Al-Irsyad Imbau Kesatuan dan Persatuan Ummat di Tengah Pandemi Covid-19

Jakarta, MINA – Ketua Dewan Suro Al-Irsyad Al-Islamiyyah KH. Abdullah Jaidi mengimbau, masyarakat Islam Indonesia di tengah Covid-19 menjaga kesatuan dan persatuan ummat.

“Ada suatu hikmah yang terkandung di balik situasi menghadapi virus Corona, walau keadaan ini telah mengubah semua dimensi kehidupan kita. Mulai yang privat, hingga yang publik, termasuk mengubah tata cara kehidupan ibadah kita,” ucap KH. Abdullah di Jakarta, Senin (25/5).

Lanjutnya, ibadah tarawih dan shalat Ied misalnya, juga telah dipaksa dengan cara yang berbeda, yaitu dilakukan di rumah masing-masing. Namun hal ini tidak menguramgi kekhusyuan kita dalam menghambakan diri kepada Allah SWT, demikian keterangan yang diterima MINA.

KH. Abdullah selanjutnya menerangkan, kalau beberapa tahun terakhir ini, tidak ada perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan, 1 Syawal dan Dzulhijjah, hal ini lebih disebabkan keramahan posisi Hilal, bukan karena sudah ada kesepakatan bersama dalam menentukan kreteria awal bulan Hijriah.

Demikian juga penentuan awal Ramadhan tahun depan 1442 H/2021, Insya Allah diharapkan tidak ada perbedahaan, baik dengan metode rukyatul Hilal, hisab imkanur Rukyah, maupun hisab hakiki wujudul hilal.

Karena itu Dewan Syuro Al-Irsyad Al-Islamiyyah menghimbau kepada Departemen Agama RI, bersama MUI, dan ormas-ormas Islam, untuk duduk bersama memusyawarahkan upaya penyatuan perbedaan pandangan, dalam menentukan kriteria bersama untuk menentukan awal bulan hijriah.

“Kami menyadari tidak mudah upaya mencari titik temu pendapat fikih antara pengguna system hisab dan rukyat, untuk bisa memformulasikan suatu kreteria bersama. Tentu ini harus dilakukan bil hikmati dan dilakukan secara terus menerus,” papar KH. Abdullah.

Tentu tidak diharapkan ada suatu tekanan dan pemaksaan. Kalau memang kriteria bersama belum tercapai, ini kita nilai sebagai suatu dinamika yang dapat memberi edukasi kepada ummat, untuk dapat menerima dan menghargai perbedaan.

“Hakikat yang menjadi prioritas kita dalam menghadapi perbedaan dalam menentukan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 10 Dzulhijjah bukan semata tertuju adanya perbedaan antara Muhammadiyah dan NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan, masing-masing mempunyai landasan syar’i yang kuat,” jelasnya.

Yang harus menjadi perhatian utama dari Kementerian Agama RI untuk lebih segera diselesaikan adalah kelompok-kelompok kecil yang dalam menentukan awal Ramadhan dan Syawal, dengan melihat fenomena pasang surut air laut, perhitungan Jawa yang dikenal dengan istilah “hisab aboge” yang merupakan interelasi agama Islam dengan budaya Jawa.

“Semoga Allah mewujudkan semua harapan kita dalam menyatukan syiar Islam bersama,” harapnya. (R/R8/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)