaranya bergetar haru.
“Tapi itu terjadi. Itu adalah salah satu momen paling bahagia dalam hidup saya, dan itu memberi saya harapan bahwa suara-suara kita bisa mencapai dunia.”
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Layan adalah salah satu dari ribuan anak Gaza yang kehilangan masa kecilnya di tengah perang. Namun, di atas reruntuhan, dia memilih kuas dan cat sebagai senjata untuk bersuara.
Setiap Lukisan Menceritakan Kisah Kehilangan
Bagi Layan, melukis bukan sekadar hobi seni. Setiap coretan, setiap warna, setiap goresan kuasnya adalah kisah nyata tentang kehilangan yang tak terucapkan.
“Saya ingin lukisan saya mengatakan: Cukup tidak adil terhadap Gaza. Kita telah menderita begitu banyak. Kita kehilangan segalanya tanpa melakukan kesalahan. Kami adalah anak-anak yang tidak bersalah,” ujarnya dengan keteguhan yang menggetarkan.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Layan kemudian menceritakan secara blak-blakan apa yang telah dirampas perang dari keluarganya:
Ia melanjutkan, “Keluarga saya kehilangan rumah. Saya juga kehilangan kucing-kucing kesayanganku. Bapak saya kehilangan pekerjaannya di UNRWA setelah bekerja dengan setia selama 23 tahun, walaupun dia tidak melakukan kesalahan.”
“Saya ingin dunia tahu bahwa di balik setiap lukisan, ada kisah nyata dan rasa sakit yang nyata,” katanya.
Pesan Sanchez untuk Anak-Anak Gaza
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
Dalam pesan videonya, Sanchez mengucapkan terima kasih kepada para seniman lokal atas “tindakan indah” mereka. Ia juga menyampaikan harapan yang menjadi impian setiap anak Gaza:
“Suatu hari nanti, anak-anak Gaza akan kembali melukis tanpa rasa takut di sekolah mereka dan menjalani masa depan yang damai,” pesan Sanchez.
Pesan ini bukan sekadar kata-kata diplomatik. Di tengah lebih dari satu juta anak-anak Gaza yang kehilangan akses pendidikan, trauma mendalam, dan mimpi yang hancur.
Kata-kata Sanchez adalah pengakuan bahwa mereka ada, mereka masih hidup, dan mereka pantas mendapatkan masa depan.
Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza
Melukis Harapan di Atas Puing Bangunan
Layan adalah salah satu dari ribuan anak Gaza yang menunjukkan ketahanan luar biasa di tengah kehancuran total. Di saat dunia menyaksikan berita demi berita tentang bom dan korban, anak-anak Gaza memilih cara mereka sendiri untuk bersuara: melalui seni, puisi, dan mimpi.
“Gaza dan rakyatnya telah diperlakukan secara tidak adil,” kata Layan dengan sederhana namun menusuk.
Dia tidak berbicara tentang politik, tidak tentang hamas atau israel. Dia hanya berbicara tentang kucingnya yang mati, rumahnya yang hancur, dan ayahnya yang kehilangan pekerjaan setelah 23 tahun mengabdi.
Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi
Itu bukan cerita tentang konflik. Itu adalah cerita tentang kemanusiaan yang dihancurkan.
Kisah Layan al-Qauha mengajarkan satu hal, suara anak-anak Gaza tidak akan pernah bisa dibungkam, bahkan oleh bom sekalipun.
Muralnya yang menghiasi dinding-dinding hancur di Gaza bukanlah karya seni biasa. Itu adalah teriakan harapan yang berhasil menembus tembok penghalang informasi, melewati filter media, dan sampai ke telinga seorang pemimpin negara di Eropa.
Dan ketika Sanchez mengucapkan Namanya “Layan”, itu bukan sekadar pengakuan. Itu adalah pengakuan bahwa setiap anak di Gaza punya nama, punya mimpi, dan pantas untuk didengar.
Baca Juga: Gencatan Senjata Terus Dilanggar, Empat Warga Gaza Gugur Akibat Israel
Begitulah, di tengah genosida yang masih berlangsung, di antara 16.000 anak yang kehilangan nyawa dan 1 juta anak yang kehilangan akses pendidikan, Layan al-Gugha masih melukis.
Kuasnya tidak berhenti. Harapannya tidak padam. Dan suaranya, terus menggema.
Karena di balik setiap kuas, ada mimpi. Di balik setiap lukisan, ada kehidupan. Dan di balik setiap anak Gaza, ada dunia yang menunggu untuk mendengar. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Insiden FlyDubai Picu Kritik, Oposisi Israel Soroti Kegagalan Netanyahu
















Mina Indonesia
Mina Arabic