Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran Dikabarkan Terima Tawaran Gabung Pakta Pertahanan Saudi-Turki-Pakistan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 24 Agustus 2026 - 14:08 WIB

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:08 WIB

60 Views ㅤ

Pakta Pertahanan Arab Saudi - Turkiye - Pakistan. (Egypt Independent)

Teheran, MINA – Kabar mengejutkan datang dari Timur Tengah. Iran dilaporkan telah menerima undangan untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Makkah, aliansi militer yang dibentuk oleh Arab Saudi, Pakistan, dan Turki pada 7 Agustus lalu.

Langkah ini, jika benar, akan menjadi salah satu pergeseran geopolitik paling dramatis dalam beberapa dekade terakhir.

Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh Al Mayadeen pada Sabtu (22/8), mengutip Mehdi Rahimi, kepala kantor berita parlemen Iran, Khaneh Mellat. Rahimi mengatakan Iran telah menerima undangan dan sedang meninjau masalah tersebut.

“Negara-negara di kawasan sedang bergerak menuju upaya mencari payung keamanan regional,” katanya, menyebut perkembangan ini sebagai “kemenangan bagi Iran, karena Iran telah lama menyerukan hal ini.”

Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi

Namun, penting untuk dicatat, seperti dikutip dari India Today, Senin (24/8), undangan ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh Kementerian Luar Negeri Iran maupun oleh Arab Saudi, Pakistan, dan Turki.

Pakta Mekah: Seperti NATO tapi di Timur Tengah

Pakta Pertahanan Mekah ditandatangani pada 7 Agustus oleh Arab Saudi, Pakistan, dan Turki. Inti perjanjian ini adalah klausul pertahanan kolektif bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya, mirip dengan Pasal 5 NATO.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan pakta ini bertujuan memperkuat keamanan kawasan, bukan menargetkan negara tertentu.

Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal

Mengapa Ini Mengejutkan?

Iran dan Arab Saudi adalah rival lama yang telah berseteru selama puluhan tahun. Persaingan mereka mewujud dalam berbagai konflik. Misalnya di Yaman, Riyadh mendukung pemerintah melawan kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran, dan di kawasan Teluk, ketegangan terus berlangsung.

Kedua negara baru memulihkan hubungan diplomatik pada 2023 setelah bertahun-tahun permusuhan, dengan China sebagai mediator. Namun, hubungan kembali memburuk setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah Saudi sebagai respons atas serangan AS dan Israel.

Jika Iran benar-benar bergabung, ini akan menjadi ujian besar bagi rekonsiliasi Riyadh-Teheran yang masih rapuh.

Baca Juga: Pakta Pertahanan Mekah Siap Kerahkan Pasukan Hadapi Houthi

Respons Iran: Tak Ada Alasan Khawatir

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pada 10 Agustus bahwa Teheran “tidak memiliki alasan untuk khawatir” terkait Pakta Makkah. Ia menyebut perkembangan itu mencerminkan pemahaman yang berkembang di kalangan negara-negara kawasan mengenai perlunya pengaturan keamanan sendiri.

Respons yang hati-hati ini membuat kabar tentang undangan bergabung menjadi tidak terlalu mengejutkan.

Apa Artinya jika Iran Bergabung?

Baca Juga: Arab Saudi akan Regularkan Status Tinggal Warga Negara Ilegal Yaman

Pakistan, salah satu anggota pendiri, menyatakan pakta ini terbuka bagi negara lain untuk bergabung. Mesir muncul sebagai kemungkinan anggota tambahan, sementara Bangladesh juga mengisyaratkan keterbukaan.

Jika Iran masuk, aliansi ini akan menjadi kekuatan militer raksasa yang mencakup: Pakistan: satu-satunya negara Muslim dengan senjata nuklir. Lalu ada Turki, kekuatan militer terbesar kedua di NATO, dan Saudi negara dengan ekonomi terbesar di Timur Tengah.

Jika bergabung, Iran negara dengan kekuatan militer dengan rudal dan drone canggih akan semakin memperkuat pakta pertahanan.

Ini bisa mengubah peta kekuatan global dan menjadi pukulan telak bagi isolasi yang selama ini diterapkan AS terhadap Iran.

Baca Juga: Pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah Dimulai Akhir 2026

Syarat yang Mengganjal

Meskipun menarik, langkah ini penuh tantangan. Saudi dan Iran masih saling curiga. Hubungan mereka dengan kelompok-kelompok di Yaman, Lebanon, dan Suriah masih menjadi sumber ketegangan. Selain itu, AS dan Israel pasti akan merespons dengan keras jika Iran benar-benar bergabung dengan aliansi yang didukung Saudi.

Jadi, akankah Iran benar-benar duduk satu meja dengan Saudi dalam aliansi militer? Dunia sedang menunggu jawaban resmi dari Teheran dan Riyadh. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menteri Mansour: Pertumpahan Darah yang Tidak Beralasan Dilarang, Baik Afghanistan Maupun Pakistan

Rekomendasi untuk Anda