95 Persen Alat Kesehatan dan Bahan Obat Indonesia Masih Impor

Jakarta, MINA – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan bahwa saat ini 90-95 persen alat kesehatan dan obat nasional masih menggunakan bahan baku impor.

Menurutnya, kebutuhan impor secara bertahap harus diturunkan dengan membangun kemandirian Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). Kemandirian obat nasional dapat dibangun dengan mengembangkan dan memanfaatkan biodiversitas yang dimiliki Indonesia, sehingga mengurangi ketergantungan pasokan bahan baku impor.

“Mungkin tidak perlu berpikir dulu mengenai ekspor obat atau bagaimana Indonesia bisa menguasai katakanlah pasar obat di ASEAN. Tapi menguasai pasar obat dalam negeri dan bisa mengurangi angka signifikan dari 90 ke 70 persen saja sudah prestasi luar biasa. Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri,” ujarnya saat membuka forum diskusi di fakultas kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Salemba, Jakarta, Rabu (26/2).

Ia menegaskan dalam upaya meningkatkan inovasi mesti terjalin sinergi yang positif dengan mempertemukan pelaku kemitraan (triple helix) yang mencakup akademisi, pelaku bisnis, dan pemerintah. Beliau membuat alur strategi meliputi kebutuhan strategis dunia usaha melalui penelitian dari lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK) dan perguruan tinggi.

“Dalam sinergi tersebut masih sering ditemui kendala keterlambatan pertumbuhan industri, khususnya industri alat kesehatan dan obat di Indonesia. Oleh karena itu Forum Discussion Group (FGD) ini diselenggarakan untuk mempertemukan triple helix membangun komunikasi serta saling bertukar informasi demi mendorong peningkatan kapasitas inovasi nasional,” jelasnya.

Untuk meningkatkan pemanfaatan hasil inovasi khususnya dibidang kesehatan dan obat, pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) mengeluarkan instrumen kebijakan dengan progam pendanaan komersialisasi produk inovasi sampai tahap uji klinis dan mendorong peningkatan dukungan dalam bentuk program dan anggaran kepada para komunitas penelitian dan pengembangan yang memiliki produk inovasi. (R/R5/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)