RIAL, mata uang resmi Iran, kembali mengalami pelemahan tajam. Pada 3 Oktober 2026, dolar AS diperdagangkan sekitar 2,688 juta rial di pasar bebas, naik dari sekitar 2,632 juta rial sehari sebelumnya.
Rial bahkan disebut telah kehilangan lebih dari separuh nilainya dalam setahun terakhir. Di saat yang sama, inflasi Iran dilaporkan telah berada di atas 70 persen.
Pemerintah Iran merespons tekanan tersebut dengan mengumumkan penjualan valuta asing hingga 2 miliar dolar AS (Rp35,7 triliun) melalui bank-bank negara untuk mendukung rial.
Pertanyaannya, bagaimana kondisi tersebut bagi warga negara Indonesia yang sedang berada di Iran?
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Bukan hanya soal kurs
Sekilas, pelemahan rial tampak menguntungkan orang yang membawa rupiah atau dolar. Logikanya sederhana. Jika mata uang lokal melemah, maka uang asing secara nominal dapat ditukar dengan lebih banyak uang lokal.
Sebagai gambaran kasar, dengan kurs pasar bebas sekitar 2,688 juta rial per dolar dan JISDOR Bank Indonesia sebesar Rp17.898 per dolar pada 2 Oktober 2026, maka secara perhitungan silang:
US$1 ≈ Rp17.898 ≈ 2,688 juta rial. Dengan demikian, secara indikatif: 1 juta rial ≈ Rp6.660.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Tetapi angka tersebut jangan dipahami sebagai kurs penukaran retail yang pasti diterima seseorang di Iran. Sistem valuta asing Iran memiliki kondisi pasar dan keterbatasan tersendiri.
Bank Indonesia sendiri mencatat JISDOR sebesar Rp17.898 per dolar pada 2 Oktober 2026.
Yang lebih penting, kurs bukan satu-satunya penentu murah atau mahalnya hidup. Sebab ada satu kata yang harus diperhatikan: inflasi.
Rial melemah, harga pun bergerak
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Bayangkan seorang mahasiswa Indonesia menerima kiriman dana dari keluarganya di Indonesia. Ketika rial melemah, secara matematis uang rupiah yang dikonversikan ke rial dapat memperoleh jumlah rial lebih banyak.
Namun, apabila harga makanan, sewa tempat tinggal, transportasi, buku, obat-obatan dan kebutuhan sehari-hari juga meningkat, keuntungan dari pelemahan rial itu bisa berkurang.
Inilah paradoks yang sering luput ketika orang hanya melihat angka kurs. Mata uang lokal yang melemah tidak selalu berarti kehidupan menjadi lebih murah.
Inflasi Iran telah berada di atas 70 persen dan tekanan ekonomi jelas membuat sebagian masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar maupun membayar sewa. Banyak warga Iran juga berusaha melindungi tabungan dengan membeli dolar, mata uang kuat lainnya atau emas.
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
Jadi, bagi WNI di Iran, pertanyaan yang tepat bukan sekadar: “Berapa nilai rupiah terhadap rial?” Melainkan: “Berapa biaya hidup saya setelah memperhitungkan perubahan kurs dan kenaikan harga?”
Dan, Kelompok yang cukup menarik diperhatikan adalah mahasiswa Indonesia.
Pada Maret 2026, pemerintah Indonesia menyebut terdapat 329 WNI yang tercatat berada di Iran, dengan mayoritas berstatus pelajar/mahasiswa, terutama di Kota Qom. Selain itu terdapat pekerja migran Indonesia dan ekspatriat.
Bagi mahasiswa yang memperoleh biaya hidup dari keluarga di Indonesia, melemahnya rial secara teori dapat membuat nilai rupiah lebih besar ketika dikonversikan ke rial. Misalnya, jika seseorang menerima sejumlah rupiah dan kemudian menukarkannya ke dolar atau mata uang lain sebelum memperoleh rial, jumlah rial yang diterima dapat meningkat ketika rial mengalami depresiasi.
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
Tetapi mahasiswa tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa kondisi tersebut merupakan keuntungan besar. Sebab, jika harga kebutuhan pokok dan sewa meningkat lebih cepat daripada keuntungan kurs, daya beli riil tetap dapat tertekan.
Karena itu, mahasiswa sebaiknya membuat anggaran berdasarkan harga barang, bukan hanya berdasarkan kurs. Mulai dari mencatat biaya makan mingguan, sewa, transportasi, biaya pendidikan dan kebutuhan komunikasi.
Kemudian bandingkan dengan nilai rupiah yang harus dikeluarkan keluarga setiap bulan. Dengan cara itu, terlihat apakah pelemahan rial benar-benar memberi ruang finansial atau hanya terlihat menguntungkan di atas kertas.
Bagaimana dengan pekerja Indonesia?
Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak
Situasinya berbeda bagi WNI yang bekerja di Iran dan menerima penghasilan dalam rial.
Bila seseorang mendapatkan gaji dalam rial, sementara kebutuhan atau kewajiban finansialnya di Indonesia harus dibayar dalam rupiah atau dolar, pelemahan rial justru dapat menjadi tekanan.
Contohnya sederhana. Seseorang mungkin menerima gaji yang nominalnya tetap dalam rial. Tetapi ketika rial kehilangan nilai terhadap mata uang asing, nilai gaji tersebut ketika dikonversikan ke rupiah menjadi lebih kecil.
Artinya, pekerja yang penghasilannya dalam rial dan memiliki kebutuhan dalam valuta asing menghadapi risiko kurs lebih besar.
Baca Juga: Nahkoda Baru PBNU: Akankah Gus Kikin dan Cak Imin Bersatu?
Sebaliknya, pekerja yang memperoleh penghasilan dalam dolar atau mata uang kuat dan membelanjakannya di Iran memiliki posisi yang berbeda.
Di sinilah pentingnya membedakan antara sumber pendapatan dan mata uang pengeluaran.
Wisatawan juga perlu berhitung
Bagi wisatawan Indonesia, rial yang melemah dapat membuat sejumlah pengeluaran lokal terlihat lebih murah jika dihitung dalam rupiah atau dolar.
Baca Juga: Pakta Mekkah Langkah Awal Menuju Kemandirian Pertahanan Timur Tengah
Tetapi wisatawan juga menghadapi persoalan lain. Perjalanan internasional bukan hanya soal harga makanan atau transportasi. Ada biaya tiket pesawat, penginapan, perjalanan antarkota, komunikasi, kebutuhan darurat dan kemungkinan perubahan harga selama perjalanan.
Dalam situasi ekonomi yang bergerak cepat, wisatawan sebaiknya tidak membuat anggaran terlalu mepet.
Terlebih lagi, situasi Iran pada 2026 bukan hanya menghadirkan persoalan ekonomi, tetapi juga perkembangan keamanan regional. Kementerian Luar Negeri RI melalui Safe Travel mengimbau WNI di kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan, memantau situasi keamanan dan mematuhi arahan otoritas setempat.
Dengan demikian, keamanan dan akses pembayaran harus menjadi bagian dari perencanaan perjalanan, bukan sekadar persoalan kurs.
Baca Juga: Dunia Merindukan Kepemimpinan Muhammad SAW
Jadi memang ada semacam jebakan psikologis ketika melihat mata uang sebuah negara mengalami depresiasi.
Orang bisa berkata: “Wah, satu juta rial cuma sekitar enam ribu rupiah. Berarti murah sekali!” Padahal belum tentu. Angka nominal yang besar tidak otomatis menunjukkan daya beli yang besar.
Satu juta rial mungkin terdengar banyak, tetapi jika harga barang juga naik, jumlah tersebut belum tentu mampu membeli banyak kebutuhan. Ini penting dipahami pembaca Indonesia yang mungkin belum terbiasa dengan sistem angka di Iran.
Selain rial, masyarakat Iran juga lazim menggunakan istilah toman dalam transaksi sehari-hari. Secara sederhana: 1 toman = 10 rial.
Baca Juga: Ketika Hijrah Rasulullah SAW Menjadi Inspirasi Muslim Amerika
Karena itu, orang yang baru datang ke Iran harus berhati-hati membaca harga agar tidak salah memahami nominal.
Apa yang sebaiknya dilakukan WNI?
Dalam situasi mata uang yang sangat bergejolak, langkah pertama adalah jangan hanya memantau kurs. Pantau juga harga kebutuhan sehari-hari.
Kedua, bagi mahasiswa dan pekerja, sebaiknya memiliki cadangan dana darurat yang cukup untuk menghadapi perubahan harga atau gangguan pembayaran.
Ketiga, jangan mengandalkan satu sumber informasi mengenai kurs. Pasar valuta Iran memiliki kondisi khusus, sehingga kurs yang ditemukan di internet belum tentu sama dengan kurs yang benar-benar dapat diperoleh seseorang ketika melakukan transaksi.
Keempat, untuk perjalanan ke Iran, pastikan sejak awal bagaimana kebutuhan pembayaran akan dipenuhi. Jangan berangkat dengan asumsi bahwa semua kartu, layanan perbankan atau metode pembayaran internasional dapat digunakan seperti di Indonesia.
Kelima, WNI yang berada di Iran perlu memastikan dirinya tercatat pada perwakilan RI dan mengetahui jalur komunikasi KBRI Tehran.
Portal Peduli WNI Kemlu menyediakan informasi pelayanan KBRI Tehran, sementara Safe Travel Kemlu juga memuat imbauan keamanan dan kanal bantuan bagi WNI.
Dalam kondisi normal, langkah tersebut penting. Dalam kondisi ekonomi dan keamanan yang bergejolak, menjadi jauh lebih penting.
Apakah rial masih bisa jatuh?
Ini pertanyaan yang tentu sulit dijawab secara pasti. Yang jelas, tekanan terhadap rial belum dapat dianggap selesai.
Pada 3 Oktober, bank-bank negara Iran mengumumkan penjualan hingga US$2 miliar untuk menopang mata uang tersebut. Namun pada hari yang sama, rial tetap berada pada titik yang sangat lemah di pasar bebas.
Ada pula perbedaan pandangan mengenai penyebab pelemahan.
Pejabat Iran menyebut tekanan terhadap rial antara lain dipengaruhi ekspektasi negatif dan tekanan eksternal. Di sisi lain, fakta yang terlihat di pasar adalah kombinasi persoalan ekonomi, inflasi tinggi, keterbatasan valuta asing dan tekanan akibat sanksi serta kondisi geopolitik.
Karena itu, intervensi pemerintah dapat memberi ruang bernapas, tetapi belum tentu langsung menyelesaikan persoalan struktural.
Pelajaran bagi Indonesia
Gejolak rial memberikan pelajaran yang lebih luas. Nilai tukar bukan sekadar angka di layar. Di balik angka tersebut ada harga beras, biaya sewa rumah, ongkos transportasi, biaya kuliah, gaji pekerja dan tabungan keluarga.
Bagi WNI yang berada di Iran, pelemahan rial dapat memberikan keuntungan nominal bagi mereka yang sumber dananya berasal dari rupiah atau valuta asing.
Namun keuntungan tersebut tidak otomatis menjadi keuntungan riil, karena harus berhadapan dengan inflasi dan kenaikan biaya hidup.
Sebaliknya, WNI yang menerima penghasilan dalam rial tetapi memiliki kebutuhan dalam rupiah atau dolar dapat menghadapi tekanan lebih besar.
Pada akhirnya, bagi WNI yang berada di Iran, yang paling penting bukan mengejar keuntungan dari jatuhnya sebuah mata uang, melainkan menjaga daya beli, menyiapkan dana cadangan, memahami mekanisme pembayaran, memantau harga lokal, dan mengikuti informasi resmi dari perwakilan RI.
Sebab di tengah badai ekonomi, yang paling berharga bukan sekadar banyaknya angka dalam dompet.
Tetapi kemampuan untuk tetap memenuhi kebutuhan ketika nilai angka-angka itu berubah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic