Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pesan Politik di Balik Pengiriman Jet Temput Aljazair Ke Niger

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 14 jam yang lalu

14 jam yang lalu

13 Views ㅤ

Pesawat jet tempur Aljazair. (Tadamsanews)

SELAMA puluhan tahun, Aljazair dikenal sebagai salah satu negara Afrika yang sangat kuat memegang prinsip non-intervensi. Militernya dibangun terutama untuk mempertahankan wilayah nasional, bukan untuk melakukan proyeksi kekuatan jauh ke luar perbatasan.

Namun, pada 30 Agustus 2026, empat jet tempur Sukhoi Su-30 Aljazair mendarat di Niamey, ibu kota Niger.

Pesawat-pesawat tempur itu didampingi pesawat pengisi bahan bakar di udara. Kementerian Pertahanan Aljazair menyebut pengerahan tersebut dilakukan atas permintaan pemerintah Niger, setelah terjadi upaya destabilisasi di ibu kota negara Sahel itu.

Bagi sebagian negara, mengirim beberapa jet tempur ke negara tetangga mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi bagi Aljazair, ini lain cerita. Sebab, pesawat-pesawat itu melintasi wilayah nasional dan memasuki negara lain.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Maka muncul pertanyaan besar: apakah Aljazair sedang mengubah doktrin militernya?

Empat Sukhoi dan Pesan Politik

Pada malam 28–29 Agustus, terjadi pemberontakan atau upaya kudeta di Niamey. Sejumlah personel militer menyerang lokasi-lokasi strategis, termasuk kawasan kepresidenan dan Pangkalan Udara 101.

Pasukan keamanan Niger kemudian berhasil mengendalikan situasi. Pemerintah Niger menyatakan keadaan telah kembali terkendali. Dalam proses tersebut, pasukan Rusia dari Africa Corps juga dilaporkan memberikan dukungan kepada pemerintah Niger.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem

Sehari setelah situasi mulai dikendalikan, Aljazair bergerak.

Kementerian Pertahanan Aljazair mengumumkan pengerahan dua patroli yang terdiri atas empat Sukhoi Su-30 ke Niamey, disertai pesawat pengisian bahan bakar. Pemerintah Aljazair mengatakan pengerahan itu merupakan misi untuk membantu tentara Niger menghadapi upaya destabilisasi negara tersebut.

Secara militer, kehadiran empat pesawat itu mungkin tidak menentukan jalannya pertempuran. Bahkan, pemberontakan telah berhasil diredam sebelum pesawat-pesawat Aljazair tiba.

Tetapi secara politik, pesannya sangat kuat.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Aljazair ingin menunjukkan bahwa stabilitas Niger adalah bagian dari kepentingan keamanannya.

Dan Aljazair bersedia menggunakan kekuatan militernya untuk menunjukkan pesan tersebut.

Mengapa ini dianggap sebagai perubahan?

Sejumlah pengamat melihat pengerahan itu sebagai titik balik. IRIS, Lembaga Kajian Hubungan Internasional Prancis, menyebut pengerahan empat jet tempur Aljazair ke Niger sebagai dukungan militer terbuka pertama Aljazair di luar negeri sejak kemerdekaannya dan sebagai perubahan dari doktrin non-intervensi yang telah lama dianut.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

TV5MONDE juga menilai pengerahan tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi dalam bentuk seperti itu sejak kemerdekaan Aljazair. Pengamat pertahanan Slimane Zeghidour menyebutnya sebagai kemungkinan titik balik doktrin keamanan nasional Aljazair, terutama jika pola tersebut terus berlanjut.

Media Prancis Le Monde bahkan menulis bahwa Aljazair memasuki era baru intervensi militer terbuka di luar wilayahnya.

Apakah ini benar-benar perubahan doktrin, atau baru perubahan cara Aljazair menerapkan doktrinnya?

Perbedaannya penting. Konstitusi 2020 sebenarnya sudah membuka pintu. Aljazair bukan tiba-tiba mengubah konstitusinya setelah peristiwa Niger.

Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun

Konstitusi 2020 sudah memberikan ruang kepada Presiden untuk memutuskan pengiriman satuan militer Aljazair ke luar negeri, tetapi dengan syarat mendapat persetujuan dua pertiga dari masing-masing kamar parlemen.

Artinya, secara hukum, gagasan mengenai pengerahan militer ke luar negeri sebenarnya sudah tidak sepenuhnya tabu.

Yang baru adalah penggunaan kekuatan tersebut secara terbuka dan bilateral di Niger. Inilah yang membuat peristiwa tersebut penting.

Sebab, selama ini Aljazair lebih dikenal sebagai negara yang menggunakan diplomasi, mediasi dan pengaruh politik dalam menghadapi persoalan keamanan di kawasan Sahel. Kini, pesawat tempurnya ikut hadir.

Baca Juga: Marinir AS Ditangkap, Kemarahan Jepang Kembali Membara di Okinawa

Mengapa Niger begitu penting bagi Aljazair?

Jawabannya sederhana: geografi. Aljazair memiliki wilayah sangat luas di Sahara dan berbatasan dengan kawasan Sahel yang selama bertahun-tahun mengalami konflik, kudeta, terorisme dan perubahan aliansi geopolitik.

Aljazair dan Niger memiliki perbatasan darat sekitar 1.000 kilometer. Sementara secara keseluruhan, Aljazair memiliki sekitar 2.500 kilometer perbatasan dengan kawasan Sahel. Ketidakstabilan di wilayah tersebut karena itu bukan persoalan yang terlalu jauh bagi Aljir.

Jika Niger tidak stabil, dampaknya dapat merembet ke: keamanan perbatasan Aljazair, aktivitas kelompok bersenjata, penyelundupan, migrasi, perdagangan lintas Sahara, serta proyek-proyek ekonomi dan energi.

Baca Juga: AS Tempatkan Rudal Anti-Kapal di Pulau Yonaguni, Jepang, Titik Terdekat Taiwan

Dengan kata lain, bagi Aljazair, Sahel adalah halaman belakang keamanan nasionalnya.

Dari Prancis dan Amerika ke Rusia

Ada perubahan besar lain yang sedang berlangsung di Sahel.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh Prancis dan Amerika Serikat di kawasan tersebut mengalami kemunduran. Pasukan Barat meninggalkan sejumlah pangkalan yang sebelumnya menjadi bagian penting dari arsitektur keamanan kawasan.

Baca Juga: PM Al-Zaidi: Lima Faksi Bersenjata Irak Sepakat Serahkan Senjata, Batas Waktu 30 Juni 2027

Sebaliknya, Rusia semakin hadir melalui Africa Corps.

Niger, Mali dan Burkina Faso membentuk Alliance of Sahel States (AES), dengan orientasi yang lebih independen dari negara-negara Barat. Perubahan tersebut menciptakan peta geopolitik baru di Afrika Barat.

Dalam situasi seperti itu, Aljazair menghadapi pertanyaan strategis: Apakah kawasan Sahel akan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar, sementara Aljazair yang berbatasan langsung hanya menjadi penonton?

Tampaknya Aljir tidak ingin mengambil posisi tersebut.

Baca Juga: 68.000 Aksi Pro-Palestina Digelar di Eropa Selama Tiga Tahun

Pengerahan jet tempur ke Niamey bisa dibaca sebagai pesan bahwa Aljazair ingin tetap menjadi aktor penting dalam menentukan masa depan keamanan kawasan.

Namun, ini bukan berarti Aljazair otomatis menjadi sekutu Rusia.

Justru di sinilah politik luar negeri Aljazair menarik. Negara tersebut mempunyai hubungan pertahanan yang lama dengan Rusia, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki hubungan dengan negara-negara Eropa dan berbagai kekuatan lainnya.

Aljazair tampaknya berusaha mempertahankan ruang strategisnya sendiri.

Baca Juga: Aljazair Kirim Jet Tempur ke Niger untuk Dukung Otoritas

Bukan hanya soal kudeta. Ada lapisan lain yang sering luput dari perhatian: kepentingan ekonomi dan energi.

Niger mempunyai posisi strategis dalam rencana pengembangan jalur energi Afrika menuju Eropa, termasuk gagasan Trans-Saharan Gas Pipeline, yang menghubungkan Nigeria dengan Aljazair melalui Niger.

Karena itu, stabilitas Niger bukan hanya persoalan politik dan militer. Ia juga berkaitan dengan konektivitas ekonomi Afrika dan kepentingan energi Eropa.

Ketidakstabilan berkepanjangan di Niger tentu dapat menghambat berbagai proyek lintas negara.

Maka, ketika Aljazair berbicara mengenai stabilitas Niger, kepentingannya tidak hanya berhenti pada keamanan. Ada geopolitik, ekonomi dan energi di belakangnya.

Aljazair juga sedang mengembalikan pengaruhnya. Hubungan Aljazair dengan negara-negara Sahel sebelumnya tidak selalu mulus.

Hubungan dengan Mali memburuk setelah ketegangan mengenai konflik di wilayah utara Mali dan perkembangan politik pascakudeta. Bahkan hubungan dengan Niger sempat mengalami ketegangan.

Namun, dalam perkembangan terbaru, hubungan Aljazair–Niger kembali menghangat.

Perdana Menteri Niger Ali Mahamane Lamine Zeine berkunjung ke Aljazair pada akhir Agustus, hanya beberapa hari sebelum krisis di Niamey. Pertemuan tersebut membahas peningkatan kerja sama antara kedua negara.

Maka pengerahan jet tempur tersebut tidak muncul dari ruang kosong. Ada proses pendekatan diplomatik yang sudah berlangsung sebelumnya.

Bahkan, sebelumnya, pada 9 Agustus, Aljazair telah mengirim empat helikopter militer ke Niger sebagai bantuan kepada angkatan bersenjata Niger.

Jika dibaca sebagai satu rangkaian, terlihat adanya peningkatan kerja sama. Mulai dari diplomasi, lalu bantuan militer, kemudian pengiriman helicopter, dan pengerahan jet tempur.

Inilah yang membuat perkembangan tersebut layak diamati.

Apakah Aljazair sedang Menjadi Kekuatan Militer Regional?

Aljazair memang mempunyai salah satu kekuatan militer terbesar dan paling lengkap di Afrika.

Tetapi kekuatan militer tidak selalu berarti kemauan untuk menggunakannya di luar negeri.

Selama puluhan tahun, Aljazair cenderung memilih posisi berbeda.

Warisan perjuangan kemerdekaan dari Prancis sangat kuat membentuk politik luar negerinya. Aljazair memiliki pengalaman panjang sebagai negara anti-kolonial dan pendukung prinsip kedaulatan nasional.

Karena itu, ada semacam paradoks. Negara yang sangat menentang intervensi asing kini mulai menunjukkan kemampuan melakukan intervensi militer terbatas di luar wilayahnya. Namun, Aljazair tentu akan mengatakan bahwa ini bukan agresi.

Mereka datang karena diminta oleh pemerintah Niger. Dan konteksnya adalah membantu menjaga stabilitas negara tetangga.

Di sinilah batas antara “intervensi” dan “kerja sama keamanan” menjadi sangat tipis.

Ada Risiko Baru bagi Aljazair

Perubahan sikap militer tentu membawa konsekuensi. Ketika Aljazair memilih lebih aktif di Sahel, maka negara tersebut juga semakin berhadapan dengan berbagai risiko yang selama ini relatif dapat dijaga di luar wilayahnya.

Jika situasi Niger kembali memburuk, apakah Aljazair akan mengirim pesawat lagi? Jika pemerintah Niger kembali menghadapi ancaman, apakah Aljazair akan mengirim pasukan darat? Jika kelompok bersenjata menyerang kepentingan Niger yang dilindungi Aljazair, apakah Aljir akan merespons?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum memiliki jawaban. Dan justru di situlah masa depan doktrin militer Aljazair akan diuji.

Bukan Sekadar Empat Sukhoi

Empat Sukhoi Su-30 yang mendarat di Niamey mungkin secara jumlah bukan kekuatan yang besar. Tetapi sejarah sering kali dimulai dari langkah kecil.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa banyak pesawat yang dikirim, melainkan apa yang dilakukan Aljazair setelah ini.

Jika pengerahan tersebut hanya bersifat sementara untuk mendukung pemerintah Niger dalam menghadapi satu krisis, mungkin terlalu dini menyebutnya sebagai perubahan doktrin.

Tetapi jika kemudian Aljazair semakin sering mengirim aset militer, membangun fasilitas pendukung, melakukan operasi lintas batas atau mengambil peran keamanan yang lebih permanen di Sahel, maka kita mungkin sedang menyaksikan perubahan yang jauh lebih besar.

Dari negara yang selama ini lebih banyak menjaga perbatasannya, menjadi negara yang mulai memproyeksikan kekuatan di luar perbatasan.

Dari Sahara, Aljazair sedang Membaca Masa Depan Afrika

Perubahan geopolitik Afrika tidak lagi sederhana. Prancis masih memiliki kepentingan. Amerika Serikat tetap memperhatikan kawasan. Rusia memperluas pengaruh. China memperkuat investasi. Turkiye juga semakin aktif. Negara-negara Teluk ikut memainkan peran.

Sementara negara-negara Afrika sendiri semakin menuntut ruang strategis yang lebih besar.

Dalam peta seperti itu, Aljazair memiliki posisi yang unik. Aljazair adalah negara Afrika, negara Arab, negara Mediterania, negara Sahara sekaligus pintu menuju Sahel. Karena itu, apa yang terjadi di Niger bukan hanya persoalan Niger.

Bagi Aljazair, persoalannya adalah: siapa yang akan menentukan masa depan kawasan yang berada tepat di selatan perbatasannya?

Dan ketika empat Sukhoi Su-30 mendarat di Niamey, Aljazair tampaknya sedang memberikan satu jawaban: Aljazair tidak ingin hanya melihat dari kejauhan.

Apakah itu benar-benar perubahan doktrin militer? Belum tentu.

Tetapi jelas ada sesuatu yang berubah dalam cara Aljazair menggunakan kekuatan militernya untuk menjaga kepentingan strategis di kawasan.

Dan jika langkah itu berlanjut, empat jet tempur yang mendarat di Niamey pada Agustus 2026 mungkin kelak dikenang bukan hanya sebagai sebuah operasi militer, tetapi sebagai salah satu tanda awal babak baru geopolitik Aljazair di Afrika.

Kita tunggu perkembangan berikutnya, dengan tetap berharap langkah diplomasi sesama anak bangsa Afrika lebih dikedepankan. Dibandingkan mengedepankan pendekatan militer yang tentu akan lebih banyak dampak mudharatnya daripada manfaatnya, bagi kedua negara, tetangga, dan masyarakat global. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda