9 Kunci Sukses Shalahuddin Al-Ayyubi Bebaskan Masjidil Aqsha

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Kebangkitan kesadaran kaum Muslimin untuk membebaskan Masjidil Aqsha, Yerusalem dan Palestina secara keseluruhan, di antaranya dimulai oleh Imaduddin Atabiq Zanki al-Malik al-Mansur (1085-1146) bin Aq Sunqur al-Hajib.

Ayahnya adalah gubernur Aleppo, (Suriah, Syam), di bawah penguasa Malik Shah I, Sultan Kekaisaran Saljuk (1072-1092).

Kepemimpinan Imaduddin Zanki dimulai ketika dia menyatukan dua kekuatan kota Mosul dan Aleppo tahun 1127-1128.

Menurut ahli tafsir dan sejarah, Ibnu Katsir, Imaduddin Zanki adalah seorang tokoh yang ulung, sangat dihormati, dihargai oleh pasukannya dan orang-orang sipil serta tidak menganiaya orang-orang lemah.

Ia pun dikenal sangat pemberani dan kuat dalam menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya untuk bersatu dan tunduk pada ajaran Islam. Namun ia juga dikenal lembut dan penyantun terhadap kaum hawa dan berlaku dermawan kepada bawahannya.

Ia meletakkan pondasi-pondasi pembangunan dan terus-menerus menyalakan semangat perjuangan yang besar dan kuat dalam upaya pembebasan negeri-negeri dari utara Syam ke arah utara Iraq, yang kala itu beberapa dalam pendudukan Salibis.

Dalam upayanya melanjutkan usaha pembebasan kawasan Syam melalui penaklukan kota Damaskus, Suriah, tahun 1145, Imaduddin Zanki dibunuh oleh seorang penyusup tahun 1146.

Kepemimpinan perjuangan sepeninggalnya, diteruskan oleh kedua puteranya, Saifuddin Ghazi Zanki di Mosul serta Mahmoud Nuruddin Zanki di Aleppo dan di Damaskus.

Puteranya yang menonjol kepemimpinannya adalah Nuruddin Zanki. Ia meneruskan cita-cita ayahnya untuk dapat membebaskan Yerusalem dari cengkeraman Pasukan Salib.

Nama lengkapnya dan gelarnya adalah Al-Malik Al-Adil Nuruddin Abul Qasim Mahmud bin Imaduddin Atabeg Zanki bin Aq Sunqur Al-Hajib. Usia hidupnya 56 tahun  (Februari 1118 –  Mei 1174).

Nama panggilannya adalah Abu Qasim dan ia dijuluki Nuruddin (Cahaya Agama) dan raja yang adil (Al-Malik Al-Adil).

Ia memainkan peranan yang sangat penting dalam memperbaiki keadaan masyarakat Muslim di Suriah yang sebelumnya sibuk dengan konflik internal dan perselisihan mazhab.

Ia menaklukkan warga dengan kesalehan dan nilai-nilai yang agung dari Allah. Kekuatan militernya tidak dilengkapi dengan persenjataan fisik yang hebat dan istimewa. Tetapi ia memiliki senjata yang jauh lebih menggetarkan musuh-musuhnya, yaitu kekuatan doa dan ibadahnya.

Kesalehan serta cara-cara yang lembut membuat Nuruddin Zanki dapat menyatukan seluruh Suriah ke dalam satu pemerintahan, setelah wilayah itu tercerai-berai dan saling bermusuhan selama lebih dari setengah abad.

Di samping kekuatan ruhaninya, Nuruddin Zanki juga dikenal dengan kekuatan fisiknya. Ia buktikan dengan keterampilannya yang luar biasa dalam berkuda dan memimpin secara langsung di medan tempur.

Akhir hayatnya, Imaduddin Zanki wafat pada tahun 570 H atau 1174 M, karena sakit.

Kaum Muslimin di kawasan Syam (mulai dari kawasan Lebanon, Suriah, Palestina, hingga Mesir) ketika itu meminta kepada murid Nuruddin, yaitu Shalahuddin Al-Ayyubi untuk mengemban amanah menjadi Sultan di Suriah.

Kelak Shalahuddin berhasil mewujudkan cita-cita Nuruddin Zanki dan Imaduddin Zanki, yakni membebaskan Al-Aqsha dari penjajahan tentara Salib.

Shalahuddin Melanjutkan Perjuangan Zanki

Nama lengkapnya Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi (lahir 1138 M – wafat 4 Maret 1193) adalah seorang panglima dan pejuang Muslim yang berasal dari Tikrit (daerah utara Irak).

Shalahuddin melanjutkan perjuangan pendahulunya Nuruddin Zanki, dan pendahulu sebelumnya Imaduddin Zanki.

Dia sukses dalam Pertempuran Hittin (3-4 Juli 1187), salah satu dari periode penting dari sejarah Perang Salib. Pasukan Muslim kala itu di bawah pimpinan Shalahuddin Ayyubi berhasil mengalahkan tentara Salib dan membebaskan wilayah Yerusalem.

Tentu tidak serta merta dalam dua hari pertempuran di lapangan. Melainkan melalui proses yang panjang dan kompleks yang telah dilakukan oleh Panglima Shalahuddin.

Usaha dan perjuangan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam  membebaskan Masjidil Aqsha dan Palestina tersebut, menurut Aqsainsitute, ada 9 (sembilan) kunci sukses usahanya, yaitu :

1. Menjaga kebersihan hati.

Niat yang lurus, ikhlas dan hanya berorientasi kepada akhirat dan ridha Allah saja, sealu ditekankan oleh Shalahuddin.

2. Menjaga shalat malam (tahajud).

Bahauddin bin Syaddad, penasihat utama Shalahuddin menceritakan bahwa Shalahuddin senantiasa menunaikan shalat malam (tahajud) dan sangat senang mendengar bacaan Al-Quran. Di sela-sela pertempuran, dia sering duduk mendengarkan bacaan Al-Quran yang dibaca para prajuritnya hingga ia meneteskan air mata.

3. Menjalin Ukhuwah dengan seluruh kaum Muslimin.

Ini terutama yang berada dalam satu visi untuk membebaskan Masjidil Aqsha. Setiap hari Senin dan Kamis, Shalahuddin selalu menyempatkan diri untuk mengikuti pertemuan-pertemuan terbuka yang dihadiri para fuqaha, qadhi dan ulama.

4. Menumbuhkan kecintaan terhadap Tiga M

Shalahuddin selalu menumbuhkan kecintaan di hati seluruh kaum Muslimin terhadap masjid, terutama kepada tiga masjid, yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

5. Mempersiapkan segala kemampuan.

Termasuk kemampuan fisik, mental maupun spiritual.

6. Mempelajari kekuatan musuh.

Shalahuddin mempelajari dengan seksama kekuatan musuh-musuh Allah yang memerangi umat Islam. Sehingga diperoleh cara-cara menghadapinya.

7. Menanamkan rasa optimisme .

Shalahuddin senantiasa menanamkan rasa optimisme, percaya diri, dan gairah perjuangan kepada umat Islam bahwasanya Al-Aqsha pasti akan bisa dibebaskan apabila mereka punya komitmen kepada syariat Islam.

Bagi Shalahuddin, membebaskan Masjidil Aqsha adalah perkara besar yang tidak akan mampu ditanggung oleh gunung-gunung sekalipun. Kehilangan Masjidil Aqsha bagi Shalahuddin laksana seorang Ibu yang kehilangan anak kandungnya, sehingga ia berkeliling sendiri mencari anaknya.

Maka beliau terus berkeliling walaupun sendiri, menyeru kepada segenap Kaum Muslimin, memotivasi mereka untuk berjihad merebut kembali Masjidil Aqsha.

8. Mempersiapkan kader.

Shalahuddin sangat memperhatikan bagaimana upaya mempersiapkan kader-kader terbaiknya secara berkesinambungan. Beliau mempersiapkan generasi mudanya, bahkan anak-anak di pengungsian pun ia kader untuk berjihad membebaskan Al-Aqsha dengan memberikan tempat tinggal yang layak dan pengajaran materi-materi tentang Masjidil Aqsha.

9. Bergerak Sistematis.

Shalahuddin secara sistematis, berangsur-angsur dan bertahap menggerakkan dan mengerahkan bala pasukannya untuk masuk ke Yerusalem melalui segala penjuru.

Pasukan Shalahuddin bergerak menuju Al-Quds melalui jalur barat, kemudian seluruh pasukannya mengepung Al-Quds. Pengepungan ini berlangsung selama 12 hari sehingga pasukan Shalahuddin dapat melubangi benteng Al-Quds di sisi timur laut.

Begitulah, kunci-kunci sukses Shalahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Masjidil Aqsha, Yerusalem dan Palestina, serta kawasan Syam, yang dapat dicontoh, diikuti dan diteruskan oleh kita generasi berikutnya. Aamiin. (A/RS2/P1)

Sumber : Masjidil Aqsha Tanggung Jawab Seluruh Umat Islam. Penulis: Imaam Yakhsyallah Mansur dan Ali Farkhan Tsani. Penerbit: AWG, Maret 2022.

Mi’raj News Agency (MINA)

 

=====
Ingin mendapatkan update berita pilihan dan info khusus terkait dengan Palestina dan Dunia Islam setiap hari dari Minanews.net. Yuks bergabung di Grup Telegram "Official Broadcast MINA", caranya klik link https://t.me/kbminaofficial, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.