Al-Quran Sebagai Penyembuh

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Direktur Islamic Center DTI Foundation, Redaktur Senior MINA

Allah menurunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang menjadi obat penawar atau penyembuh bagi hati dari penyakit kebodohan, kekafiran, kemunafikan dan keraguan.

Al-Quran Juga dapat menjadi obat bagi badan bila, melalui ruqyah (pengobatan) mandiri dengannya.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢

Artinya: “Dan Kami turunkan dari al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (QS Al-Isra/17 : 82).

Berkaitan dengan ayat ini, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir dari Suriah menjelaskan, Al-Quran itu mengandung penyembuh dan rahmat. Akan tetapi, kandungan itu bukan untuk setiap orang. Itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang beriman yang membenarkan ayat-ayatNya lagi mengetahuinya.

Adapun bagi orang-orang dzalim yang tidak membenarkan atau tidak mau mengamalkannya, maka ayat-ayat itu tidak menambah kepada mereka kecuali kerugian belaka. Hal ini karena hujjah telah tegak atas mereka.

Penyembuhan yang disebutkan dalam Al-Quran itu bersifat umum untuk menyembuhkan hati dari syubhat dan kebodohan, pemikiran rusak, dan penyimpangan yang buruk, serta niat yang busuk.

Al-Quran juga mencakup ilmu yakin yang mengakibatkan syubhat dan kebodohan lenyap, serta mengandung nasihat dan peringatan yang dapat melenyapkan setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah.

Selain itu, Al-Quran juga untuk menyembuhkan tubuh dari rasa sakit dan gangguan-gangguannya.

Adapun rahmat, maka sesungguhnya muatan al-Quran itu bersisi sebab-sebab dan sarana-sarana yang dianjurkan bagi seorang hamba untuk melakukannya. Kapan saja dia menjalankannya, maka akan memperoleh kemenangan berupa rahmat, kebahagiaan yang abadi dan pahala yang akan disegerakan ataupun ditangguhkan pembalasannya.

Al-Quran sebagai obat, misalnya dengan meniupkan ke kedua telapak tangan setelah membaca surat Al-Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas). Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali, menjelang tidur.

Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah, isteri Nabi.

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya: Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam ketika berada di tempat tidur pada setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR Bukhari).

Dengan membaca Al Qur’an dan mengusapkannya ke seluruh tubuh, insya-Allah dapat menjaga diri dari godaan syaitan dan dari penyakit.

Tentang pengobatan dengan bacaan Al-Quran, juga pernah dilakukan oleh sahabat Nabi. Ini seperti disebutkan dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah berada dalam safar (perjalanan), lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu.

Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah (melakukan pengobatan dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an), karena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.”

Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.”

Lalu seorang sahabat pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al-Fatihah.

Akhirnya, pembesar tersebut sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing. Namun ia masih enggan menerimanya. Ia mau menerima, tapi akan disampaikan dulu kepada Nabi.

Lalu ia mendatangi Nabi  dan menceritakan kisahnya tadi pada Nabi.

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lantas tersenyum dan berkata, Bagaimana engkau bisa tahu AlFatihah adalah ruqyah (untuk penyembuh)? Nabi pun bersabda, Ambil kambing itu dari mereka, dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian. (HR Bukhari dan Muslim).

Semoga ini semakin meyakini akan keutamaan Al-Quran, serta kita dapat rutin membacanya, memahami isinya dan mengamalkannya. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)